Opini

Ilmu yang Diamalkan, Hati yang Dijaga

25
×

Ilmu yang Diamalkan, Hati yang Dijaga

Share this article
IMG 20260528 WA0001
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Islahul Azmi, Lc. M.S.I.

Pembina KMMI dan Pengajar di Yayasan Nurul Hakim Lombok

 

Senin 5 Mei 2026, berlangsung acara Pembekalan Ijazah Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kuliyatul Mu’alimin wal Mu’alimat Al-Islamiyah (KMMI) Yayasan Nurul Hakim Lombok oleh TGH. Muzakkar Idris, Lc., M.S.I.

Dalam momentum tersebut TGH. Muzakkar Idris mengingatkan para santri agar senantiasa bersyukur kepada Allah dalam setiap keadaan, dengan cara yang sesuai tuntunan syariat Islam. Karena siapa yang pandai bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat kepadanya.

TGH. Muzakkar Idris kemudian menyampaikan beberapa doa penting yang hendaknya selalu diamalkan oleh para santri. Misalnya, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran dan kekufuran, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” Kemudian, “Ya Allah, sehatkanlah tubuhku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.”

Alumni Gontor tersebut menjelaskan bahwa doa-doa di atas mengandung makna yang sangat luas, yaitu memohon keselamatan lahir dan batin. Bukan hanya sehat fisik, tetapi juga sehat hati dan terjaga dari maksiat.

Menurut TGH. Muzakkar Idris, ada tiga bentuk kesehatan yang perlu dijaga, yaitu, pertama, sehat lahir, yaitu kesehatan jasmani agar dapat terus beribadah kepada Allah. Kedua, sehat batin, yaitu terhindar dari penyakit hati seperti riya’, ujub, dan hasad. Dan ketiga, sehat dari perbuatan maksiat, karena maksiat dapat merusak hati dan kehidupan manusia.

Pimpinan Yayasan Nurul Hakim tersebut menjelaskan bahwa riya’ bukan hanya tentang ingin dipuji saat berbuat baik, tetapi juga merasa aman melakukan keburukan karena tidak dilihat orang lain. Adapun hasad adalah sifat tidak senang melihat orang lain mendapatkan kebaikan, hingga muncul keinginan agar nikmat itu hilang dari orang tersebut. Karena itulah doa menjadi senjata dan tameng bagi seorang mukmin, agar terlindungi dari keburukan lahir dan batin maupun perbuatan dosa.

Baca Juga :  Selamat Milad Ke-1 “gemamadani.com”

Menurut TGH. Muzakkar Idris, sakit batin jauh lebih berat daripada sakit fisik. Penyakit hati sering kali datang karena pengaruh setan dan kebiasaan melihat atau mendengar kemaksiatan. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan kita untuk menjaga pandangan dan menjaga pendengaran dari hal-hal yang dapat merusak hati.

“Kalimat tauhid yang diulang dalam doa tersebut mengandung makna mendalam, yaitu bahwa seluruh tubuh, hati, dan kehidupan ini hanya dipersembahkan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala,” tegas TGH. Muzakkar Idris.

Mengapa dalam doa perlindungan dari kefakiran dan kekufuran disebutkan secara bersamaan? Dalam pandangan beliau, sebab kefakiran dapat menyeret seseorang kepada kufur nikmat, yaitu tidak ridha terhadap nikmat Allah yang sedikit. Jika dibiarkan, kufur nikmat dapat membawa seseorang kepada kufur akidah, sebagaimana kisah Fir’aun dan Qarun, wal ‘iyadzu billah.

Adapun permohonan perlindungan dari azab kubur disebut secara khusus karena kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju kehidupan akhirat. Barang siapa selamat di alam kubur, maka insyaAllah ia akan dimudahkan pada perjalanan setelahnya.

Memasuki pembahasan tentang ijazah, TGH. Muzakkar Idris menegaskan bahwa tujuan ijazah bukan sekadar tanda selesai belajar, tetapi amanah untuk mengamalkan dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat. Sehingga beliau pun berpesan agar para santri meninggalkan pondok dalam keadaan baik dan rapi, serta menyampaikan salam, permohonan maaf, dan rasa terima kasih kepada kedua orang tua atas segala pengorbanan dan kerja sama mereka dalam mendidik anak-anaknya di pondok pesantren.

Selain itu, para santri diingatkan agar kembali ke pondok tepat waktu. Karena disiplin dan taat aturan juga merupakan bentuk syukur atas nikmat Allah. Pondok pesantren selalu berusaha mendekatkan para santri kepada surga dan menjauhkan mereka dari jalan menuju neraka.

Baca Juga :  Trik Menulis Buku

Beliau menyampaikan ungkapan penuh haru dari para orang tua: “Lebih baik kami memaksa kalian masuk surga daripada membiarkan kalian masuk neraka.” Karena itulah orang tua merasa sedih ketika anak-anaknya ingin meninggalkan pondok dan menjauh dari lingkungan yang baik.

Tausiah pun ditutup dengan doa penuh khusyuk, memohon kepada Allah agar seluruh santri menjadi anak-anak yang saleh, berilmu, beradab, dan mampu membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kedua orang tua. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *