Opini

Taufiq Kusuma: Jejak Menenun Cahaya

6
×

Taufiq Kusuma: Jejak Menenun Cahaya

Share this article
IMG 20260905 WA0040
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia”

DI antara kabut Ruteng, Manggarai, NTT yang dingin dan doa-doa yang dipanjatkan subuh, lahirlah seorang anak pada 15 November 2003. Namanya Taufiq Kusuma. Kini di belakang namanya bertengger gelar S.Kom, bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai saksi bisu dari perjalanan panjang seorang pemuda yang memilih merantau demi ilmu.

Ia adalah buah hati dari Bapak M. Syahakar Bahaman, seorang pensiunan PNS yang mengajarkan arti ketekunan lewat diam dan kerja, serta Ibu Siti Ila, pensiunan PNS sekaligus ibu rumah tangga yang menjadikan rumah sebagai madrasah pertama tentang kasih. Dari rahim kesederhanaan itulah, nilai-nilai hidup mulai ditanamkan tanpa banyak kata.

Taufiq adalah anak kelima dari lima bersaudara. Di atasnya ada Sutiyah Karmilla, Rahmadiani Suratni, Agususanto Firmansyah, dan Nurahmi Purnamasari. Dalam keluarga inti itu, ia belajar bahwa cinta tidak diukur dari banyaknya suara di meja makan, melainkan dari hangatnya perhatian yang tak pernah putus.

Langkah pertamanya di dunia pendidikan dimulai di SDI Waemata, 2009-2015. Di bangku kayu dan papan tulis kapur itu, ia pertama kali belajar mengeja mimpi. Huruf demi huruf menjadi tangga, dan guru-gurunya menjadi lentera kecil yang menuntun. Selama enam tahun ia mengalami perubahan, mengenal ilmu dasar-dasar secara umum.

Tahun 2015, ia menitipkan diri di Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB. Di sana, di antara lantunan ayat dan kesederhanaan santri, ia belajar menundukkan ego. Setahun berselang, ia berpindah dan melanjutkan ke SMPN 1 Komodo, 2016-2018. Pesantren dan sekolah negeri menjadi dua sayap yang mengajarinya: spiritualitas dan nalar harus berjalan beriringan.

Masa SMA ia tempuh di SMAN 1 Komodo, yang tak jauh dari rumah tempatnya berdomisili. Pada tahun 2018-2021. Di koridor sekolah itulah Taufiq mulai bertanya tentang arah. Ia menyadari bahwa ijazah hanyalah kertas, sementara karakter adalah warisan yang akan ia bawa kemana pun kaki melangkah.

Tahun 2022 menjadi tahun keberangkatan. Ia meninggalkan tanah Manggarai Barat dan merantau ke Kota Kupang untuk menuntut ilmu di Universitas Nusa Cendana, Fakultas Sains dan Teknik, Jurusan Ilmu Komputer. Selama 3 tahun 9 bulan, ia tidak hanya berhadapan dengan kode dan algoritma, tetapi juga dengan rindu, lelah, dan sunyi yang menempa kedewasaan.

Baca Juga :  Ekonomi Konstitusi: Mengembalikan Kedaulatan Ekonomi kepada Rakyat dan Umat

Kampus tidak ia jadikan sekadar tempat kuliah. Taufiq aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kupang dan kini dipercaya sebagai Bendahara Umum Komisariat KIPMA Undana. Dari podium organisasi, ia melatih publik speaking, memperluas wawasan, dan merajut relasi. Baginya, organisasi adalah ruang latihan menjadi manusia yang berguna bagi sesama.

Di tanah rantau, ia menemukan falsafah yang ia pegang erat: “Rumah kawan, rumah kita.” Hidup di lingkungan yang mayoritas berbeda tidak membuatnya gentar. Justru di sanalah ia merasakan toleransi yang tinggi. Ia belajar beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, menghormati tanpa harus menyerupai. Dari perbedaan itu ia memetik kebijaksanaan, bahwa akar boleh berbeda arah, asalkan tetap minum dari sumber kemanusiaan yang sama.

Ia berulang kali mengingatkan dirinya sendiri: tujuan merantau hanyalah menuntut ilmu. Tidak ada yang lain. Dalam setiap langkah, ia menanamkan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Karena itu, ia terbiasa berpikir panjang sebelum bertindak, sadar bahwa setiap tindakan akan mengetuk pintu konsekuensi, untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Inspirasi terbesarnya tidak semuanya datang dari buku motivasi, melainkan ada juga yang berasal dari rumah. Orang tuanya adalah teladan kerja keras dan pengorbanan. Kakak-kakaknya adalah mentor yang menuntun ketika ia jatuh dalam kesulitan akademis. Dari mereka, Taufiq belajar bahwa kesuksesan adalah kerja kolektif sebuah keluarga.

“Sosok yang menginspirasi saya adalah orang tua dan kakak-kakak saya. Alasannya, orang tua menunjukkan teladan kerja keras dan pengorbanan demi pendidikan saya, sementara kakak-kakak berperan sebagai mentor yang selalu membimbing dan memotivasi saya setiap kali menghadapi kesulitan akademis,” ungkapnya.

Ada luka yang pernah menjadi guru. Kehilangan hubungan dengan orang-orang terdekat membuatnya menangis. Namun dari kesedihan itu lahir kesadaran: mungkin Tuhan sedang menyayanginya dengan menjauhkan yang membawa dampak buruk. Titik balik itu mengubahnya. Ia menjadi lebih selektif, lebih fokus, dan lebih berani menata masa depan.

Baca Juga :  Presiden dan Kapolri, Jadilah Panglima Perang Lawan Mafia Narkoba!

“Awalnya itu terasa menyakitkan, namun akhirnya saya sadar bahwa itu adalah cara Tuhan menyayangi saya dengan menjauhkan orang-orang yang membawa dampak buruk, baik saya sadari maupun tidak. Kesadaran spiritual ini mengubah kesedihan saya menjadi motivasi besar untuk segera berbenah diri, selektif memilih lingkaran pertemanan, dan fokus pada pengembangan masa depan,” akunya.

Kenangan paling berkesan lahir dari kebersamaan. Sebagai anak rantau, ia dan teman-temannya menjadikan rumah kawan sebagai rumah kedua. Di sana mereka begadang mengerjakan tugas, berbagi lauk, dan belajar etika hidup bersama. Dari pengalaman itu, Taufiq memahami arti solidaritas sejati, bahwa berat akan ringan jika dipikul bersama.

Di luar ruang kelas dan rapat organisasi, ia menemukan dirinya di lapangan futsal. Olahraga itu mengajarkannya tentang kerja sama tim, komunikasi cepat, dan keputusan dalam sepersekian detik. Di atas lapangan, ia belajar bahwa kemenangan bukan milik yang paling hebat, melainkan milik yang paling kompak. Futsal juga melatih mental pantang menyerah dan memperluas lingkar pertemanannya.

Dalam skripsinya yang berjudul “Implementasi CNN Xception untuk Membedakan Citra Manusia dan Citra Manusia Hasil Manipulasi AI Berbasis ChatGPT Image 1.5”, ia menaruh Xception bukan sebagai alat, melainkan sebagai lentera. Di zaman ketika wajah bisa dilahirkan dari perintah dan bayang bisa disulap menjadi nyata, ia duduk lama di depan layar, mengajarkan mesin untuk membaca yang tak terlihat. Bukan bentuk dagu, bukan kerapatan rambut, tapi retak halus kejujuran yang sering luput dari goresan algoritma.

Baginya, membedakan citra bukan soal menang dan kalah. Itu adalah penjagaan. Ia tahu bahwa ChatGPT Image 1.5 bisa melukis manusia dengan senyum yang terlalu sempurna, namun ia percaya masih ada denyut yang tidak bisa dipalsukan. Penelitian ini adalah puisinya yang ditulis dengan data dan epoch. Dari setiap pelatihan, ia belajar bahwa teknologi boleh pandai meniru cahaya, tetapi hanya hati manusia yang tahu kapan cahaya itu tulus dan kapan ia hanya pantulan.

Baca Juga :  Setiap Kita Pasti Bertemu Ajal Kematian

Pandangan ke depan Taufiq tidak berhenti pada gelar. Ia berniat melanjutkan S2 setelah mendapat pekerjaan. Lebih jauh, ia bermimpi bisa turut serta mengembangkan Manggarai Barat menjadi kota digital. Baginya, tidak ada yang tidak mungkin jika diiringi doa dan usaha. Keyakinan itu menjadi kompas ketika jalan terasa gelap. Yakin usaha sampai, Yakusa. Ia percaya teknologi harus berpijak pada tanah kelahiran, bukan hanya di awan. Dan ia ingin setiap anak di kampungnya kelak bisa menulis masa depan dengan kode dan harapan.

Di akhir perjalanan akademiknya, ia menunduk dalam syukur. Terima kasih ia haturkan kepada Bapak/Ibu Rektor dan seluruh jajaran dosen yang telah mendidik dengan sabar. Ilmu, nilai, dan teladan yang diberikan bukan hanya bekal akademik, melainkan fondasi untuk melayani masyarakat. Ia mengingat ruang kelas yang pernah menjadi rumah kedua, dan papan tulis yang diam-diam mengajarkan tentang ketekunan. Setiap koreksi dan nasihat kini tumbuh menjadi benih tanggung jawab yang ia bawa ke dunia kerja.

Dan gelar yang kini ia sandang, ia persembahkan sepenuhnya untuk orang tua dan kakak-kakaknya. Karena di setiap huruf di ijazah itu, ada doa, ada peluh, dan ada cinta yang tidak pernah berhenti mengalir. Ada harapan yang diam-diam mereka titipkan, agar ia menjadi cahaya bagi banyak orang. Ia tahu, di balik nama yang tercetak, ada nama-nama yang tak pernah lelah menyebutnya dalam sujud. Semoga kelak ia bisa membalas semua itu bukan dengan kata, tetapi dengan karya yang bermanfaat.

“Gelar yang saya raih sekarang saya hadiahkan sepenuhnya untuk kedua orang tua dan seluruh kakak-kakak saya. Pencapaian ini adalah buah dari tetes keringat, pengorbanan, serta doa tanpa putus dari orang tua, sekaligus bimbingan dan motivasi dari kakak-kakak yang selalu menjadi mentor saya. Gelar ini adalah bentuk dedikasi dan rasa terima kasih saya atas seluruh dukungan tanpa syarat yang mereka berikan selama ini,” pungkasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *