Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia”
MUHAMAD Jufryani Gun, ia lahir di Cereng, pada 18 Februari 1999. Bukan di gedung tinggi, melainkan di antara bisik angin sawah dan keringat ayah. Juf, Gun, demikian ia akrab disapa, tumbuh dari tanah yang sama dengan padi, diajarkan sejak kecil bahwa setiap butir ilmu harus disemai dengan sabar, seperti petani menanam harapan.
Ia anak kedua dari lima bersaudara. Bapak Abdul Jamin dan Ibu Siti Nurhayati menamainya dengan doa. Di rumah sederhana itu ia berlari bersama Yaman, Muhidin, Julfiayti, Ratna, dan Arnidianti. Keluarga menjadi madrasah pertama, tempat ia belajar bahwa kehormatan bukan diukur dari harta, melainkan dari cara menjaga nama baik kampung.
Langkah pertamanya di bangku sekolah dimulai di MIS Leheng, 2005 hingga 2012. Di sanalah ia pernah tertahan, tidak naik kelas lima, karena sakit. Kegagalan itu tidak mematahkan. Ia menjadikannya batu pijakan, bukti bahwa jalan menuju cahaya kadang harus berbelok dulu sebelum lurus.
SMP Muhammadiyah Mataram menyambutnya 2012-2015, lalu SMK Muhammadiyah Mataram 2015-2018. Dari seragam putih-biru ke seragam kejuruan, ia membawa satu hal yang sama: semangat anak tani yang tidak kenal menyerah. Buku dan praktik ia genggam bersamaan, karena ia tahu hidup tidak cukup hanya dengan teori.
Kampus UIN Mataram menjadi persinggahan berikutnya. Di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan PGMI, 2018-2022, ia menempuh ilmu dengan cara yang khas mahasiswa rantau: Sistem Kebut Semalam (SKS). Malam-malam panjang ditemani lampu dan kopi, bukan untuk lulus saja, tetapi untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak boleh membatasi mimpi. Hingga kelak meraih gelar Sarjana Pendidikan Guru, S.Pd.,Gr.
Di kampus ia tidak diam. Ia masuk PMII sebagai anggota biasa, menjadi Sekjen IMM Komisariat Buya Hamka, memimpin sebagai Ketua Umum IPM2S-Mataram, juga Ketua Umum FK2M-NTB, dan dipercaya sebagai Sekretaris HMJ. Baginya organisasi bukan sekadar nama di CV. Ia masuk untuk menempa diri, mengasah kemampuan, agar kelak pulang ke masyarakat membawa lebih dari sekadar ijazah.
Dampaknya terasa. Ia tumbuh menjadi pribadi multitalenta, lentur di panggung, tangguh di lapangan. Di tengah orang banyak ia belajar berbicara, di tengah perbedaan ia belajar mendengar. Organisasi mengajarinya bahwa kepemimpinan dimulai dari mau melayani.
Prinsip hidupnya sederhana dan kokoh: tidak merokok, tidak minum-minuman keras, dan menjauhi segala yang merusak. Pesan orang tua selalu ia simpan di dada, “Jadilah anak kebanggaan keluarga dan kampung halaman.” Dan satu kalimat dalam bahasa ibu yang tak pernah ia lupakan: Neka mese nai, jangan sombong, jangan lupa bersyukur.
Ia memegang falsafah yang berat namun indah. Selalu ingat kebaikan orang lain kepada kita, dan lupakan kesalahannya. Sebaliknya, selalu ingat kesalahan kita kepada orang lain, dan lupakan kebaikan yang pernah kita beri. Dengan cara itu ia menjaga hati tetap ringan, dan menjaga relasi tetap jernih.
Di masa kuliah, tiga nama menjadi lentera: Bang Syamsudin Kadir, Bang Salahudin, dan Bang Syaiful Barca Artadiantoro. Mereka tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga menginspirasi. Dari mereka ia belajar bahwa menjadi hebat berarti menjadi orang yang diorangkan oleh kebanyakan orang, bukan karena dipuja, tetapi karena dibutuhkan.
Di tanah rantau ia menemukan saudara baru. Ketika kepepet datang, teman saling menguatkan. Tidak ada yang dibiarkan jatuh sendiri. Dari situlah ia mengerti makna persaudaraan: bukan sekadar berbagi tawa, tetapi juga berbagi beban.
Sejak lahir ia membawa bakat, hanya saja perlu diasah. Dan ia mengasahnya di kelas, di organisasi, di jalanan Mataram. Ia menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sahabat teladan, meniru kesederhanaan, kejujuran, dan keberanian menyampaikan kebenaran dengan lembut.
Kini ada niat besar yang ia simpan: melanjutkan S2 di bidang Pendidikan Sekolah Dasar. Mimpinya untuk Manggarai Barat dan kampung halaman jelas, menjadi pemimpin yang amanah dan fathonah. Pemimpin yang tidak hanya memerintah, tetapi mengayomi, yang ilmunya dipakai untuk mengangkat derajat orang banyak.
Untuk guru, orang tua, kekasih, dan teman seperjuangan, ia menundukkan kepala. Terima kasih atas dedikasi dan pengabdian dalam mendidiknya. Doa terbaik ia kirimkan, semoga semuanya selalu sehat walafiat. Karena sejatinya, setiap pencapaiannya adalah gema dari doa-doa yang pernah dipanjatkan untuknya. (*)






