Opini

Flores Tidak Sendiri: Cahaya di Tengah Luka

7
×

Flores Tidak Sendiri: Cahaya di Tengah Luka

Share this article
IMG 20260903 WA0068
Syamsudin Kadir Penulis Buku "NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan" Foto : Dok Pribadi

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

DI tanah Flores, gempa meninggalkan bekas yang dalam. Rumah retak, jalan sunyi, dan hati yang belum selesai bergetar. Duka masih tinggal, seperti embun yang belum kering di pagi hari. Namun dari tanah yang retak itu, akar keyakinan masih terus mencari air. Karena luka yang dirawat bersama, pada waktunya akan belajar menjadi kuat. Dan dari setiap retakan itu, tumbuh janji bahwa kita akan saling menjaga.

Selamat Datang Pak Menteri

Di tengah itu, hadir seorang pembawa pesan. Pada Kamis 3 September 2026, Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Nazarudin Umar melangkah ke Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan. Ia adalah pengingat bahwa kita tidak berjalan sendiri. Langkahnya membawa salam dari negeri yang jauh, tetapi niatnya sedekat doa. Dan dalam tatapnya tersimpan janji bahwa negara tidak akan memalingkan wajah.

Labuan Bajo menyambut dengan mata yang lelah tetapi masih percaya. Di antara deru ombak dan cerita warga, ada ruang untuk didengar, untuk dipegang, untuk dikuatkan. Anak-anak mengintip dari balik pintu, mencari kepastian dalam senyum orang dewasa. Para tetua mengangguk pelan, seakan berkata: kami masih di sini. Bahkan laut pun merendahkan suaranya, ikut mendengarkan.

Bantuan sebesar Rp 3 miliar diserahkan. Angka itu bukan hanya nominal. Ia adalah tangan yang terulur, beras yang akan dimasak, atap yang akan diperbaiki, dan sekolah yang akan kembali ramai. Ia adalah semen untuk dinding, buku untuk meja, dan obat untuk yang demam.
Ia adalah cara kita berkata pelan: mari mulai lagi. Ia adalah bukti bahwa duka kita dipikul bersama, bukan ditinggal sendiri.

Baca Juga :  23 Tahun Manggarai Barat; Jalan Raya Tak Mesti Beraspal?

Ini wujud nyata dari negara yang hadir. Bukan dari jauh, tetapi berdiri di tanah yang sama, merasakan debu yang sama, dan berbagi beban yang sama. Hadir berarti duduk di beranda yang belum selesai diperbaiki. Hadir berarti mendengar keluh tanpa tergesa menutup pembicaraan. Karena kepemimpinan yang baik selalu berani basah oleh hujan yang sama.

Di antara puing-puing, kita belajar arti baru tentang kekuatan. Bahwa runtuh bukan akhir, dan setiap batu yang dipindahkan adalah doa yang dikerjakan. Tangan yang kapalan hari ini adalah tangan yang sedang menulis masa depan. Peluh yang jatuh bukan sia-sia, ia menyuburkan tanah untuk rumah baru. Dan setiap ketukan palu adalah syukur yang punya suara.

Semoga bantuan ini menjadi energi baru. Menjadi napas tambahan bagi ibu yang menata dapur, bagi anak yang ingin kembali ke kelas, bagi bapak yang membangun tiang rumahnya. Semoga menjadi lentera di malam yang panjang, dan payung saat hujan kembali turun. Semoga menjadi alasan untuk bangun lebih pagi dengan semangat yang tidak padam. Karena harapan kecil yang dirawat, pada akhirnya bisa menjadi nyala yang besar.

Flores terluka, tetapi tidak sendiri. Luka ini dibagi, dipikul bersama, dan dirawat dengan kasih yang tidak menghitung untung rugi. Tetangga menanak nasi untuk tetangga. Antar warga saling menguatkan. Sekolah darurat berdiri, walau hanya dari terpal dan papan. Karena di saat susah, kita menemukan keluarga yang lebih luas dari sekadar nama.

Flores berduka, tetapi tetap memiliki harapan.
Harapan itu tumbuh pelan, seperti tunas di sela batu, karena disiram perhatian dan solidaritas.
Ia tumbuh dari doa yang dipanjatkan setiap tahajut di ujung malam. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang tidak berhenti bekerja. Dan ia tumbuh karena kita memilih untuk tidak menyerah pada putus asa. Ia tumbuh karena kita percaya, bahwa setelah malam tergelap, fajar pasti datang.

Baca Juga :  Presiden Prabowo memang Negarawan

Mari kita menata kembali kehidupan, satu langkah demi satu langkah. Menjahit yang sobek, membangun yang roboh, dan menumbuhkan keyakinan bahwa besok masih bisa lebih baik. Mulai dari rumah, lalu kampung, lalu jalan yang menghubungkan kita. Mulai dari hati yang memaafkan lelah, lalu melangkah lagi. Karena pemulihan bukan perlombaan cepat, ia adalah perjalanan pulang

Terima Kasih

Terima kasih, atas kepedulian yang tidak menunggu sempurna. Atas perhatian yang datang tepat ketika lelah hampir menyerah. Atas hati yang memilih hadir bersama, bukan hanya berbicara dari jauh. Terima kasih karena tidak menakar duka dengan angka, tetapi menakarnya dengan empati. Terima kasih karena membuat kami merasa dilihat, bukan dilupakan.

Terima kasih telah berjalan bersama kami. Kehadiran Bapak Menteri menjadi cahaya kecil yang mengingatkan: di saat gelap, masih ada yang menyalakan pelita untuk Flores. Cahaya itu tidak menyilaukan, ia hanya cukup untuk melihat langkah berikutnya. Dan dari cahaya kecil itulah, kita belajar untuk percaya lagi. Bahwa setelah badai, tanah ini akan kembali menumbuhkan harapan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *