Opini

Terima Kasih Bang Oesman Sapta Odang

5
×

Terima Kasih Bang Oesman Sapta Odang

Share this article
IMG 20260904 WA0031
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

KETIKA bumi Flores retak dan rumah-rumah roboh menjadi debu, langit tidak memilih untuk diam. Kabar duka merambat dari ujung timur, mengetuk pintu hati yang jauh. Dari situlah tumbuh sebuah niat sederhana namun teguh: hadir. Partai Hanura memutuskan untuk turun, bukan sekadar menyampaikan belasungkawa lewat kata, tetapi menjadi tangan yang benar-benar menyentuh luka.

Di bawah kompas kepemimpinan Dr. Oesman Sapta Odang, Hanura menggerakkan seluruh barisannya. DPP bergerak, DPD NTT menata logistik, dan DPC se-NTT menyisir titik-titik terdampak. Mereka berjalan bersama, membawa nama besar partai lalu mengubahnya menjadi tindakan kecil di lapangan: membuka tenda, menyalurkan bantuan, dan duduk menemani warga yang kehilangan.

Untuk menembus jarak yang jauh dan waktu yang mendesak, Hanura meminjam sayap baja milik bangsa. Pesawat C-130 Hercules dan Boeing 737 TNI AU meraung di landasan, lalu terangkat membawa beban berat. Di dalam palka yang luas itu bukan hanya kardus dan peti, melainkan doa, tenaga, dan harapan yang dititipkan ribuan orang.

Di dalam perut pesawat itu tersimpan 2,5 ton obat-obatan esensial. Ada antibiotik, cairan infus, obat luka, vitamin, hingga perlengkapan medis dasar yang ditata rapi seperti huruf-huruf dalam surat cinta. Setiap kotak diberi label, setiap dosis dihitung, karena di bencana sekecil kelalaian bisa menjadi mahal harganya.

Obat itu bukan sekadar barang yang dipindahkan dari gudang ke gudang. Ia adalah penahan nyeri bagi tubuh yang remuk, penangkal demam di malam pengungsian yang dingin, dan penolak wabah di tenda yang berdesakan. Lebih dari itu, ia adalah janji kecil: bahwa hidup yang terluka masih bisa dirawat, dan masa depan masih bisa disambung.

Baca Juga :  108 Tahun PUI; Penguatan Gerakan Ishlah untuk Indonesia Emas 2045

Bersanding dengan obat, ada 3,6 ton rendang. Hangat, pekat, dan tahan lama. Daging yang dimasak berjam-jam dengan rempah itu dipilih bukan karena kemewahan, melainkan karena ketangguhannya. Ia tidak mudah basi, ia mengenyangkan, dan ia membawa pulang rasa.

Rendang dipilih sebagai bahasa rumah. Di tengah keterbatasan air dan dapur, ia tetap bisa disajikan. Di tengah lelah, ia memberi energi. Di tengah sepi, ia mengingatkan bahwa manusia berhak atas makanan yang dimasak dengan cinta, bukan hanya biskuit dan air mineral. Sepotong rendang menjadi pengingat: kita belum menyerah pada rasa.

Perjalanan bantuan ini tidak berjalan sendirian. Hanura bersinergi dengan TNI AU, menyatukan gerak sipil dan militer dalam satu napas. Ada koordinasi, ada peta, ada prioritas. Kecepatan dan keamanan berjalan beriringan, agar bantuan tidak tersesat dan tidak terlambat menyapa mereka yang paling menunggu.

Dengan kapasitas besar Hercules dan Boeing, bantuan mampu mendarat di titik-titik yang jalan darat tak bisa sentuh. Ke desa di balik bukit, ke pesisir yang terputus, ke posko darurat yang listriknya padam. Di sanalah kardus-kardus diturunkan, lalu dibuka satu per satu oleh tangan-tangan yang gemetar karena lega.

Dari tempat perawatan, OSO menitipkan pesan yang panjang. Meski tubuhnya sedang diuji oleh sakit, pikirannya tidak pernah lepas dari Flores. Ia menyampaikan duka yang dalam, empati yang tulus, dan harapan agar setiap bantuan yang sampai bisa meringankan beban, mempercepat pulih, dan menguatkan langkah warga untuk membangun kembali.

Aksi ini adalah cermin gotong royong yang masih hidup di negeri ini. Ia mengingatkan bahwa di saat musibah, tidak ada yang terlalu besar untuk membantu, dan tidak ada yang terlalu kecil untuk menerima. Empati menjadi komando, kemanusiaan menjadi peta, dan solidaritas menjadi bahan bakar yang membuat semua orang bergerak ke arah yang sama.

Baca Juga :  Jadilah Sahabat Al-Quran

Hanura ingin meneladankan respons yang cepat, tepat, dan berhati. Di tengah duka, hadir adalah pilihan yang paling berani. Dan di atas langit Flores malam itu, ketika dua pesawat kembali pulang meninggalkan jejak cahaya, mereka membawa pulang satu bukti: bahwa bangsa ini belum kehilangan caranya untuk saling menjaga. Terima kasih Bang Oesman Sapta Odang! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *