Opini

Iwan Wahyudi: Jejak Pena dan Pengabdian

21
×

Iwan Wahyudi: Jejak Pena dan Pengabdian

Share this article
IMG 20260909 WA0072
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”

IWAN Wahyudi, SE. Nama yang kini menumpang di sampul buku, di undangan seminar, dan di ruang-ruang kampus. Gelar itu bukan garis akhir, melainkan amanah. Ia persembahkan untuk dua orang yang melahirkannya, dan untuk semesta yang ia layani dengan karya. Karena ilmu, baginya, harus kembali menjadi cahaya.

Ia lahir di Jakarta, pada 17 Januari. Kota besar menjadi saksi pertama tangisnya, namun jiwanya kelak berlabuh ke timur. Tanggal itu menandai awal dari perjalanan panjang, dari gedung ibukota ke rumah sederhana, dari mimpi anak rantau ke kerja yang nyata. Di sanalah waktu mulai menuliskan takdirnya.

Keluarga

Ayahnya bernama Alm. H. Abdul Muthalib. Ibunya bernama Hj. Siti Safiah. Satu berdiri di depan papan tulis mengajar, satu menenun sabar di balik pintu rumah. Dari guru ia belajar disiplin dan ilmu, dari ibu ia belajar kasih dan doa. Dua tangan itu membentuk sumbu hidupnya.

Profesi orang tua sederhana, namun agung. Ayah adalah guru, ibu adalah IRT. Warisan harta dapat habis, namun warisan yang abadi adalah nilai. Kejujuran, kerja keras, dan tawakal. Itu bekal yang dibawa Iwan merantau. Dan itu pula yang menjaganya tetap berdiri.

Ia anak pertama dari dua bersaudara. Sebagai sulung, ia belajar memimpin sejak dini. Belajar menanggung, belajar mencontohkan. Meski nama saudaranya tidak disebut di sini, ikatan darah itu tetap menjadi rumah pulang. Keluarga kecil itu mengajarkannya arti tanggung jawab. Bahwa sulung adalah pelita bagi yang lain.

Pendidikan

Pendidikan dasar ia tempuh di SDN Kali Abang Tengah, Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat. Di bangku kayu itu ia mengeja huruf pertama, dan meminjam buku untuk mengenal dunia. Tahun masuk dan lulus mungkin memudar, tapi semangat belajarnya tak pernah lulus. Sekolah itu menanamkan: mulai kecil, bermimpi besar.

Ia melanjutkan ke SLTPN 1 Belo, kini bernama SMPN 1 Palibelo, Kabupaten Bima. Jarak memisahkan dari orang tua, tapi mempertemukan dengan kemandirian. Di tanah Bima ia mengenal akar, dan mengenal dirinya yang sedang tumbuh. Lulus dari sana dengan keberanian melangkah jauh.

Masa SMA ia habiskan di SMUN 1 Raba, sekarang SMAN 1 Kota Bima. Remaja yang banyak bertanya dan mencari. Antara cita-cita dan kenyataan yang menantang. Ia lulus dengan dada penuh harapan, dan kaki yang siap merantau lagi. Bima memberinya identitas, dunia memberinya ujian.

Ia melanjutkan studi di Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Kampus menjadi ruang kedua untuk ditempa. Di sana ia tidak hanya mengejar nilai, tapi juga mengejar makna. Dari dua almamater itu ia pulang membawa ilmu, pengalaman, dan luka yang mengajar

Baca Juga :  Jejak Suryanti: Meniti Jalan, Meraih Sarjana

Organisasi

Kuliahnya ramai oleh organisasi. Ia menjadi Sekretaris LDK Baabul Hikmah. Ketua KAMMI Komisariat Unram. Anggota Bidang III BEM Fakultas. Anggota Tim 7 Perumus Pemira Langsung. Ketua BEM Unram. Hingga Ketua KAMMI Daerah NTB.

Mengapa ia berorganisasi? Karena ia percaya pada trilogi sukses mahasiswa: sukses akademik, sukses organisasi, sukses dakwah. Ruang kelas memberi teori, lapangan memberi jiwa. Di organisasi ia belajar memimpin tanpa arogan, melayani tanpa pamrih, dan memahami manusia di luar silabus.

Dampak organisasi besar bagi dirinya. Ia mengenal potensi diri, orang lain, dan lingkungan. Ia belajar bergaul dengan perbedaan yang heterogen. Ia bisa menyalurkan ide dan mewujudkannya. Ia punya banyak teman untuk bertukar mimpi. Organisasi mengasahnya, bukan sekadar menghias CV. Dari sanalah ia belajar arti kolaborasi.

Masa kuliah menyimpan banyak hal unik. Pertama kali ia berorasi di tengah demonstrasi. Pertama kali ia duduk di forum BEM SI tingkat nasional. Ia hidup mandiri dengan uang saku terbatas, tanpa mengeluh kepada orang tua. Ia pernah menjadi Co-Ass dosen saat praktikum. Dan ia mendirikan Mendirikan Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) Bima Domp

Inspirasi dan Prinsip Hidup

Hidup di rantau mengajarinya hal lain. Ia harus menentukan pilihan sendiri, memutuskan tanpa bayang-bayang orang tua. Di sanalah ia menemukan potensi tersembunyi, lalu menumbuhkannya hingga ke ujung kemampuan. Rantau bukan sekadar tempat tinggal,ia adalah guru yang tidak memberi raport.

Ada pengalaman yang membuatnya menangis: kegagalan. Air mata jatuh, dada sesak. Tapi dari sana lahir tekad untuk berbenah. Ia belajar bahwa jatuh bukan akhir, melainkan koreksi dari semesta. Dari luka ia bangkit lebih tertata. Dari gagal ia belajar cara menang.

Pengalaman paling berkesan saat kuliah adalah belajar menjadi manusia lebih baik. Dibanding masa pelajar, kuliah menuntut kedewasaan berpikir. Ia belajar salah, lalu meminta maaf. Ia belajar kalah, lalu menyiapkan menang. Itu pelajaran yang tidak ada di RPS.

Selama merantau ia menjaga tiga nilai. Beribadah dan beramal sebagai kunci keberhasilan. Kejujuran agar selamat di setiap jalan. Istiqamah agar kebaikan menjadi kebiasaan. Nilai itu tidak ia tulis di dinding, tapi ia jalani dalam langkah. Karena prinsip tanpa praktik adalah angin.

Sosok yang menginspirasinya adalah ayahnya. Sang ayah pernah merantau ke Jakarta, kuliah di IKIP Jakarta, kini UNJ. Dari kisah itu Iwan belajar arti berkorban. Merantau bukan lari, tapi menjemput takdir. Jejak ayah menjadi cahaya di depannya. Dan ia memilih berjalan di jalur yang sama.

Baca Juga :  Syukur di Balik Keterbatasan

Sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah kedua orang tua dan para guru. Mereka tidak memberi jalan pintas, tapi memberi kompas agar tidak tersesat. Setiap nasihat menjadi pijakan kaki, setiap teladan menjadi cermin diri. Dari merekalah ia belajar menjadi manusia.

Nasihat orang tua menjadi modal hidupnya. “Berbuat terbaik di mana pun berada. Berbuat jujur apa pun posisimu. Patuhi perintah dan larangan-Nya.” Kalimat itu ia bawa ke rapat, ke orasi, ke meja kerja. Dan ia buktikan, kesederhanaan bisa menguatkan.

Ungkapan yang ia pegang adalah motto hidupnya. “Istiqomah pada kebenaran itu indah.” Kalimat itu menjadi kompas saat ragu. Menjadi penenang saat lelah. Kebenaran mungkin sepi, tapi istiqamah membuatnya ramai makna. Dan ia memilih setia di jalan itu.

Karier, Jejak dan Karya

Perjalanan kerjanya dimulai dari politik. Ia pernah menjadi Aspri Wakil Ketua DPRD NTB tahun 2010-2014. Lalu Direktur Inspirasi Wajah Negeri sejak 2014. Sekretaris pertama pada pengurus Yayasan Pengambangan Swadaya Ummat (YPSU) As-Syamil 2010-2017. Yayasan itu sekarang berkembang dengan mendirikan institusi pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi di Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur. SDIT Nurul Jihad As-Syamil, SMPIT Cahaya Bangsa, SMAIT Cahaya Bangsa dan Lombok Institute of Technology (LIT). Kemudian Wakil Rektor III UTS tahun 2019-2020. Di masa itu prestasi mahasiswa UTS menanjak. Dari debat, PKM, hingga olahraga.

Di bawah kepemimpinannya sebagai Warek III, UTS menembus semifinal NUDC tingkat Kopertis VIII. 9 proposal PKM lolos pendanaan Dikti. UTS satu-satunya wakil PTN-PTS Bali-NTB di LKTIQ MTQMN. Kontingen terbesar UTS dikirim ke POMNAS Jakarta.

Ada juara karate, atletik, tenis meja, dan catur. Prestasi itu menjadi sejarah baru kampus. Ia juga pernah mengurus olahraga dan karakter. Pengurus Wilayah BAPOMI NTB tahun 2019-2020. Kepala BPKO UTS tahun 2020-2021. Kini ia menjabat Direktur Penerbit Panggita sejak tahun 2024. Selain itu ia menjadi pemateri di diskusi, seminar, dan pelatihan. Juga rutin menulis di media online.

Ia menekuni kepenulisan karena percaya, menulis adalah kerja keabadian dan amal jariyah. Ada puisi, esai, motivasi, dan catatan zaman. Setiap buku adalah jejak, agar namanya boleh hilang, tapi maknanya tetap hidup. Sejak 2016 ia telah melahirkan 32 karya.

Sebut saja: Best Seller Inspirasi dan Spirit Menjadi Manusia Luar Biasa (2016), Inspiring Words Mozaik Kata Penumbuh Motivasi (2019), Secangkir Inspirasi (2019), Energi Ramadhan Resonansi Hati di Bulan Suci (2020), Melawan Dengan Damai; Renungan Inspiratif di masa Pandemi (2020), dan Kepak Sayap Elang Muda; Dari Sumbawa untuk Semesta (2020).

Baca Juga :  Ketika Halal Dinegosiasikan

Kemudian, Bind And Spread Love: Mengikat dan Menebar Cinta (2021), Kisah Pena Inspiratif (2022), Subuh Merah Padang Penantian (2022), Do The Best, Menghimpun Nikmat, Meracik Spirit Menjadi Manusia Hebat (2023), Melodi dari Rintik Gerimis (2023), 383 Puisi Untuk Bima (2023), Bocah Matahari: Syamsudin Kadir di Mata Sahabat (2023), Pemuda Negarawan, Dari Pemuda untuk Indonesia (2023), dan Kapita Selekta Pendidikan, Gagasan untuk Indonesia Emas 2045 (2024).

Lalu, Cloudburst (2024), Rindu Ibu (2024), Inspirasi 25 Tokoh Inspirasi Indonesia (2024), Bangkit Kaum Muda Majukan Indonesia (2024), Andai Aku Jadi Gubernur Jawa Barat (2024), Buku, Pena, dan Kita (2025), Rintik Berbisik (2025), Lembar untuk Ayah dan Ibu (2025), Tentang Senja, Rindu, dan Seduhan Teh (2025), Among The Clouds (2025), Dalam Pelukan Al-Qur’an (2025), Silent (2025), Ctrl+Z (2025), Hidup adalah Catatan (2025), Pemuda, Inspirasi Wajah Negeri (2025), Si Gila Literasi (2026), dan Bahasa Hujan Jilid 3 (2026)

Impian dan Pesan

Tentang rencana lanjutan studi, ia belum menuliskannya secara rinci. Gelar sarjana sudah ia persembahkan. Kini ia menunaikan tugas di lapangan. Mungkin ilmu akan dikejar lagi, ketika waktu dan amanah mengizinkan. Untuk sekarang, pengabdian adalah literasi dan sosial.

Mimpinya untuk Bima dan NTB sederhana. Mengembalikan kebaikan masa lalu yang tergerus oleh zaman. Ia ingin daerahnya naik kelas di tingkat nasional. Caranya lewat pembinaan pemuda dan literasi. Karena bangsa besar lahir dari yang muda membaca. Dan dari yang tua memberi teladan.

Untuk pelajar dan mahasiswa perantau ia berpesan. “Jadilah pelajar dan mahasiswa dengan segenap maknanya. Jangan takut gagal, dan jangan cepat puas saat berhasil. Gagal adalah guru, berhasil adalah ujian. Tanah rantau menguji mental sebelum menguji otak. Maka kuatkan hati dulu, baru melangkah.”

Terima Kasih

Untuk rektor dan para dosen ia bersujud syukur. “Terima kasih tak terhingga. Semoga menjadi amal yang tak pernah putus. Guru bisa lupa nama muridnya, tapi murid tak akan lupa gurunya.” Ilmu adalah utang budi, yang harus dibayar dengan cara mengamalkannya.

Cinta itu tidak selesai di dunia. Untuk orang tua ia menitipkan rindu dan doa. “Terima kasih. Dari rahim dan darah kalian aku lahir ke dunia, mengenal Sang Pencipta, dan bisa berbuat untuk semesta. Semoga ini jadi amal jariyah, yang tak putus hingga dipertemukan di jannah-Nya.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *