Opini

Mending Udahin Aja!

11
×

Mending Udahin Aja!

Share this article
IMG 20261009 050802

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”

SAHABAT, sudah berapa lama kita menunda pulang pada diri sendiri? Kita sibuk mengejar urusan yang tak perlu, sampai lupa makan, lupa minum, lupa istirahat. Padahal tubuh ini titipan. Kalau bukan kita yang menyayangi, siapa lagi? Yang melelahkan, yang menguras, yang menjauhkan dari Allah… mending udahin aja.

Kita sering marah karena tak dihargai orang. Padahal kita sendiri yang pertama mengabaikan diri. Kita ingin dicintai dunia, tapi enggan mencintai ruh kita dengan sujud. Kita egois pada diri sendiri, lalu menuntut semesta berbaik hati. Cukup. Ego yang menyakiti itu… udahin aja.

Lihatlah waktu kita. Dihamburkan untuk obrolan kosong, untuk tertawa yang tak menambah iman. Harta kita lari ke hal yang tak berkah, lalu kita bangga menyebutnya “hebat”. Padahal Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. al-Isra: 26-27). Hal yang membuat miskin hati dan kantong… udahin aja.

Kita merasa “wah” saat sibuk, padahal yang kita cicil adalah dosa. Setiap menit yang tak menyebut nama-Nya, adalah menit yang menjauhkan kita dari-Nya. Berbenah itu perih di awal, tapi menenangkan di akhir. Yang membuat Allah menjauh… mending udahin aja.

Kuota habis. Pulsa habis. Waktu habis. Demi chat yang tak jelas ujungnya, demi call yang hanya mengulang luka. Kita kira itu “teman dekat”, padahal ia hanya menumpang di energi kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah). Yang tak menumbuhkan masa depan… udahin aja.

Ada orang yang kita jadikan “bank sampah” curhat. A sampai Z kita ceritakan. Ia dengar, lalu pergi. Kita kira spesial, ternyata hanya dipakai saat ia butuh. Hati kita bukan tempat singgah sementara. Yang hanya menguras tanpa memuliakan… udahin aja.

Baca Juga :  Fahd A Rafiq, Politisi Golkar yang Candu Korupsi

Media sosial. Jempol kita lebih cepat dari akal. Komentar di sana-sini, padahal bukan urusan kita. Jam berganti, ilmu tak bertambah, hati semakin bising. Waktu adalah anugerah. Syukuri dengan isi yang bermutu. Yang hanya membuat lalai… mending udahin aja.

Bayangkan. Berapa banyak detik yang mati sia-sia? Padahal setiap detik adalah benih akhirat. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. al-Hasyr: 18).

Allah Maha Teliti. Jangan sampai catatan kita penuh debu. Bagaimana dengan cinta yang menggantung? Sudah lama kenal, sudah lama menunggu, tapi tak ada lamaran, tak ada kejelasan. Bertemu berdua, beralasan “ta’aruf”, padahal pintu syubhat terbuka. Kita harap berkah, yang datang justru murka. Hal yang menunda halal dan mendekatkan maksiat… udahin aja.

Atau rumah tangga yang menggantung antara cerai dan bertahan. Bertahun dalam luka, berharap berubah, tapi hanya berputar di tempat. Engkau manusia mulia. Engkau ciptaan terbaik. Jangan biarkan harga dirimu diinjak karena takut sendiri. Yang merendahkan martabat… mending udahin aja.

Pacaran, budak cinta alias bucin yang salah alamat, hubungan tanpa arah, semuanya indah di awal, pahit di ujung. Allah mencintai hamba yang menjauh dari dosa, bukan yang memeluknya. Kalau ujungnya maksiat, untuk apa dipertahankan?

Pilihlah yang halal. Pilihlah yang bermutu. Isi hari dengan al-Qur’an, dengan kerja yang berkah, dengan sedekah yang diam-diam. Karena hidup bukan tentang ramai, tapi tentang berkah. Bukan tentang menang di dunia, tapi selamat di akhirat.

Sahabat, kau lebih baik dari yang kau kira. Kau layak untuk masa depan yang terang, bukan untuk lingkaran yang menghabiskan. Beranilah memutus. Beranilah pergi. Karena keberanian terbesar adalah menjaga diri dari yang merusak.

Baca Juga :  62 Tahun IMM; Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia

Sahabat, mulai hari ini… Apa yang tak perlu, apa yang sia-sia, apa yang membuat Allah murka, udahin aja. Ganti dengan sujud, dengan ilmu, dengan amal. Karena yang kita rindu bukan dia dan dunia yang fana. Sungguh, yang kita rindu adalah Dia dan surga-Nya. In syaa Allah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *