Opini

Menjadi Pemimpin yang Bermoral di Tengah Zaman Pragmatis

12
×

Menjadi Pemimpin yang Bermoral di Tengah Zaman Pragmatis

Share this article
IMG 20260613 WA0065
Ulil Albab Sekretariat Umum PC IMM Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Foto : Istimewa/GM

Oleh: Ulil Albab

Sekretariat Umum PC IMM Kabupaten Cirebon, Jawa Barat

“Leiden is Lijden” (memimpin adalah menderita), ungkap KH. Agus Salim. Pemimpin adalah seseorang yang bersedia menjadi nahkoda bagi orang-orang yang dipimpinnya dengan berbekal ilmu, akal sehat, dan kebijaksanaan yang utuh. Ia merupakan akar dari perubahan yang mengarahkan keadaan menuju kondisi yang lebih baik (inner dynamic). Dengan kapasitas tersebut, seorang pemimpin mampu menggerakkan, mengajak, bahkan menginspirasi banyak orang untuk melangkah dan berlari bersama menuju cita-cita yang diharapkan.

Namun, di tengah kehidupan yang semakin pragmatis, tidak sedikit orang yang berlomba-lomba menjadi pemimpin bukan karena dorongan untuk memperbaiki keadaan, melainkan karena keuntungan pribadi yang diperoleh dari jabatan tersebut. Akibatnya, kepemimpinan sering kali dipandang sebagai sarana memperoleh kekuasaan, bukan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dari sini muncul pertanyaan mendasar: pemimpin seperti apakah yang mampu mewujudkan cita-cita serta menghadirkan kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya?

Dalam konteks kepemimpinan, Seth Godin pernah mengatakan, “Everyone is a leader now!” setiap orang adalah pemimpin. Setidaknya, setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, sebelum seseorang mampu memimpin orang lain, ia harus terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri. Ia harus mampu mengendalikan hawa nafsu, mengatur waktu, mengelola emosi, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Kepemimpinan tersebut terbentuk melalui proses bertahan dan berjuang menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Proses inilah yang menempa mental seorang pemimpin. Dea Tantyo dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa semakin lunak seseorang terhadap dirinya sendiri, maka semakin keras dunia akan memperlakukannya. Sebaliknya, semakin keras seseorang dalam mendisplinkan dirinya, maka semakin lunak dunia terhadapnya.

Makna dari pernyataan tersebut adalah pentingnya disiplin dalam membangun karakter kepemimpinan. Ketika disiplin telah mengakar kuat, berbagai kesulitan yang datang tidak lagi dipandangn sebagai hambatan besar, melainkan sebagai bagian dari proses menuju kematangan. Dari sinilah lahir pribadi-pribadi yang mampu menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  Sekolah Tanpa Filter: Asapmu, Identitasmu!

Selain kedisiplinan dan ketangguhan mental, seorang pemimpin juga harus memiliki dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu kecerdasan dan keimanan. Kecerdasan tanpa keimanan berpotensi melahirkan penyalahgunaan kekuasaan, sementara keimanan tanpa kecerdasan dapat membuat kepemimpinan kehilangan efektivitasnya. Ketika keduanya tumbuh secara seimbang, lahirlah pemimpin yang tidak hanya cerdas dalam mengambil keputusan, tetapi juga bermoral dalam menjalankan amanahnya.

Sejarah telah banyak menghadirkan contoh pemimpin dengan karakter seperti itu. Salah satunya adalah ketika umat Islam harus menentukan pemimpin setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pada saat musyawarah berlangsung, banyak sahabat menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah. Namun, Abu Bakar memahami betul besarnya tanggung jawab yang harus dipikul seorang pemimpin. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar kehormatan, tetapi juga amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Allah SWT.

Ketika Abu Bakar mengusulkan Umar bin Khattab sebagai penerus kepemimpinan, Umar justru menunjukkan sikap enggan. Bahkan ketika Abu Bakar menjelang wafat dan menetapkan Umar sebagai penggantinya, Umar masih merasa berat menerima amanah tersebut. Dalam sebuah riwayat populer Umar berkata, “Aku tidak menghendaki jabatan itu.” Abu Bakar kemudian menjawab, “Benar, tetapi jabatan itulah yang menghendakimu.” Kisah ini menunjukkan bahwa semakin besar jiwa seseorang, semakin besar pula kesadarannya terhadap risiko dan tanggung jawab yang melekat pada kepemimpinan.

Nilai-nilai tersebut juga dapat kita temukan pada tokoh bangsa seperti Mohammad Natsir dan KH. Agus Salim. Mohammad Natsir yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa Presiden Soekarno dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Meski memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan, ia tetap hidup bersahaja. Dikisahkan bahwa ia sering mengenakan jas yang telah bertambal dan lebih memilih menggunakan sepeda daripada menikmati berbagai fasilitas yang dapat disediakan oleh negara. Bahkan setelah memperoleh rumah dinas, Natsir tetap memilih kembali ke rumah sederhana yang berada di gang sempit bersama keluarganya.

Baca Juga :  Menulis Sebagai Tradisi Intelektual Muslim

Sementara itu, KH. Agus Salim dikenal sebagai intelektual besar yang menguasai banyak bahasa asing dan menjadi salah satu diplomat penting Indonesia dalam perjuangan memperoleh pengakuan kemerdekaan di mata dunia. Di balik kecerdasan dan pengaruhnya yang besar, beliau justru menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh keterbatasan. Beliau berpindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lainnya karena kondisi ekonomi yang tidak selalu memadai.

Dari sosok KH. Agus Salim, kita dapat melihat perpaduan antara kecerdasan intelektual, integritas moral, dan kesederhanaan hidup. Tidak berlebihan jika beliau dikenang sebagai The Grand Old Man. Seorang tokoh yang menunjukkan bahwa kebesaran seorang pemimpin tidak diukur dari kemewahan yang dimilikinya, melainkan dari pengorbanan yang diberikannya kepada masyarakat.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah jalan menuju kenyamanan, melainkan jalan pengabdian. Seorang pemimpin dituntut untuk lebih banyak memikirkan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Karena itulah KH. Agus Salim mengatakan “Leiden is Lijden” – memimpin adalah menderita. Menderita dalam arti bersedia memikul beban yang lebih berat, menerima tanggung jawab yang lebih besar, dan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Melalui kisah-kisah para pemimpin terdahulu, kita diajak untuk merenungkan kembali makna kepemimpinan yang sesungguhnya. Apakah kita masih berjuang memimpin diri sendiri, ataukah kita telah dipercayai memimpin orang lain? Apa pun posisi kita hari ini, kepemimpinan sejati selalu dimulai dari kemampuan untuk mengendalikan diri, menjaga integritas, dan mengabdikan diri bagi kemaslahatan bersama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *