Opini

Racun Media dan Urgensi Literasi Qur’ani

49
×

Racun Media dan Urgensi Literasi Qur’ani

Share this article
IMG 20260202 WA0028
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku Santri Negarawan

KITA sedang hidup di era media, era dimana media menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Profesi, aktivitas dan desah nafas kita menyatu lengket dengan media yang semakin menjamur. Dalam level tertentu, media bukan saja sukses menjadi pemegang dokumen informasi dan alat komunikasi, tapi juga menguasai informasi dan komunikasi yang setiap detik kita peroleh. Bahkan tak sedikit yang menjadi budak media karena memberhalakan media, terutama media sosial.

Dalam konteks tertentu, media juga telah menguasai atau paling tidak, mendominasi setiap detik kehidupan yang kita lewati. Baik dalam menjalankan profesi maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tangan, mata, dan telinga juga otak kita melekat akrab dengan berbagai macam media. Hampir tak ada detik yang berlalu tanpa mencumbui media. Jutaan informasi kita peroleh, entah kita suka atau tidak suka, butuh atau tidak butuhnya kita. Itu fakta yang tak bisa kita elakan lagi akhir-akhir ini

Racun Media dan Keberagaman Kita

Bahkan belakangan ini, terutama setelah media sosial menjamur, kecenderungan keberagamaan kita kerap bertumpu pada dua hal pokok yaitu (1) simbol dan (2) popularitas. Kita terjebak memaknai kualitas beragama, dalam hal ini Islam, pada simbol berpakaian dan tampilan fisik semata. Kita kerap tertipu pada tampilan berpakaian dan popularitas di media, lalu menepikan substansi beragama. Kita kerap merujuk pada mereka yang dikenal luas di media dengan menepikan kedalaman ilmu, kebaikan akhlak dan konsistensi perilakunya.

Kalau kita merujuk pada kerangka konsep iman atau konsep tauhid, beragama mestinya melahirkan konsekuensi etis dan keberanian moral untuk “bersih-bersih” dalam “meyakini”, “meng-ilmui” dan “meng-amali”. Alat ukuranya adalah autentiknya rujukan, meningkatnya kualitas pemahaman dan konsekuensi baiknya akhlak sekaligus amal konkret. Bukan sekadar klaim identitas atau sibuk adu narasi di media dan bukan pula dari kuantitas atau besar-kecilnya jumlah pengikut atau komunitas yang sewarna.

Baca Juga :  Islam Menjawab Fenomena Konsumerisme

Kini, tak sedikit yang terjebak dalam sebuah kerangka pijakan yang keliru dan menjadikan popularitas sebagai tolok ukur kebenaran. Rumusannya: “siapa yang paling viral atau populer di media, maka dia yang paling benar”. Secara sepintas, ini terlihat benar, tapi sejatinya racun berbahaya bagi barisan keumatan dan amal itu sendiri. Padahal media hanyalah alat bantu untuk memudahkan kita dalam memperoleh informasi dan ulasan tentang ajaran agama, bukan penentu kebenaran agama Islam dan praktik keislaman kita.

Kita tentu paham betul bahwa Islam tidak diturunkan untuk kontestasi algoritma yang kerap dijunjung dan dipuja oleh pemilik media juga pemuja mereka. Namun, tak sedikit yang terperdaya media dan ideologi “popularitas” yang menyertainya. Kita terjebak pada ideologi naif itu. Dampaknya, etika dan moral beragama kita pun semakin menepi bahkan nihil. Kita kerap menyaksikan perdebatan teologis dan fiqih di berbagai media, misalnya, tanpa kedalaman ilmu dan adab; bahkan justru menimbulkan citra buruk pada Islam dan ajarannya.

Dinamika dan perbedaan pandangan dalam memahami sekaligus mempraktikkan ajaran Islam kerap dijadikan sebagai medium saling mencurigai, bukan saling mencerahkan dan saling melengkapi. Kita begitu aktif memproduksi hal semacam itu di berbagai macam jenis dan laman media. Dampaknya, kita tidak mendapatkan hikmah Islam hingga kehilangan ketulusan dalam proses mendalaminya, karena kita sibuk saling curiga dan antipati pada yang berbeda pandangan, bahkan dengan mereka yang memiliki pandangan yang sama dengan kita.

Bila merujuk pada khazanah Islam dan warisan intelektual para ulama terdahulu, kita menemukan satu fakta bahwa menjamurnya tradisi keilmuan menjadi pemantik bagi majunya peradaban. Perbedaan pandangan para ulama lintas keahlian membuat ajaran Islam semakin dikenal hingga diperdalam oleh umat lintas latar budaya dan agama. Jauh berbeda dengan fenomena saat ini, dimana kita sibuk saling mencela, sehingga hanya menebal polarisasi kita sebagai umat dan bangsa lalu mengaburkan tujuan Islam sebagai pemandu keragaman umat, pembentuk karakter unggul dan pijakan perilaku etis.

Baca Juga :  Pemimpin Negara adalah Cermin Kualitas Kita

Ketika “tauhid”, “fiqih” dan “praktik keagamaan” direduksi menjadi label kelompok secara dangkal, misalnya, ia berubah menjadi komoditas negosiasi sosial yaitu “kami” versus “kalian”, “kita” atau “mereka”. Padahal ajaran Islam bukan sekadar hafalan, narasi komunitas dan pengetahuan belaka. Islam didasari oleh satu paket sistem keyakinan yaitu ikrar lisan dari keyakinan hati yang menuntut amal dan konsistensi laku yang adabi. Karena itu, Islam menghindari kesalehan personal yang cenderung simbolik dan populis yang abai pada integritas, keadaban dan manfaat sosial.

Dalam Islam, semangat amar maruf nahi mungkar adalah satu paket dakwah, karena itu tidak bisa dipisah-pisahkan. Berdakwah adalah wujud integritas diri, kejujuran batin dan ujian keimanan. Karena itu, sikap permisif atau berdiam diri terhadap paradoks moral, mulai dari praktik korupsi dan kriminalitas hingga ketidakadilan adalah kemungkaran itu sendiri. Mendiamkan kemungkaran (kebatilan) adalah wujud ingkar pada keimanan dan pengkhianatan etika, atau dalam konteks sosial merupakan satu bentuk “kemusyrikan sosial”.

Perlunya Literasi Qur’an

Sejak lama Islam sudah mewanti-wanti perlunya proses klarifikasi dan kehati-hatian dalam menerima informasi dari siapapun. Tentu dalam konteks kekinian, kita juga perlu teliti dalam menerima informasi dan menggunakan media. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuanmu yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6)

Di era media seperti ini, kehidupan kita selalu diramaikan oleh berbagai isu dan hoaks, termasuk gosip dan adu domba antar manusia hanya karena perbedaan pandangan keagamaan. Kondisi ini diperkeruh oleh adanya kelompok yang menjadikan gosip dan `aib serta `aurat (kehormatan) orang lain atau kelompok sebagai komoditas perdagangan untuk meraup keuntungan duniawi melalui media. Bagi mereka, al-Qur’an sekadar pajangan; bukan rujukan yang membimbing, panduan yang mencerahkan dan radar tuntunan kehidupan.

Baca Juga :  Sekolah Tanpa Filter: Asapmu, Identitasmu!

Itulah yang pernah dikhawatirkan oleh salah satu ulama terkenal Ibnu Taimiyah. Menurut beliau musibah terbesar umat bukan meninggalkan mushaf al-Qur’an, melainkan fisiknya bersama mushaf al-Qur’an tapi tak mengubah hati, akal, dan laku. Bagi Ibnu Taimiyah, al-Qur’an adalah kitab transformasi; tadabbur menjadi ruhnya, dimulai dari pertanyaan personal: “apa yang ayat ini tuntut dariku, saat ini?”. Karena itu, tradisi tadabbur al-Qur’an yang menekankan adanya transformasi substantif pada pemahaman, amal dan perilaku perlu digiatkan.

Proses refleksi mendalam menjadi ruang self-critique untuk meneguhkan kembali watak kita sebagai umat Islam dalam melangkah dan beragama yaitu yang membebaskan, beramal yang berintegritas, dan berjihad dengan keberanian moral. Tegasnya, keimanan yang benar tampak pada akhlak baik, keberanian berdakwah dan tanggung jawab sosial, bukan pada produksi narasi fanatisme dan sorak-sorai popularitas di media. Media adalah alat, bukan timbangan ukur benar-salah dan bukan tujuan beragama. Di sinilah letak pentingnya literasi media yang berbasis pada bingkai dan nalar qur’ani.

Elemen kuncinya adalah pendidikan. Pembenahan di sektor ini menjadi kunci perubahan umat dan bangsa ke arah yang lebih baik. Elemen pemerintah (Kementrian terkait) sebagai penentu kebijakan dan para pendidik seperti orangtua (di pendidikan informal), guru dan dosen (di pendidikan dasar, menengah dan tinggi) serta ulama (MUI, Ormas Islam dan Pondok Pesantren) atau sebutan lainnya, menuntut kualitas standar moral dan tanggung jawab yang lebih tinggi. Sebab mereka menjadi rujukan kebijakan sekaligus teladan praktik nilai-nilai Islam bagi masyarakat, umat dan bangsa juga generasi berikutnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *