CIREBON, GM – SDIT Tahfizh Sabilul Qur’an Kota Cirebon dari waktu ke waktu semakin maju sehingga mendapatkan dukungan dan respon yang baik dari berbagai kalangan, baik pemerintah maupun masyarakat luas, sejak awal berdiri hingga saat ini. Hal tersebut terlihat dari bertambahnya jumlah siswa dari tahun ke tahun dan kegiatan berskala lokal juga nasional yang dihadiri oleh banyak kalangan.
Dalam rangka menunjang berbagai kegiatan kelembagaan dan meningkatkan mutu pendidikan, sekolah unggul yang dinaungi Yayasan Sabilul Qur’an ini mengadakan “Workshop Konsultasi Peningkatan Mutu Pendidikan” dengan tema “Motivasi dan Langkah Praktis Menulis Buku untuk Guru” dengan narasumber Syamsudin Kadir, yang berlangsung di Meeting Room Penerbit Erlangga, di Jl. Pemuda Raya, Kota Cirebon, Sabtu (18/4/2026).
Acara yang berlangsung selama 3 jam tersebut dihadiri oleh unsur yayasan dan pimpinan sekolah seperti Roy Hanullah, S.H. (Deputi Sabilul Qur’an), Ichwanuddin, M.Kes. (Konsultan Manajemen Sabilul Qur’an), M.Imadduddin Muqoyim, S.Pd. (HRD Yayasan Sabilul Qur’an) dan Muchsalmina, M.Pd. (Kepala SDIT Tahfizh Sabilul Qur’an) serta puluhan peserta unsur para wali kelas, pendamping dan guru pelajaran.
Pada sambutannya Roy menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurut dia, bagi para guru, menulis buku bukan saja menghasilkan karya berharga, tapi juga meninggalkan jejak ilmu.
“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada pemateri dan para guru. Kami berharap melalui kegiatan ini bukan saja meningkatkan motivasi berliterasi, tapi juga jadi langkah konkret yang bisa jadi karya. Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan bermanfaat, sehingga nanti menghasilkan buku karya dan lahirnya para guru yang jadi penulis hebat,” ungkapnya.
Pada awal sesi yang dipandu oleh Abdu Tawab, S.Pd. selaku salah satu guru yang didaulat jadi moderator kegiatan ini, narasumber menyampaikan urgensi, tantangan dan peluang literasi saat ini dan di masa mendatang. Menurut penulis puluhan buku ini, guru mesti melek literasi, terutama literasi dasar yaitu baca dan tulis. Sebab dengan begitu, berdampak baik pada kualitas guru, proses kegiatan belajar dan mengajar serta mutu lembaga pendidikan.
“Dalam rangkaian perjalanan peradaban Islam, baca dan tulis menjadi hal yang sangat penting. Baik dilihat dari spirit al-Quran dan al-Hadits maupun dari tradisi sekaligus karya para ulama lintas mata ilmu. Karya mereka pun dapat kita baca dan kaji hingga saat ini. Bahkan dinikmati oleh umat lain dan jadi mencerahkan peradaban umat manusia,” jelasnya.
Menurut dia, walaupun baca-tulis adalah literasi yang paling dasar dan kerap dianggap sederhana, tapi tak sedikit yang menghadapi kesulitan hingga terhambat untuk menjalaninya, bahkan tidak punya karya tulis. Padahal peluang dan penopangnya tersedia, termasuk hadirnya media massa, media online dan media sosial.
“Para guru sangat bisa menjadi penulis dan punya karya tulis. Lingkungan pendidikan adalah sumber idenya. Ada perpustakaan, pojok baca, aktivitas pembelajaran, situasi lingkungan dan pengalaman menjalankan tugas sebagai pendidik. Media massa, media online dan media sosial bisa kita manfaatkan sebagai media publikasi, termasuk kelak diterbitkan menjadi buku,” lanjutnya.
Ia pun mengajak peserta yang hadir untuk membangun komitmen dari dalam diri agar giat membaca, merenung dan menulis setiap hari, sehingga melahirkan karya yang terpublikasi secara rutin di berbagai media. Bahkan kata dia, kegiatan kali harus melahirkan naskah buku yang layak terbit dalam waktu terdekat. Selain untuk memotivasi diri para guru juga jadi motivasi sekaligus teladan para siswa.
Setelah materi selesai dilanjutkan dengan diskusi dan praktik menulis. Setelah dikoreksi, rerata tulisan yang dihasilkan peserta sudah bisa ditindaklanjuti sebagai bahan untuk menjadi naskah buku yang kelak diterbitkan menjadi buku. Buku ini kelak akan menjadi buku perdana para guru sekaligus sebagai wujud nyata bahwa SDIT Tahfizh Sabilul Qur’an berkontribusi dalam memajukan literasi khususnya di Kota Cirebon dan umumnya di Indonesia. (SK)





