Oleh: Syamsudin Kadir
Departemen Pendidikan Karakter Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Pusat
DI ujung malam negeri ini berbisik pelan, bahwa kemewahan sering menjadi pintu kehancuran. Al-Qur’an sudah mengisyaratkan bahkan memperingatkan, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).” (QS. al-Isra’: 16)
Kisah Fir’aun, Namrud dan Haman terulang bukan dalam kitab, tapi di brankas, di tambang, di ladang, dan di ruang ujian atau di perguruan tinggi. Mereka yang hidup mewah memerintahkan, lalu serakah dan durhaka. Tiap negeri menunggu giliran, mungkin menunggu hukuman yang tertunda. Gempa bumi, gunung meletus, dan banjir bandang. Karena ketika para pemimpin dan orang kaya berkhianat, mereka juga yang akan merasakan balasan dan menanggung ongkosnya.
Sejarah tak pernah kehabisan nama, hanya mengganti wajah dan fenomena. Tujuh koper dibuka di Sentul, tujuh bisu yang berteriak. Di dalamnya 74,01 kilogram emas batangan kadar 23 karat bersama ratusan miliar rupiah berbagai mata uang. Polri dan PT Pegadaian memastikan: emas itu asli. Uang rupiah asli menurut BI, dolar AS asli menurut FBI. Yang palsu justru kabar yang beredar di media sosial.
Namun sebelum kebenaran keluar, desas-desus sudah lebih dulu lari. “Emas palsu,” kata sebagian orang. “Uang brankas palsu,” bisik kelompok yang lain. Padahal laboratorium bicara sebaliknya. Di sinilah munculnya luka: kepercayaan publik lebih cepat retak daripada emas. Dan ketika fakta datang terlambat, prasangka sudah jadi keyakinan dan menyebar ke mana-mana.
Bukan hanya emas. Di gudang pelabuhan disita 351 kontainer batu bara. Modusnya: membeli dari tambang ilegal, lalu memalsukan dokumen IUP. Kerugian negara ditaksir Rp5,7 triliun. Bareskrim menjerat dengan UU Minerba dan TPPU. Kawasan hijau IKN pun tak luput dari kerakusan. Dokumen terbang, alam yang diam. Kelak ada juga hutan yang dibakar demi perut, keluarga dan kroni. Ini sangat zalim, ini keserakahan yang tak boleh dimaafkan.
Timah pun menangis. Kasus tata niaga PT Timah 2015-2022
menjadi alasan pemerintah memperluas SIMBARA ke nikel dan timah. Menteri ESDM menyebut SIMBARA untuk menutup kebocoran dan menelusuri asal barang. Kejagung mencatat kerugian Rp271 triliun dalam perkara ini. Deolipa menyebut ribuan hektar WPR belum menyentuh batu bara dan nikel. Akibatnya tambang liar tumbuh seperti jamur di Kalimantan.
Nikel, sawit, batu bara tidak hanya ditambang, juga “dibeli” dengan kredit. LPEI menyalurkan pinjaman bermasalah Rp2,5 triliun kepada empat debitur. Sektor yang terlibat: kelapa sawit, batu bara, nikel, perkapalan. Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto menilai ini melukai kredibilitas ekspor. “Bisnis ini dikuasai pengusaha kelas kakap dekat penguasa,” katanya. Tata kelola longgar, manusia yang menyeleweng.
Uang pun dipalsukan. Bareskrim memusnahkan 466.535 lembar rupiah palsu hasil temuan 2017 hingga November 2025. Di Bekasi, 8 orang mencetak 12.000 lembar pecahan Rp100 ribu sekali jalan. Di Tangsel, polisi membongkar 360.000 lembar senilai Rp36 miliar. BI menyebut rasio temuan turun jadi 1 ppm per April 2026. Namun satu lembar palsu saja cukup merusak kepercayaan pada rupiah.
Lalu giliran ijazah. Dokumen yang seharusnya jujur, justru diperoleh dengan jalur ilegal. Produknya pun palsu. Gelar profesor dan jabatan mentereng diperoleh dengan cara menipu akal sehat publik. Kemendikbud meluncurkan SIVIL dan PIN untuk verifikasi elektronik. Guru Besar Kriminologi UI Adrianus Eliasta Meliala mengingatkan: “Pemalsuan ijazah bukan hanya administratif, tapi kejahatan sistemik”. Dr. Abdul Madjid dari UB menyebutnya kejahatan intelektual dengan sanksi berat. BPS 2023 mencatat peningkatan 18 kasus dibanding tahun sebelumnya.
Ironinya begini: emas diuji di laboratorium, uang dicek BI dan FBI, batubara dilacak SIMBARA, ijazah bisa dicek di ijazah.kemdikbud.go.id. Semua punya alat ukur. Kecuali nurani. Ketika alat ukur bekerja, manusia justru menolak angkanya. Lalu berteriak: “Ini asli!” padahal data berkata sebaliknya. Giliran ijazah diduga palsu, justru dipidatokan sebagai ijazah asli. Profesor palsu, pejabat palsu jadi ujungnya. Semua berpesta di atas kepalsuan yang dilegalkan.
Inilah penyakit negeri yang dihuni oleh apa yang disebut al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 16 sebagai mutraf. Mengemas yang haram dengan kertas legal, mengemas yang gelap dengan cap resmi, dan mengemas yang busuk dengan narasi suci. Seperti batu bara ilegal berkemas dokumen perusahaan lain, seperti uang palsu berkemas hologram dan benang pengaman. Palsu hari ini lebih rapi dari asli kemarin. Ini benar-benar palsu, kepalsuannya dipertontonkan dengan sangat telanjang.
Maka renungan ini bukan menunjuk siapa bersalah. Ini tentang kita semua, pemimpin dan rakyat: apakah masih mau tertipu oleh kemasan? Al-Qur’an sudah memberi rumus. Para pakar sudah memberi data. Negara sudah memberi sistem cek. Tinggal kita memilih: percaya pada kebenaran atau pada bisikan kepalsuan. Karena suatu negeri tidak hancur karena emasnya palsu. Bukan karena giginya yang juga palsu. Bahkan bukan karena ibukotanya yang sepertinya juga palsu.
Tapi, karena diamnya kita ketika kebenaran digadaikan. Ketika orang kecil ditangkap karena satu lembar palsu, sementara pemain besar menutupi 351 kontainer dengan tanda tangan. Ketika ijazah rakyat jelata dicek sampai ke PIN, sementara yang duduk di singgasana tak tersentuh verifikasi. Adilkah timbangan jika pemberatnya bisa dibeli? Tentu tidak. Bahkan ini parade keserakahan yang tak kalah serakah dari para pemimpin mutraf: Fir’aun, Namrud dan Haman.
Wahai para pemimpin negeri di berbagai levelnya, ingatlah: kehancuran tidak datang tiba-tiba. Ia datang dari kebiasaan kecil berpesta bersama dan di atas panggung kepalsuan. Dari batubara yang dipoles dokumen, dari uang yang dicetak 6 kali dalam setahun dan dari ijazah yang dijual tanpa kuliah. Jika kita tidak kembali ke timbangan, maka timbanganlah yang akan menghukum kita. Dan hukuman itu tidak pernah salah alamat. Ia sangat adil, bahkan lebih adil dari arti dan makna kata adil.
Ayat suci selalu jujur memberi isyarat. Itu pun jika kita masih percaya pada teks dan kandungannya. Toh mereka yang tak yakin pun tetap mendapat hukuman nyata dalam banyak bentuk bencana. Langit tak pernah bohong ketika memberi tanda, bumi pun bicara lewat retak dan gelombang. Hal yang perlu hanyalah hati yang mau membaca, sebelum semuanya terlambat, lalu berbagai bencana itu datang bergantian untuk menghukum kita yang berhati buta dan pesta kepalsuan.
Kuncinya adalah pembenahan jiwa, dari dalam diri kita sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11). Perubahan suatu negeri tidak akan lahir dari orasi dan janji, tetapi dari pemimpin dan rakyat yang jujur memperbaiki niat, lurus dalam amal, dan tidak terjebak pada pesta kepalsuan. Saat kebohongan dipuja dan kebenaran dikorbankan, maka bencana akan terus datang agar kita berkaca dan memperbaiki diri.
Akhirnya, kita hanyalah hamba yang lemah dan sangat butuh bimbingan juga kasih sayang Allah. Mari mengikuti jejak Nabi Ibrahim yang tahu diri di hadapan Allah dan sangat tulus memohon kepada-Nya, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.” (QS. Ibrahim: 35) dan “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya.” (QS. al-Baqarah: 126). (*)






