Opini

Kenangan Indah Bersama Nenek Hj. Ummi

2
×

Kenangan Indah Bersama Nenek Hj. Ummi

Share this article
Foto : Istimewa/GM
IMG 20260312 WA00531

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh Nasional

Innalillahi wa Inna ilaihi rooji’un. Begitu respon saya ketika mendapat kabar sepintas di Facebook perihal meninggalnya Nenek Hj. Ummi Cereng (Nenek Hj. Ummi). Tepatnya, pada Kamis 12 Maret 2026 pukul 13.20 WIB saya mendapat kabar bahwa Nenek Hj. Ummi (Cereng) telah meninggal dunia di Manggarai Barat, NTT. Kabar tersebut saya dapatkan dari akun Facebook Bapak Sumar atau bapaknya Afli Cereng. Saya termasuk kaget dan seperti tak percaya. Dan setelah mengkonfirmasi ke beberapa orang, ternyata kabar tersebut benar adanya.

Saya termasuk yang memiliki kesan dan kenangan tersendiri dengan Nenek Hj. Ummi. Pertama, aktif beribadah shalat lima waktu. Saya menjadi saksi sejak saya masih kecil era 1980-an akhir hingga 1990-an awal, nenek Hj. Ummi adalah sosok yang aktif menunaikan shalat lima waktu. Bahkan kelak ketika saya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Hakim di Lombok, NTB (1996-2002), bila pulang libur, beliau selalu datang silaturahim ke rumah dan bicara seputar ibadah termasuk shalat lima waktu dan bacaan al-Quran.

Kedua, rajin membaca al-Quran dan menunaikan ibadah shaum. Beliau juga sosok yang rajin membaca Al-Quran. Bahkan bisa dikatakan bahwa beliau adalah sosok perempuan dari barisan “Nenek” yang bisa dan lancar mengaji. Saya menyaksikan sendiri pada Maret 2014, saat pulang ke kampung Cereng. Beliau mengaji dan bacaannya bagus. Beliau juga termasuk generasi tua yang rajin menjalankan ibadah shaum juga shalat tarawih saat Ramadan tiba, dari kecil hingga usia tua.

Ketiga, akrab dengan anak-anak kecil. Nenek Hj. Ummi juga sangat akrab dengan anak-anak kecil, terutama para cucunya dari berbagai generasi. Saya sendiri sering tidur di rumah beliau, tepatnya pada medio 1989-1991, sebelum dan ketika saya masih kelas 1 SD di SDK Cereng. Selain saat berkebun di kebun Mangkeng, juga saat mereka berkebun di kebun Randang. Di Randang inilah Kakek Nomo, suami dari Nenek Hj. Ummi meninggal dunia, sekira tahun 1992. Tahun pastinya saya lupa.

Baca Juga :  18 Tahun Gerindra; Kompak, Bergerak dan Berdampak

Pada tahun 1980-an akhir hingga sebelum tahun 1992, Kakek Nomo dan istri keduanya ini pernah tinggal di rumah orangtua saya di Cereng. Saat itu, Kakek Nomo dalam kondisi sakit dan dirawat ala kadarnya. Karena kakinya tertendang kuda saat di Randang, sebuah kawasan sawah dan kebun yang masih masuk Dusun Cereng. Beliau sakit beberapa tahun dan kelak sakit selama beberapa hari lalu meninggal dunia. Sejak beliau meninggal dunia, saya tidak tinggal di rumahnya lagi.

Keempat, telah menunaikan ibadah haji. Pada musim haji 2025 lalu Nenek Hj. Ummi berkesempatan menunaikan ibadah haji bersama menantunya (Bapak H. Abdul Latif) dan anak kandungnya (Ibu Hj. Hawa Siti). Selain dari media sosial, saya mendapat kabar dari keluarga besar di kampung bahwa Nenek Hj. Ummi telah menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ini merupakan sebuah teladan dan inspirator bagi saya dan siapapun untuk terus berikhtiar hingga mampu menatap Ka’bah secara langsung. Bahwa usia tua tidak menghalangi untuk beribadah ke tanah suci.

Kini Nenek Hj. Ummi telah meninggal dunia. Usia cukup lanjut tentu saja umumnya sangat rentan. Namun, hakikatnya siapapun dan dalam usia berapapun, kita bisa saja bersua dengan ajal kematian kita. Ajal kematian untuk Nenek Hj. Ummi memang sudah tiba. Di mana pun kita berada, bila ajal kematian tiba, maka bakal mengalami hal yang sama. Allah berfirman, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. an-Nisa: 78).

Meninggalnya Nenek Hj. Ummi menjadi pembelajaran terbaik bagi kita semua untuk terus mengingat mati, sehingga kita lebih giat berbenah dan menyiapkan diri. Sungguh, manusia paling cerdas adalah mereka yang aktif mengingat dan menyiapkan hidup setelah mati. Silahkan cek shalat lima waktu, shaum Ramadan dan bacaan al-Quran kita. Apakah kita sering meninggalkan atau tidak? Sungguh, setiap ibadah dan amal kebaikan yang kita lakukan bakal kembali ke diri kita sendiri. Terutama saat di kehidupan akhirat yang abadi kelak.

Baca Juga :  Buku KAMMI Bisa Beribu-ribu

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa kita hanya menanti giliran saja. Allah berfirman, “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. al-Ankabut: 57). “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. al-Anbiya: 35), dan “Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya….” (QS. Ali ‘Imran: 145). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *