Opini

Terima Kasih Bang Pramono Anung

9
×

Terima Kasih Bang Pramono Anung

Share this article
IMG 20260823 WA0036
Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

GEMPA mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah retak, tenda berdiri, dan malam menjadi panjang karena cemas. Di tengah duka itu, ada kabar datang dari Jakarta. Bukan sekadar berita, melainkan tangan yang terulur. Bergerak, berkumpul dan aksi nyata.

Beritanya menyebar ke berbagai media. Bang Pramono Anung melepas bantuan senilai Rp5,85 miliar. Angka itu bukan hanya nominal di atas kertas. Ia adalah keringat ASN Pemprov Jakarta, sumbangan perangkat daerah, titipan BUMD, dan amanah dari Baznas Jakarta yang dikumpulkan dengan hati yang tulus.

Di dalamnya ada uang tunai untuk kebutuhan mendesak. Ada makanan agar perut korban gempa tidak kosong. Ada kasur dan selimut agar tubuh bisa beristirahat. Ada peralatan medis untuk luka yang harus diobati. Ada air agar haus tidak menambah beban. Dan ada bantuan non pangan lain yang sering terlupa, tapi sangat dibutuhkan.

Pengirimannya tidak ditunda. Lewat udara dari Lanud Halim Perdanakusuma, dan lewat laut dari Pelabuhan Koarmada I Jakarta Utara. Empat pesawat Hercules siap mengangkut. Tiga KRI mengawal di lautan. Sore itu satu kapal sudah berangkat lebih dulu, membawa harapan bersama logistik.

Bang Pramono bercerita pelan di Balai Kota, Kamis 20 Agustus 2026. “Dari hasil pengumpulan yang dilakukan oleh ASN, perangkat daerah, kemudian BUMD, Baznas DKI Jakarta, terkumpul Rp5,85 miliar.” Ia juga menyampaikan pesan dari lapangan: pampers menjadi salah satu yang paling dicari, terutama untuk orang tua dan anak-anak. Untuk itu, pengiriman berikutnya akan memprioritaskan hal kecil yang justru sangat besar artinya.

Sebelumnya tim kesehatan Jakarta sudah lebih dulu tiba di NTT. Luka perlu diobati secepatnya. Pintu kebaikan pun masih terbuka. Pengumpulan bantuan akan terus berjalan hingga 25 Agustus 2026, memberi ruang bagi siapa saja yang ingin ikut meringankan.

Baca Juga :  Menulis Sebagai Tradisi Intelektual Muslim

Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB, Andi Eviana, menegaskan satu hal: Pemprov DKI adalah pemerintah daerah pertama yang mengirim bantuan. “Jalur udara kita menggunakan Hercules. Kita membuka pos pendukung logistik nasional di Halim Perdanakusuma,” katanya. Dukungan alutsista TNI menjadi jembatan agar bantuan sampai, tidak tersesat di tengah keterbatasan.

Di sinilah kita diingatkan. Kepedulian adalah nadi bangsa Indonesia. Perbedaan pulau, bahasa, dan latar belakang tidak memadamkan rasa kemanusiaan. Ketika satu daerah jatuh, daerah lain berdiri menjadi sandaran. Itulah pesan yang dibawa Bang Pramono, mewakili denyut Jakarta.

Terima kasih Bang Pramono. Terima kasih masyarakat Jakarta. Kebaikan ini mungkin tidak akan pernah bisa kami balas dengan hitungan yang sama. Tapi kami akan menjaganya sebagai warisan: bahwa di saat sulit, kita memilih saling menguatkan. Karena membantu sesama bukan pilihan, ia adalah karakter yang kita rawat bersama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *