MEKKAH, GM – Di hadapan Anggota DPR RI yang menjadi Pengawas Haji 2026, Kiai Maman Imanulhaq menegaskan bahwa inti ajaran Nabi Muhammad SAW adalah spiritualitas kemanusiaan: agama yang menjaga martabat manusia, menebarkan kasih sayang dan membangun peradaban.
Pada tahun 632 M, di Padang Arafah, Rasulullah SAW menyampaikan Khutbah Wada’, khutbah agung yang menjadi fondasi kemanusiaan Islam sepanjang zaman. Tidak lama setelah itu, pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, Rasulullah wafat meninggalkan warisan akhlak dan peradaban bagi umat manusia.
Dalam Khutbah Wada’, Nabi SAW menegaskan bahwa darah, harta dan kehormatan manusia adalah suci. Tidak boleh dirusak oleh kekuasaan, kebencian ataupun fanatisme.
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah suci sebagaimana sucinya hari ini, bulan ini dan negeri ini.”
Rasulullah SAW juga menegaskan persamaan derajat seluruh manusia:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ
لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى
“Wahai manusia, Tuhan kalian satu dan ayah kalian satu. Semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan Arab atas non-Arab, ataupun non-Arab atas Arab, tidak pula yang putih atas yang hitam kecuali karena takwa.”
Di tengah masyarakat yang dibangun di atas kasta dan kesukuan, Islam hadir membawa revolusi kemanusiaan. Bilal bin Rabahah, seorang bekas budak berkulit hitam, dimuliakan hingga suaranya dikumandangkan dari atas Ka’bah. Itu bukan sekadar simbol ibadah, tetapi deklarasi bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh iman dan akhlak, bukan warna kulit dan keturunan.
Karen Armstrong menyebut:
“Muhammad was not a man of violence. His essential genius was peace-making.”
Kejeniusan Rasulullah SAW adalah membangun perdamaian, merawat welas asih dan menghadirkan masyarakat berkeadaban sebagaimana tercermin dalam Piagam Madinah.
Spirit Arafah itu kemudian melahirkan peradaban besar. Tahun 711 M, Andalusia dibuka oleh Thariq bin Ziyad.
Namun kejayaan Islam di Andalusia tidak dibangun hanya dengan pedang, melainkan dengan ilmu, toleransi dan akhlak.
Cordoba, Granada dan Sevilla menjadi cahaya dunia ketika sebagian Eropa masih berada dalam masa kegelapan.
Dari rahim peradaban Islam lahir ilmuwan dan pemikir besar:
Ibnu Sina dengan The Canon of Medicine, Al-Khawarizmi dengan ilmu aljabar dan algoritma, Ibnu Rusyd dengan filsafat dan rasionalitas, serta Imam Asy-Syathibi dari Sevilla dengan gagasan besar Maqāṣid al-Syarī‘ah.
Masjid Cordoba dan Alhambra menjadi bukti bahwa iman mampu melahirkan keindahan, ilmu dan kemajuan peradaban.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa peradaban besar runtuh bukan karena lemahnya bangunan, tetapi karena rapuhnya jiwa.
Granada jatuh pada tahun 1492 ketika persatuan melemah, cinta dunia menguat dan visi spiritual memudar.
Karena itu, pesan Khutbah Wada’ tetap relevan hingga hari ini: masa depan umat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi oleh kemampuan menjaga kemanusiaan, ilmu, persaudaraan dan akhlak.
Arafah mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus melahirkan kasih sayang, keadilan dan peradaban. (*)






