Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”
IA lahir di Rekas, Desa Kempo, Mbeliling.Achbar Safrudin, M.Pd. Putra ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya Safrudin Jempo, ibunya Siti Harfaming. Keduanya petani yang hidup dari tanah dan doa. Saudara-saudaranya Ani, Amir, Basri, dan Heni. Dari rumah sederhana itu ia belajar arti ikhtiar. Dua sosok menanamkan arah hidupnya. Orangtua yang mengajar kerja dan sabar.
Pendidikan
Dan Abdul Sudin, pamannya yang menjadi ayah kedua. Sejak usia tiga tahun ia diasuh oleh beliau. Bersama Ibu Siti Mira di SDI Taal, Sano Nggoang. Tujuh tahun ia tumbuh dalam asuhan itu. Hingga akhirnya kembali ke Rekas, ke SDK Rekas Dua. Kelas lima menjadi pintu baru.
Bapak Abdul Sudin pindah ke MIS Nurul Fikri Leheng. Ia memohon agar Achbar ikut diasuh lagi. Maka turunlah ia ke kelas tiga, karena madrasah itu baru berdiri. Ia masuk angkatan pertama di sana. 2004, ia lulus dari MIS Nurul Fikri Leheng.
Tahun yang sama langkahnya menyeberang ke Bima. Diantar Bapak Abdul Sudin ke Pondok Al-Ikhwan Salama. Ia satu-satunya santri dari Manggarai saat itu. Pondok baru, didirikan Bupati Haji Zainul Arifin. Dari SMP 2007 hingga SMA 2010 ia tempuh.
Di liburan ia mengajak anak kampung. Dari Rekas, Cereng, Lembor, mereka ikut menuntut ilmu. Usai SMA, tawaran kuliah datang dari Sukabumi. Ustadz menyarankan Ar-Royah untuknya. Dengan semangat ia pulang menyampaikan pada orangtua.
Jawabannya menahan langkah: “Tahun depan, kakakmu menikah tahun ini.” Dadanya sesak, air matanya jatuh. Ia lari ke kebun, memikul kayu sambil menangis. Namun luka itu tidak mematikan mimpi. Ia ingat tabungan di BRI masa MIS. Hasil jual ayam, tujuh ratus ribu. Tersisa lima ratus ribu ia ambil semua.
Dua pasang baju, sarung, dan tas kecil. Malam itu ia minta ibu menyiapkan beras. Pagi harinya ia berangkat ke Labuan Bajo, menuju Bima. Allah membukakan jalan ke timur jauh. Ia melanjutkan studi di Ma’had Umar bin Khattab, Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. D2 Bahasa Arab 2011-2013 ia selesaikan. Lalu S1 Syariah 2013-2017 ia tuntaskan. Dilanjut S2 Manajemen Pendidikan Islam 2018-2019. Semua ia jalani sebagai mahasantri.
Gelar yang ia raih bukan untuk dirinya. Itu hadiah untuk orangtua, istri, dan anak-anak. Mereka yang menemani dalam lelah dan sujud. Setelah S2 ia mengabdi sebagai dosen di Ma’had Umar bin Khattab.
Asrama mempertemukannya dengan nusantara. Ada teman dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatra. Ada dari Bali, NTB, bahkan Malaysia dan Thailand. Di sana ia belajar hidup dalam perbedaan.
Organisasi dan Inspirasi
Organisasi menjadi ruang tempa dirinya. IMM dan BEM ia ikuti, dua periode memimpin IMM. Dari sana ia belajar memimpin dengan adab. Berorganisasi mengajarinya banyak hal. Mandiri, tahu batas, tahu cara bergaul. Belajar memimpin diri sebelum memimpin orang. Belajar bahwa prinsip lebih penting dari popularitas. Hanya bermodal Al-Qur’an di dada, Allah mudahkan rezeki dan segala urusan. Karena kejujuran adalah bekal utama merantau.
Ada satu wajah yang menjadi cermin. Bapak Syawali dari Batu Malang. Usia 83 tahun, pensiunan KUA, serba terbatas. Tapi semangat belajarnya melampaui usia muda. Ia menjadi inspirasi satu kelas. Setelah wisuda, beliau wafat. Rahimahullah. Dari beliau Achbar belajar: ilmu tak kenal pensiun.
Nasihat dan Penjaga Hati
Nasihat orangtua selalu ia simpan. “Jalani hidup apa adanya. Jangan memaksa yang tak mungkin.Teruslah belajar.” Untuk para pelajar di rantau ia berpesan: Perbaiki niat, fokus pada tujuan. Jangan pernah mengecewakan orangtua.
2016 menjadi tahun baru dalam hidupnya. Ia menikah dengan Siti Hajenah, putri Bapak Abdul Hasiman dan Ibu Siti Tija dari Ndewel. Menikah di semester tujuh S1 Syariah, bersama hampir semua teman sekelasnya. Bagi mereka nikah adalah ibadah panjang. Jalan menuju keberkahan dan kekayaan hakiki.
Impian
Rencana S3 tertunda karena datangnya pandemi. Akhirnya ia memilih pulang ke kampung. Pandemi justru melahirkan niat besar. Tahun 2020 lahir Pondok Insan Kamil Flobamora. Berizin operasional dari Kemenag Manggarai Barat.
Awalnya untuk anak belajar di masa corona. Kini enam tahun berjalan, fasilitas bertahap dibenah. Ada rencana membangun sekolah formal. Agar ilmu tidak perlu jauh mencari.
Mimpinya untuk kampung sangat sederhana. Membangun pesantren Qur’an di tanah sendiri. Mencetak generasi Islam yang kuat dan beradab. Agar anak-anak Manggarai Barat punya rumah ilmu. Agar mereka tidak perlu pergi jauh untuk tumbuh. Karena menurutnya pendidikan adalah kepulangan. Pulang membawa manfaat, bukan hanya ijazah.
Pegangan hidupnya satu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” Kalimat itu menjadi kompas langkahnya. Dari dosen, dai, hingga pendiri pondok. Ia percaya, manfaat tidak harus besar. Cukup istiqamah, cukup tulus. Maka Allah akan menumbuhkannya.
Harapan
Untuk rektor dan para dosen ia bersyukur. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman. Semoga pertemuan dan perpisahan ini diridhoi. Untuk orangtua ia menadahkan doa. Semoga bisa membahagiakan hingga akhir hayat. Untuk para santri ia berpesan: Tetap semangat, jadilah pribadi Qurani.
Inilah Achbar Safrudin. Anak petani dari Rekas yang berjalan jauh. Dari kandang ayam ke ruang kelas. Dari tabungan lima ratus ribu ke gelar magister. Dari rantau ke rumah, dari murid ke guru. Ia membuktikan, kemauan lebih tajam dari keterbatasan. Dan dengan izin Allah, tanah kecil bisa melahirkan cahaya. (*)






