Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”
MUSUH yang paling bengis dalam kehidupan ini bukanlah manusia yang mengepalkan tinju dari luar pagar. Musuh yang paling berbahaya adalah yang bertakhta di dalam singgasana dada kita sendiri. Ia tidak menghunus pedang, tidak melepaskan anak panah, tetapi ia sanggup meruntuhkan istana amal yang kita bangun dengan air mata bertahun-tahun. Ia bekerja dengan angkuh yang lembut, sombong yang senyap, dekat laksana nadi, namun samar laksana bayangan.
Betapa seringnya kita terperdaya oleh diri kita sendiri. Kita menyangka telah menjadi hamba yang tawadhu’ bersujud di sajadah, padahal di dalam jantung tumbuh belukar keakuan yang rimbun dan liar. Kita merasa telah menapaki jalan kebenaran yang terang, padahal kaki kita masih terbenam dalam rawa niat yang keruh dan hati yang berdebu. Kita berlayar dengan kompas yang rusak, lalu bertanya-tanya mengapa tak kunjung tiba di dermaga.
Maka, tanyalah dengan jujur kepada sanubari kita sendiri, adakah yang bengkok pada niat kita? Jangan-jangan majelis yang kita datangi saban malam bukanlah untuk memungut cahaya ilmu. Melainkan hanya untuk secangkir kopi yang gratis, atau sepasang netra jelita yang kita intai di sudut majelis yang temaram. Jika begitu, yang kita bawa pulang hanyalah ampas, bukan hikmah.
Jangan-jangan kehadiran kita di lingkaran zikir itu hanya untuk membunuh kebosanan, sekadar menambal waktu yang lowong daripada menganggur tanpa makna. Bukan untuk menyelami samudera makrifat, bukan untuk duduk bersimpuh di bawah kepak sayap malaikat yang memayungi majelis. Jika demikian, ilmu hanya singgah di daun telinga, tak pernah berlabuh dan berakar di dalam hati. Ia datang sebagai musafir, lalu pergi tanpa pernah menjadi penghuni.
Oleh karena itu, periksalah kembali niat kita, luruskanlah ia seperti lurusnya alif, jernihkanlah ia seperti jernihnya embun di ujung pagi. Sebab, amal yang sebesar gunung akan menjadi debu yang diterbangkan angin bila niatnya bengkok. Sebaliknya, amal yang sekecil butir tasbih, bahkan sekadar senyum, akan menjulang menjadi mercusuar yang tinggi bila ia tulus karena Allah semata. Allah tidak menatap wajah dan harta kita, Allah menatap hati dan niat kita.
Al-Ghazali berbisik dengan bahasa yang syahdu, “Deklarasikanlah jihadmu kepada tiga belas musuh yang tak terlihat. Yaitu egoisme yang mengurungmu, arogansi yang meninggikanmu, keangkuhan yang membatu, keakuan yang memenjara, ketamakan yang melahap, kebernafsuan yang membakar, intoleransi yang membutakan, kemarahan yang meledakkan, kebohongan yang berdusta, kelicikan yang menikam, kegemaran menggosip yang merobek, merasa benar sendiri yang menyesatkan, dan fitnah yang membunuh tanpa menyentuh!”
Renungkanlah, wahai diri, ketiga belas musuh itu tidak bermukim di negeri seberang. Mereka tidak bersembunyi di balik pegunungan yang menjulang. Mereka berdiam di bilik hati kita yang paling rahasia. Mereka tidur bersama lelap kita, terjaga bersama jaga kita, mengalir bersama darah merah kita. Selama kita tidak mengenalinya, kitalah yang akan menjadi hamba sahaya bagi mereka.
Kemudian Al-Ghazali melanjutkan dengan janji yang terang, “Jika engkau mampu menundukkan dan menaklukkan ketiga belas musuh yang tak kasat mata itu, maka engkau akan siap menaklukkan musuh mana pun yang kasat mata. Sebab, siapa yang telah menang di dalam dirinya, maka dunia di luar dirinya akan bersimpuh di bawah telapak kakinya. Kemenangan yang hakiki bukanlah ketika engkau mengalahkan seribu manusia, melainkan ketika engkau mengalahkan dirimu sendiri.”
Rumus ini indah laksana syair untuk dibaca, syahdu laksana doa untuk dirasa, namun berat laksana memikul gunung untuk dikerjakan. Berjihad melawan diri jauh lebih dahsyat daripada Badar yang menggetarkan pasir dan pedang. Di Badar, musuh tampak nyata di depan mata dengan tombak terhunus, sedangkan di dalam diri, musuh itu menyamar menjadi diri kita, berbisik dengan suara kita sendiri. Di sinilah ujiannya, kita harus menebas tanpa melukai kemanusiaan kita.
Badar usai dalam satu hari yang berdarah dan penuh kemuliaan, namun jihad melawan diri adalah peperangan sepanjang usia. Ia baru benar-benar usai ketika napas telah sampai di kerongkongan dan pintu taubat telah tertutup rapat oleh senja. Maka, menangkanlah perang itu hari ini, sebelum kita kalah untuk selama-lamanya. Sebab, siapa yang kalah oleh dirinya sendiri, niscaya ia akan kalah oleh dunia dan tersesat jalan pulangnya menuju akhirat yang indah. ***






