Opini

Ketidakadilan bagi Perempuan adalah Kebaikan

14
×

Ketidakadilan bagi Perempuan adalah Kebaikan

Share this article
IMG 20260628 WA00471
Adelia Putri Marzuki Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram Foto : Istimewa/GM

Oleh: Adelia Putri Marzuki

Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram

PENGALAMAN membaca novel berjudul “Tiga Dalam Kayu” terbitan tahun 2022 benar-benar membuat saya harus berpikir keras dan tidak langsung menerima mentah-mentah tiap plot yang ada. Jangan menyerah membaca novel ini sekalipun pikiran anda terus dipermainkan dengan ketidakberaturan dan keterasingan.

Saya mulai mengerti mengapa novel terbitan Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ini diberi judul “Tiga Dalam Kayu” setelah membacanya secara berulang. Ada tiga hal yang sering disorot Ziggy; perempuan, trauma, dan kritik sosial yang dibalut dalam sebuah kayu yang kaku dan bisu.

Tokoh penting dari novel yang berisi kumpulan cerpen ini adalah anak perempuan berusia lima belas tahun, sang penjaga perpustakaan. Di dalamnya berisi buku-buku yang berasal dari kakek-kakek yang sudah meninggal. Benar, harus kakek-kakek dan yang sudah meninggal. “Karena mereka cepat mati, jadi biasanya banyak yang sudah mati.” Dan, seringkali meninggalkan buku-buku yang tidak diurus lagi oleh sanak saudaranya.

Bukankah seperti perempuan? Ketika ia ditinggal mati oleh suaminya, mereka cenderung diabaikan dan dipandang sebelah mata. Buku-buku di dalam perpustakaan itu tidak diurutkan berdasarkan urutan terbit, melainkan dari urutan mana ia menerimanya dari cucu yang bersangkutan. Sebagai ganti jasa buku, para cucu itu hanya perlu membawa satu cerita lama dari si pemilik buku.

Di perpustakaan, gadis itu bertemu laki-laki berısia lima puluhan dan secara tidak sengaja menjadi dekat dengannya setelah membuka obrolan. Setelah pertemuan pertama mereka, tanpa sengaja laki-laki itu membunuhnya. Ah, bukan dia, tapi sepatu asing yang kini menempel di kakinyalah yang membunuh gadis itu. Namun karena kebetulan ia perempuan, orang-orang sekitar sama sekali tidak menaruh perhatian lebih.

Baca Juga :  Cantiknya Bukit Muhammadiyah Di Manggarai Barat NTT

Ini kebaikan. Sungguh. Ini benar-benar kebaikan. Kalau bukan sepatu baruku ini, pastilah seseorang yang akan melakukannya. Mayarakat yang menekan dan menghakimi. Orangtua yang mendorong dan memaksa. Manusia sejenisku. Bakal bayi yang membunuh. Mereka akan melakukannya—salah satu dari mereka. Dan mereka akan melakukannya lebih keji lagi. Maka ini adalah kebaikan. Sungguh ini benar-benar kebaikan. Ini kebaikan. Ini kebaikan. (hal. 126)

Lalu dikuburnya gadis itu bersama anak perempuannya, cucunya, dan dirinya sendiri. Katanya, keluarga harus selalu bersama.

Bahasa yang digunakan Ziggy pada karya berkategori “Fiksi Sastra Indonesia” ini cukup sederhana tapi terasa asing karena kita tidak terbiasa hidup dalam lingkungan absurd seperti itu. Kita terbiasa disuguhi oleh sesuatu yang beraturan dan dapat dicerna dengan sekali lihat bukan?

Ada sebelas cerita pendek yang pada awalnya saya mengira tidak memiliki hubungan sama sekali, sampai masuk pada bab Myla, setelah bab kesebelas sampai akhir, di situlah saya mulai mencerna pesan yang ingin disampaikan penulis bernama lengkap Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Potongan puzzle-nya mulai terlihat, namun masih dilempar sembarang. Membaca novel setebal 162 halaman ini seperti ikut bermain dalam sebuah teka-teki. Kita tidak hanya menerima, tapi juga ikut menjawab dan menerka-nerka. Begitu banyak keterasingan yang terasa familiar.

Suasana asing bukan karena baru eksis, namun memang tidak diakui. Begitulah sistem hukum yang sedang kita pijaki. Hukum sering kali tidak pernah memperjuangkan hak mereka yang dirugikan. Hanya menggali fakta untuk sekadar mengetahuinya sebelumnya menguburnya lebih dalam.

Kita menjalani sistem yang salah tanpa pernah merasa bersalah. Kita tidak pernah mencari tahu kebenaran, karena pihak yang seharusnya bertanggung jawab hanya duduk diam. Bagaimana pihak kecil tidak melarikan diri? Ah… banyak sekali yang buku tipis ingin sampaikan.

Baca Juga :  Tunaikan Amanah, Jangan Korupsi!

Novel berukuran 13,5 cm x 20 cm ini menyoroti bagaimana ketimpangan perlakuan yang didapatkan laki-laki dan perempuan. Kesalahan laki-laki selalu dinetralkan seolah itu memang hal naluriah yang ada pada dirinya.

Sementara perempuan dibesarkan dalam bayangan ekspetasi publik. Tidak pernah utuh hanya sebagai perempuan. Seolah segala sesuatu hanya tinggal dijalani tanpa dapat dimodifikasi. Perempuan memang diizinkan berlari, namun pada sebuah lingkaran, bahkan jika ia berlari seumur hidup, ia tak akan pernah beranjak ke mana-mana.

Sejak Adam dan Hawa terusir dari surga, bukankah hanya Hawa yang selalu disalahkan karena tergoda memakan buah khuldi yang menyebabkan mereka berdua harus menetap di bumi dan berkembangbiak menjadi kita hari ini? Walaupun sebenernya keduanyalah yang memakannya.

Dalam kepercayaan kolot yang dianut masyarakat, perempuan baru dianggap baik setelah menyenangkan semua orang; suaminya, anak-anaknya, mertuanya, atau semua orang.

Tanpa aba-aba pada karyanya yang ber-ISBN: 978-602-481-781-7 ini, Ziggy sering kali menambahkan kutipan yang kaya akan interpretasi. Terkadang terdengar asing dengan alur cerita, terkadang terasa melompat-lompat, sehingga pembaca akan dibuat sedikit bingung.

Di sisi lain seolah ia sedang memperhatikan pembaca sambil berkata, “Hei jangan menyerah membacanya. Masih banyak bagian menariknya. Jika Anda adalah seorang yang memiliki rasa penasaran yang tinggi dan keinginan besar untuk masuk langsung ke dalam suatu karya sastra, peluklah novel Tiga Dalam Kayu ini!” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *