Opini

Jejak Tak Terlupakan

12
×

Jejak Tak Terlupakan

Share this article
IMG 20260629 WA0035
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Kang Dedi Mulyadi: Memimpin dengan Hati”

SAYA berasal dari Cereng, sebuah kampung kecil di Manggarai Barat, NTT. Ia berada di Desa Golo Sengang, Kecamatan Sano Nggoang. Ia merupakan salah satu kampung yang jauh dari keramaian kota, apalagi Kota Labuan Bajo yang masuk kategori kawasan ekonomi khusus atau KEK Nasional. Akses ke kampung ini membutuhkan waktu sekian jam, belum tersentuh air PDAM dan jalan beraspal.

Saya merupakan anak ke-4 dari 9 bersaudara dari Bapak Abdul Tahami dan Ibu Siti Jemami. Setelah menempuh pendidikan sekolah dasar di SDK Cereng medio 1990-1996, akhirnya pada Mei 1996 saya melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB. Setelah itu, pada 2002 saya melanjutkan pendidikan tinggi di UIN Bandung, lalu setelah kelak pindah ke Cirebon ke IAI yang kini menjadi UI Bunga Bangsa Cirebon.

**

Pada Senin 4 Oktober 2010 saya dan Uum Heroyati menikah, setelah berkenalan 2 tahun lebih. Kami menikah di Subang, Jawa Barat. Kala itu, saya masih mengajar di sekolah swasta di Bandung dan Subang. Lalu pada Kamis 7 Oktober 2010 kami menyepakati untuk berpindah ke Kota Cirebon tempat ia mengajar. Saat itu ia mengajar di SDIT Sabilul Huda menjelang wisuda dari UIN yang saat itu masih berstatus IAIN Syeikh Nurjati Cirebon.

Foto yang saya cantumkan pada tulisan ini adalah foto edisi Kamis 9 Agustus 2018, saat Azka Syakira masih berusia 7 tahun. Saat itu masih awal masuk kelas 1 di SDIT Sabilul Huda, Kota Cirebon, setelah sebelumnya sudah mengikuti pendidikan di sebuah PAUD dan TK yang tak jauh dari rumah tempat keluarga kecil saya berdomisili. Keduanya bersekolah di lembaga pendidikan yang sama.

Baca Juga :  Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur

Azka Syakira sendiri lahir pada Sabtu 16 Juli 2011. Sejak kecil ia adalah sosok yang akrab dengan buku. Setiap akhir pekan, kami selalu berkunjung ke toko buku. Bahkan berkali-kali membeli buku. Pada 16 Juli 2026, ia telah berusia 15 tahun dan naik ke kelas 3 di Program Pendidikan Khusus (PPKh) Kuliyyatul Mu’alimin wal Mu’alimat Al-Islamiyyah (KMMI) Nurul Hakim Lombok di NTB, pondok tempat saya dulu nyantri.

Sementara saat itu, adiknya yang bernama lengkap Bukhari Muhtadin kala itu masih berusia 4 tahun 5 bulan. Bahkan ia masih Play Group atau PG, menjelang mengikuti pembelajaran di PAUD tahun ajaran perdana. Sementara Bukhari Muhtadin, atau sosok yang akrab disapa Ari ini, lahir pada Senin 10 Maret 2014. Pada Juni 2026 ia berusia 12 tahun lebih. Kini ia naik ke kelas VI di SDIT Ibnu Abbas di Talun, Cirebon, Jawa Barat.

**

Pada awal Agustus 2018, bunda mereka yang lahir pada Selasa 11 Juni 1985 itu sakit, tepatnya sakit paru dan lambungnya kambuh. Kemudian setelah dirawat di RS Gunung Jati Kota Cirebon, beberapa waktu berikutnya sembuh. Lalu pada 11 Oktober 2018 kembali sakit selama beberapa hari. Sekira 15 Oktober 2018 pulang ke rumah setelah dirawat di rumah sakit yang sama. Kemudian pada 16 Oktober 2018 kembali ke rumah sakit.

Pada Kamis 25 Oktober 2018, sekira pukul 14.30 WIB, bunda mereka meninggal dunia. Ia meninggal setelah melahirkan bayi dalam kondisi hamil usia sekira 7 bulan. Sang bayi masih bertahan hidup selama sekira 24 jam dalam kondisi prematur. Saat lahir, sang bayi belum sempat merasakan air susu bundanya karena sang bunda dalam kondisi lemes tak bertenaga. Ia hanya merasakan bantuan di inkubator.

Baca Juga :  Oknum Pejabat Bank pun Menipu Umat Gereja Katolik!

Pada Jumat 26 Oktober 2018 pagi, sang bayi yang diberi nama Tsamarah Walidah itu meninggal dunia. Tak lama berselang, dua jenazah diantar ke Subang. Pada siang harinya, kedua jenazah dikuburkan di Subang, Jawa Barat di kompleks kuburan keluarga besar. Bundanya melahirkan sang bayi dalam kondisi sakit paru dan gangguan lambung yang ia alami sejak nyantri di Pondok Pesantren al-Ishlah, Compreng, Subang, Jawa Barat.

**

Hidup menduda selama sekira 6 atau 7 bulan, saya memilih untuk menikah lagi. Apalagi kala itu, saya sering mendapat undangan mengisi seminar, pelatihan dan workshop di luar kota, menikah lagi adalah pilihan yamg tak bisa ditawar lagi. Selain untuk menjaga rumah juga untuk mendidik kedua anak saya yang masih berusia belia juga membutuhkan sosok ibu yang mengasuh mereka.

Setelah berbagai proses ditempuh, terutama istikharah dan lamaran ke keluarga, akhirnya pada Kamis 25 April 2019, saya kembali menikah. Kali ini saya menikah dengan Eni Suhaeni, sosok yang pernah beberapa kali satu grup atau majelis pengajian dengan Uum Heroyati. Tepatnya di metode Qiro’ati. Ia berasal dari Gebang, Cirebon dan lulusan Pondok Pesantren Al-Hikmah, Brebes, Jawa Tengah dan IAI BBC.

Dari pernikahan dengan sosok yang berprofesi sebagai guru ini saya dikaruniai dua orang anak yaitu Aisyah Humaira dan Arsyila Qonita. Bila yang pertama lahir pada Kamis 9 April 2020, sementara sang adik lahir pada Senin 9 Oktober 2023. Keduanya tak jauh beda dengan kedua kakak mereka, Azka dan Bukhari, sama-sama suka buku. Bahkan sejak usia TK sudah bisa membaca buku. Kini Aisyah sudah bisa membaca buku, sementara adiknya masih perkenalan dengan huruf abjad. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *