Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Melahirkan Generasi Unggul”
ADA lagi kabar yang mampir di beranda. Lalu lewat begitu saja, seperti angin. Guru dihina. Guru dicela. Guru digiring ke kantor polisi. Alasannya receh. Sebuah cubit karena murid terlalu banyak main. Sebuah tegur karena ganggu teman. Sebuah peringatan karena uang saku teman hilang berkali-kali. Padahal semua itu bisa selesai di kursi kayu, dengan secangkir teh, dengan kata “maaf ya Pak, Bu”, atau dengan jabat tangan tulus yang tidak direkam kamera dan tidak dishare ke media.
Bukan berarti guru tak boleh disentuh kritik. Boleh, bahkan mesti. Tapi ada batas. Ada adab. Ini tega sekali rasanya, menyeret wibawa guru di tengah halaman sekolah, di depan anak-anak yang masih belajar apa itu adab, akhlak dan hormat, lalu memutarnya berulang-ulang di layar, seolah itu piala. Lalu kala balik kerja kita duduk di pojok kamar dan bertanya: mengapa anak saya malas, enggan belajar, lupa jadwal ngaji, usil pada teman dan dihukum guru?
Jawabnya tidak di papan tulis. Jawabnya tegas: turun tangan. Kita mesti kembali bertanggung jawab. Ke harus pulang. Kita wajib ke meja makan yang dingin karena tak ada cerita dan canda sayang. Ke ruang tamu yang terang benderang oleh sorot TV dan sorot HP, namun kehilangan cahaya karena al-Quran hanya jadi pajangan di lemari keluarga. Kita kembali ke 16 jam yang kita punya bersama anak, dibanding 30-45 menit yang dipinjamkan guru di kelas atau sekolah.
Kita kerap menuntut sekolah menjadi pabrik, yang memasukkan anak pagi, mengeluarkan anak pintar sore. Padahal rumah adalah bengkel pertama. Tempat bara semangat dinyalakan atau dipadamkan. Jika di rumah tak ada yang membacakan kisah teladan seperti kisah sahabat nabi, tak ada yang bertanya “Hari ini kamu belajar apa Nak?”, tak ada yang mencontohkan bangun sebelum adzan, maka jangan heran jika di sekolah saklar di kepala anak mati. Bukan karena gurunya kurang tegas, tapi karena kompor hatinya saat di rumah kerap mati.
81 kali kemerdekaan kita rayakan. Bendera naik pelan. Syair patriotik dikumandangkan lantang. Lomba karung, lomba kelereng, tawa berhamburan. Tapi di sudut lain, guru masih dijajah. Bukan oleh tentara Belanda. Tapi oleh orangtua muridnya sendiri. Kita lupa satu ungkapan sederhana: “Guru bukan pembantu”. Guru hanya menumpang membantu. Sedang kewajiban utama, tetap menginap di rumah kita. Ya kita, para orangtua bagi anak-anak kita.
Menyerahkan seluruh pendidikan ke sekolah, lalu marah ketika hasilnya retak, itu kelalaian yang sunyi. Itu luka yang tidak masuk berita. Karena yang berdarah adalah masa depan anak kita sendiri. Saya menulis ini sambil menunduk. Saya juga orangtua. Saya juga sering kalah. Kalah oleh notifikasi. Kalah oleh “capek”. Kalah oleh “nanti saja”. Padahal anak tidak pernah minta orangtua sempurna. Anak hanya minta orangtua yang ada. 10 menit duduk mendengar PR tanpa scroll. Satu halaman buku dibaca bersama, HP ditaruh dulu. Kalimat “Ayo kita belajar bareng” bukan “Tanya gurumu saja, ayah sibuk”.
Ingat, guru bukan pembantu yang bisa disuruh memanggul langit sendirian. Guru hanya menumpang membantu, sementara akar pendidikan tetap tumbuh di lingkaran rumah. Jika rumah gelap, sekolah seterang apapun akan kewalahan. Jika orangtua hadir, guru tidak perlu lagi berdiri sendirian di tengah kerumunan sambil menahan malu. Bayangkan nanti, 25 November. Hari Guru. Tak boleh ada lagi buket bunga yang baunya duka. Tak ada lagi panggung yang memaksa guru menunduk karena mal
Orangtua, Ke Mana?
Mari kita pulang dulu sebelum banyak menuntut. Pulangkan jiwa dan raga ke rumah. Pulangkan hati ke anak kita sendiri. Ke rumah yang lampunya kadang lebih terang oleh layar HP dan TV daripada oleh pelukan hangat. Pulang ke anak yang bertanya dalam diam, “Hari ini aku belajar ditemani siapa ya?”. Ke tanggung jawab yang tidak bisa dititipkan ke orang lain, tidak bisa diwakilkan oleh jadwal, raport, dan wali kelas, bahkan kepala sekolah juga pimpinan yayasan.
Kita sering menitipkan seluruh harapan ke 30-45 menit di kelas, lalu lupa pada 16 jam di rumah yang menentukan arah anak. Padahal anak tidak menjadi malas dalam semalam. Ia menjadi malas saat tidak ada yang bertanya “Anak sayang, belajar apa hari ini?”, saat kompor semangat di rumah belum pernah dinyalakan. Itu satu-satunya jalan agar anak tidak malas. Pulang, peluk jiwa anak kita. Itu satu-satunya cara agar guru tidak lagi terluka. Bukan kah kita sebagai orangtua adalah guru pertama dan utama bagi anak-anak kita?
Sebagai orangtua, kita layak mengetuk hati kita sendiri. Jadilah kompor sebelum menuntut api. Jadilah lentera sebelum menuntut cahaya. Karena jika rumah gelap, seribu lampu di sekolah pun tak akan cukup. Dan jika orangtua pergi, guru akan sendirian memanggul langit di pundaknya. Maka, pulanglah dulu. Duduklah 10 menit. Matikan bising. Nyalakan telinga dan hati. Di sanalah kemerdekaan anak yang sesungguhnya dimulai. Itu pulalah yang membuat guru merdeka dari celaan dari mereka yang seharusnya memuliakannya. (*)






