Opini

Niken Saptarini Widiyawati; Mendobrak Sekat Tradisi, Menenun Kesetaraan Di Bumi Gora

6
×

Niken Saptarini Widiyawati; Mendobrak Sekat Tradisi, Menenun Kesetaraan Di Bumi Gora

Share this article
IMG 20260423 WA00412
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Fijar Aura Nabina

Mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana UIN Mataram

DALAM diskursus kepemimpinan di Nusa Tenggara Barat (NTB), nama Hj. Niken Saptarini Widiyawati, S.E., M.Sc. atau yang biasa dikenal dengan panggilan Bunda Niken, muncul bukan hanya sekadar sebagai bayang-bayang sang suami, Dr. Zulkieflimansyah. Ia adalah simbol baru perempuan progresif yang mampu berdiri di persimpangan antara modernitas akademis dan kearifan lokal. Di tengah struktur sosial Sasak, Samawa, dan Mbojo yang religius namun masih patriarkis, Bunda Niken hadir mendobrak kemapanan dengan cara yang elegan dan santun yaitu menggunakan sistem untuk memperbaiki sistem.

Perpaduan Intelektualitas dan Kelembutan

Bunda Niken merupakan sosok yang memiliki bekal akademik mumpuni. Meraih gelar Master of Science dari luar negeri, ia membawa perspektif global dalam memandang isu-isu lokal. Sejak suaminya menjabat sebagai Gubernur NTB Periode 2018–2023, Bunda Niken tidak membatasi dirinya pada urusan domestik atau seremonial belaka. Ia juga tampil sebagai sosok yang berdampak pada sektor publik.

Bunda Niken dikenal sebagai sosok yang rendah hati, namun memiliki ketegasan dalam berpikir. Ia memahami bahwa posisi sebagai “Istri Gubernur” atau Ketua Tim Penggerak PKK adalah aset politik yang luar biasa besar jika digunakan untuk menggerakkan massa. Ia mengubah wajah PKK yang sebelumnya dianggap sekadar perkumpulan ibu-ibu arisan, menjadi mesin penggerak perubahan sosial yang menyentuh akar rumput di pelosok Pulau Lombok dan Sumbaw

Kesetaraan Lewat Pemberdayaan Sebjektif

Pemikiran utama Bunda Niken berfokus pada “Perempuan sebagai Subjek Pembangunan”. Ia tidak ingin perempuan hanya menjadi penonton atau objek bantuan, melainkan aktor yang menentukan nasibnya sendiri. Kontribusi nyatanya dapat dilihat dari tiga pilar utama yakni, pertama, pendidikan dan literasi. Dimana pendidikan dan literasi bukan sekadar bergengsi tapi memiliki dampak yang signifikan bagi perubahan dan kemajuan NTB.

Baca Juga :  Desakralisasi Gelar dan Profesor Berhala

Bunda Niken adalah salah satu tokoh penting atau motor penggerak literasi di NTB. Ia percaya bahwa perempuan yang literat dan giat membaca adalah perempuan yang cerdas dan sulit dimanipulasi. Melalui berbagai gerakan perpustakaan desa, misalnya, ia mendorong perempuan untuk keluar dari ketidaktahuan menjadi perempuan yang tahu hak dan kewajibannya, baik dalam tataran domestik maupun tataran sosial kemasyarakatan.

Bunda Niken juga adalah sosok penggerak pendidikan. Sebagai “Bunda Paud NTB”, ia menginisiasi dan mewujudkan pembentukan Bunda PAUD di setiap kabupaten dan kota di NTB. Program tersebut ia sebut “Roadshow dari Desa ke Desa” untuk menyerap suasana batin anak-anak dan guru PAUD yang sehari-hari bekerja keras membangun masa depan NTB lewat pendidikan usia dini.

Kedua, perlawanan terhadap pernikahan anak (Merariq Kodeq). Ini adalah kontribusi paling revolusioner dari tokoh perempuan NTB ini. Di tengah budaya “Merariq” (kawin lari) yang sering disalahgunakan untuk melegitimasi pernikahan dini, Bunda Niken berdiri paling depan. Ia melakukan lobi-lobi kebijakan dan sosialisasi masif tentang pendewasaan usia pernikahan, menekankan bahwa rahim perempuan muda belum siap dan pendidikan mereka lebih utama.

Ketiga, kemandirian ekonomi (Industrialisasi UMKM). Bunda Niken menggagas bahwa kesetaraan hanya bisa dicapai jika perempuan mandiri secara ekonomi. Dengan mendorong produk lokal (seperti Tenun SASAMBO dan olahan pangan) masuk ke pasar digital, ia memberikan “kekuatan tawar” bagi ibu-ibu rumah tangga di hadapan struktur domestik yang timpang.

Bunda Niken bekerja dalam konteks “Negosiasi Kultural”. Ia masuk ke celah-celah adat untuk menanamkan nilai baru. Ia mendobrak kemapanan tanpa membuat kegaduhan yang merusak tatanan, melainkan dengan cara memberikan bukti bahwa ketika perempuan berdaya, masyarakat secara keseluruhan akan menjadi lebih sejahtera (Gemilang)

Baca Juga :  Racun Media dan Urgensi Literasi Qur'ani

Kepempinan Perempuan yang Inklusif

Bunda Niken telah membuktikan bahwa kesetaraan tidak selalu berarti kompetisi dengan laki-laki, melainkan tentang ruang bagi perempuan untuk berkembang secara maksimal. Ia mendobrak kemapanan budaya dan stigma yang “melemahkan” potensi perempuan dengan cara meruntuhkan stigma bahwa para istri pejabat hanyalah pelengkap suami mereka.

Bagi generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z di NTB, Bunda Niken adalah role model yang menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual, kepatuhan pada nilai agama, dan semangat progresif bisa berpadu dalam satu nafas perjuangan untuk memperkokoh peran dan memuliakan kemanusiaan. Bahkan dengan segala potensi yang dimiliknya, perempuan bisa memimpin di berbagai sektor kehidupan publik, baik di pemerintahan dan birokrasi maupun di institusi pendidikan, lembaga ekonomi dan sosial kemasyarakatan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *