Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Kang Dedi Mulyadi: Memimpin dengan Hati”
KAMIS 25 Juni 2026 siang, pesannya terkirim ke nomor WhatsApp saya. “Assalamu’alaikum Bapak, perkenalkan saya Adel PPKh Nurul Hakim angkatan 2024. Mau bertanya, apakah media ‘gemamadani’ menerima resensi novel?” Saya jawab singkat “Ya”. Ia pun kembali bertanya, “Izin Bapak, untuk formatnya, apa perlu kita cantumkan cover buku?”. Saya kembali menjawab “Ya”.
Berselang beberapa waktu, ia pun mengirimkan satu file resensi novel. Ia adalah presensinya. “Izin Bapak, ini filenya,” tulisannya singkat. “Langsung tulisannya saja. Jangan file!” balas saya. “Oh, baik Pak,” balasnya. Saya sempat membaca file yang ia kirim. Ulasannya sederhana dan lugas. Setelah itu, saya menanti tulisannya, bukan dalam bentuk file seperti yang ia kirim sebelumnya.
Berselang beberapa hari, tepatnya pada Ahad 28 Juni 2026, ia pun mengirim tulisannya. Judulnya “Ketidakadilan bagi Perempuan adalah Kebaikan”. Setelah proses editing ringan, tulisannya langsung dimuat di media online. Ia salah satu penulis dari banyak penulis yang mengirim artikel, resensi dan serupanya yang sudah dimuat selama ini. Termasuk beberapa alumni Pondok Pesantren Nurul Hakim, terutama alumni PPKh KMMI Putra-Putri.
Setelah redaksi memuat tulisannya, saya pun langsung mengirim link tulisannya, agar dibaca dan dishare ke banyak orang. “Alhamdulillah terima kasih banyak bapak dan tim,” jawabnya singkat. Setelah itu, saya bertanya padanya, “Dirimu suka baca buku? Tema apa saja? Dan mengapa, atau apa alasannya?”. Beberapa pertanyaan tersebut ia jawab singkat.
Menurut alumni KMMI Nurul Hakim angkatan 2024 ini, dirinya menempuh pendidikan tinggi di Universitas Mataram, tepatnya di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia pun mengaku ingin lebih membiasakan diri untuk membaca dan menulis. “Karena kebetulan ambil Prodi Bahasa dan Sastra, jadi mau lebih membiasakan membaca dan menulis Pak. Sebelumnya suka juga baca, tapi engga begitu sering,” akunya.
Sosok yang bernama lengkap Adelia Putri Marzuki ini pun bercerita bahwa ia suka membaca buku beragam tema, terutama yang bertema sastra, tapi yang serius. Selain itu, juga tema fiksi biasa atau ringan. Kemudian, ia juga suka membaca puisi. “Random Pak, sastra serius, atau yang fiksi biasa, sama suka juga baca’ puisi,” jawabnya berbagi pengalaman dalam hal tradisi baca-tulis yang bangun selama ini.
Perihal kapan mulai jatuh cinta pada tradisi baca, sosok yang akrab disapa Adel ini mengaku bahwa dirinya sudah suka membaca buku sejak di bangku Sekolah Dasar atau SD. Bahkan karena suka membaca buku, tulisannya pernah diterbitkan dalam bentuk komik pada saat dirinya masih kelas 5 SD. “Kalau dulu awalnya lebih ke komik Pak. Waktu kelas 5 SD, saking sukanya baca komik pernah terbitkan komik,” kenangnya.
Ya, menurut sosok yang lahir pada 2005 ini, ia pernah menyumbangkan satu tulisan pada buku komik anak yang terbit tahun 2017 silam. Baginya, ini adalah pengalaman yang sangat berharga yang membuatnya makin jatuh cinta pada dunia buku dan penulisan. “Komik anak-anak Pak. Terbitan tahun 2017. Kalau tak salah di media yang muat tulisan anak-anak sekolah dasar dulu,” kenang sosok yang berasal dari Bilatepung, Beleke, Gerung, Lombok Barat ini.
Bagi Adel, membaca dapat menambah ilmu, memperluas wawasan dan menambah informasi juga informasi. Di samping itu, akunya, membaca adalah hiburan. Pada buku yang ia baca ada begitu banyak ide kreatif, cerita unik dan pengalaman berharga dari para penulis. “Alasannya buat hiburan, tapi makin ke sini makin tau materi dari perkuliahan, baca yang agak berat juga seru,” akunya.
Karena penasaran, saya pun ingin mendapatkan inspirasi darinya. “Bila lagi baca lalu tetiba rasa malas datang, apa yang dilakukan biar semangat membaca datang kembali?,” tanya saya. “Kalau rasa malas datang, saya engga paksakan habisin buku itu Pak, tapi tak coba baca yang lain, yang pendek’ dulu di media substack kayak artikel gitu atau buat yang cuma nambah insight aja,” jelasnya.
Menurut dia, membaca tak mesti dipaksa, tapi harus diupayakan untuk membaca setiap hari. Tidak mesti membaca hingga tuntas satu buku sekali duduk, tapi ada target yang jelas. Dengan begitu, dirinya terpacu dan lebih disiplin untuk membaca. Kata dia, kalau ada ide atau cerita yang benar-benar menarik, ia kerap melanjutkan bacaannya hingga tuntas.
Ia pun mengaku berupaya bisa membaca buku minimal 10 halaman dalam sehari. Hal itu sudah berlangsung lama, terutama saat masih nyantri di Nurul Hakim hingga kini saat menempuh kuliah di salah satu kampus berlabel negeri di ibukota NTB, Kota Mataram, Unram. “Seharusnya membaca minimal 10 halaman Pak, tapi karena akhir-akhir ini lagi ngerjain projek UAS, jadi jarang,” akunya.
Bahkan di tengah berbagai kegiatan perkuliahan yang begitu padat, ia tetap berupaya untuk membaca. Bagi saya, di era sekarang, mahasiswi bisa membaca 10 halaman sehari itu gila. “Insya Allah mau dipateni lagi biar ga kena dom scrolling,” jelasnya. “Wah pembaca aktif dong. Zaman sekarang jarang loh yang bisa baca sebanyak itu,” balas saya singkat. “Sedang diusahakan biar bisa stabil membaca,” balasnya.
Dari Adel kita bisa belajar bagaimana langkah praktis agar terbiasa membaca dan menulis setiap hari. Bahwa menjadi penggiat literasi tidak jadi seketika, semuanya butuh proses panjang. Kesungguhan, kerja keras dan pembiasaan diri adalah kuncinya. Menghasilkan karya tulis mesti ditopang oleh tradisi baca yang kuat. Terima kasih banyak kepada Mba Adelia Putri Marzuki atas inspirasinya. (*)






