Opini

Muhamad Syukur: Meniti Panggung Jakarta

8
×

Muhamad Syukur: Meniti Panggung Jakarta

Share this article
IMG 20260904 WA0079
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Problem Silver: Beginilah KDM Menimpin”

MUHAMAD Syukur, S.M. lahir di tanah Cereng pada 29 Agustus 2003. Nama itu bukan sekadar goresan di akta, melainkan doa yang disematkan orang tua agar hidupnya selalu dalam rasa cukup dan syukur, meski jalan di depan masih kabur oleh debu.

Ia anak kedua dari pasangan Bapak Abdul Hamid dan Ibu Jaya. Di balik kesederhanaan rumah petani, tumbuh lima bersaudara: Ahmad Hamja, Muhamad Syukur, Siti Haja Nur Ina, Arman Kancak, dan Dafa Ramdan Althaf.

Lima bersaudara, satu arah kiblat, satu keyakinan bahwa rezeki dijemput dengan peluh. Sang Ayah tak pernah mengajarkan teori di papan tulis. Ia mengajar lewat cangkul, lewat keringat yang jatuh ke tanah, lewat kalimat pendek yang berat maknanya: “Jangan malu dengan asalmu. Jadikan ia bara agar kau menyala lebih terang dari kami.”

Pendidikan pertamanya bertunas di SDK Cereng, 2011-2017. Di bangku kayu itulah huruf mulai mengenal namanya, dan namanya mulai mengenal dunia. Ia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Cereng, 2017-2019. Di masa itu ia belajar bahwa ilmu tanpa adab ibarat pedang tanpa sarung: tajam, tapi melukai diri sendiri.

Lalu MA Muhammadiyah 01 Lamongan Jawa Timur menjadi persinggahan berikutnya. Di pesantren itulah ia menempa niat, bahwa merantau bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk kembali membawa pelita.
Langkahnya sempat tertahan di pintu kampus negeri.

Penolakan itu bukan akhir, melainkan tikungan. ITB Ahmad Dahlan Jakarta, 2022-2026, membukanya. Dari kota yang tak pernah tidur, seorang anak desa belajar mengeja kemandirian dengan aksara kerja keras.

Kampus tak hanya memberinya gelar. Ia ditempa di organisasi: Sekretaris Umum IMM, Ketua ISO Sekolah Gerakan, Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di Himpunan Jurusan Manajemen, hingga akhirnya dipercaya sebagai Presiden Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan Jakarta.

Baca Juga :  KDM dan Politik Visibilitas Kemiskinan

Amanah itu mengajarinya satu hal: memimpin adalah mengurangi ego, menambah kerjasama. Di ruang-ruang diskusi dan panggung publik, ia mengasah soft skill dan keberanian berbicara. Suaranya yang dulu gemetar di hadapan banyak orang, perlahan menjadi jembatan.

Ia bertemu teman dari berbagai daerah, dengan logat, adat, dan bahasa yang berbeda. Perbedaan itu tak memisahkan, justru memperkaya. Ia punya kesempatan menginjak tanah-tanah baru. Setiap perjalanan menorehkan kenalan, setiap kenalan menitipkan cerita. Dunia yang dulu sempit, kini meluas seperti peta yang terus dibuka.

Dalam dirinya bertumbuh tiga pegangan: kejujuran, kesopanan, dan budaya. Ia percaya, di tengah arus modern yang deras, nilai-nilai itu adalah sauh agar tidak hanyut.

Nasihat orang tuanya ia jadikan kompas. Hemat, jangan berhenti berusaha. Kuliah dengan rajin, jangan putus asa. Masuk organisasi, buktikan bahwa anak petani pun bisa bersaing. Kalimat-kalimat itu ia teruskan kepada adik-adik seperjuangan, agar mereka tak merasa kecil karena latar belakang.

Panutannya jelas: K.H. Ahmad Dahlan. Bagi Syukur, beliau adalah cermin pemimpin yang mengorbankan diri untuk umat, yang membangun dengan visi jauh ke depan. Dari semangat Muhammadiyah itulah ia belajar bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Cita-citanya belum selesai. In syaa Allah ia akan melanjutkan S2 Manajemen. Ia ingin ilmunya tidak berhenti di atas kertas. Ia ingin menyentuh ekonomi modern yang berdampak nyata, yang membuat masyarakat merasakan manfaat, bukan hanya mendengar wacana.

Ia menunduk dalam syukur. Menjadi sarjana pertama di keluarganya adalah anugerah yang tak pernah ia bayangkan. “Segala sesuatu itu berawal dari niat,” katanya. Dan niat itulah yang mengantarnya dari penolakan ke penerimaan, dari keraguan ke keyakinan.

Baca Juga :  Mengenang dan Nasehat Terbaik Pak Supratono

Di balik semua itu ada doa dua orang tua dan Bapak Tua, Abdul Jehamat (Almarhum). Bapak Tua menuntunnya dalam agama, Ayah dan Ibu menuntunnya dalam ilmu. Kini ia berjanji: akan membalas satu persatu perjuangan mereka dengan pengabdian, dengan karya, dengan hidup yang bermanfaat.

Dari pematang sawah Cereng ke panggung Jakarta, Muhamad Syukur berjalan. Bukan untuk dikenal, tapi untuk berguna bagi umat dan bangsa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *