Opini

Darmoyo Nusarto: Benih Cahaya Dari Cereng

22
×

Darmoyo Nusarto: Benih Cahaya Dari Cereng

Share this article
IMG 20260906 WA0003
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia”

NAMANYA Darmoyo Nusarto, SH. Dua huruf di belakang namanya adalah sumpah. Sumpah untuk mengabdi, untuk adil, untuk rendah hati. Lahir dari tanah sederhana, ia tidak memilih jalan pintas. Ia memilih jalan panjang bernama ilmu. Agar gelar bukan hiasan, melainkan amanah yang dipikul.

Cereng menyambut tangisnya pertama kali. Jumat 06 Agustus 1999, langit Manggarai Barat menjadi saksi. Cereng, ia kampung kecil, tapi doanya luas. Di sanalah ia belajar bahwa asal tidak untuk dilupakan. Bahwa akar harus dirawat, agar sayap bisa terbang jauh. Dan tetap tahu arah pulang.

Ayahnya Bapak Selamat Muhamad. Ibunya Ibu Siti Nurfatina. Keduanya petani sawah tadah hujan. Tangan mereka berbicara pada tanah, hati mereka berbicara pada langit. Dari peluh mereka lahir etos kerja. Dari sujud mereka lahir keberkahan hidup.

Ia anak ketiga dari lima bersaudara. Urutan itu mengajarinya sabar. Di atasnya ada Walimin Bombang dan Amran Saiful. Di bawahnya ada Faisal Taseng dan Halil Yusro.

Mereka satu Bapak, dua Ibu. Ibu yang pertama adalah Siti Nurfatina, Ibu kedua adalah Ibu Hanus. Saat ibu pertama sakit, ibu kedua adalah sosok yang berjasa besar. Bukan pengganti peran, tapi memang berperan. Bila anak yang pertama hingga keempat dilahirkan dari rahim ibu pertama, sementara anak kelima lahir dari rahim ibu kedua.

“Mama Hanus mendidik kami layaknya anak kandung sendiri. Tidak ada perbedaan baik di saat belum lahir adik kami Halil maupun ketika Halil sudah lahir. Beliau sosok yang sangat hebat dan tangguh. Beliau hadir bukan hanya untuk merawat kami, tapi juga merawat mama kami yang sakit,” kenangnya dengan penuh haru bangga.

Baca Juga :  Ide Menulis dan Biaya Cetak Buku

Rumah mereka sederhana saja, namun cinta lapang. Berbagi piring, berbagi mimpi, berbagi luka. Di sanalah karakter ditempa pertama kali. Kompas hidupnya hanya dua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan akhlak. Ketiga orang tua sebagai teladan perjuangan. Ia tidak mencari pahlawan di luar rumah. Ia menemukannya di meja makan dan di sajadah. Karena itu langkahnya tidak tergesa, tapi pasti dan terarah.

Pendidikan dasarnya dimulai di SDK Cereng. Ia masuk dengan semangat polos, 2006, lulus tahun 2012. Ijazah pertama itu sederhana, tapi bermakna seperti janji. Janji bahwa ia akan terus belajar. Belajar dari guru, dari buku, dari tanah. Agar tidak berhenti di satu halaman.

Lalu, tahun 2012, ia merantau ke Makassar, Lanjutkan pendidikan di SMP Al Bayan Hidayatullah Makassar. Tiga tahun ia tinggal di asrama ilmu. Disiplin menjadi bahasa sehari-hari. Ia lulus tahun 2015. Di sana ia paham, bahwa aturan bukan kurungan. Aturan adalah tangga menuju dewasa dan matang.

SMA Al Bayan Hidayatullah Makassar menantinya, 2015. Ia lulus tahun 2018. Tiga tahun berikutnya mengajarinya mandiri. Mengatur waktu, menjaga shalat, menjaga lisan. Ia pulang membawa ijazah dan tekad. Tekad untuk membuat orang tua bangga. Tanpa harus membebani mereka.

Tahun 2019 ia menjejakkan kaki di Balikpapan. Kuliah di STIS Hidayatullah, Kalimantan Timur. Jurusannya Hukum Keluarga. Empat tahun ia bergulat dengan dalil dan pasal. Kampus itu unik, membina seperti santri. Wajib berbahasa Arab 24 jam. Ia lulus tahun 2023 dengan dada tenang.

Di tengah kuliah ia aktif di BEM perguruan tinggi. Pernah bertugas di divisi pendidikan, keamanan, dan ibadah. Baginya organisasi adalah wadah. Wadah menempa jiwa kepemimpinan. Bukan panggung untuk mencari nama.

Baca Juga :  Setiap Kita Pasti Bertemu Ajal Kematian

Dampaknya nyata: pikirannya lebih bijak. Hatinya lebih peduli pada sesama. Kuliah di sana memberinya pelajaran unik. Mahasiswa tetap dibina seperti santri. Ada aturan, ada hafalan, ada adab.

Ia melihat manusia dengan segala rupa. Ada yang santai, tapi ranking pertama saat UAS. Ada yang rajin mencatat, tapi sering di urutan akhir. Ada pula yang cerdas, tapi gugur karena hafalan. Hidup di rantau mengajarinya memilih.

Ia memegang tiga nilai: akhlak, adab, kesungguhan. Tiga itu menjadi pagar saat rindu datang. Menjadi kompas saat pilihan membingungkan. Ia percaya ilmu tanpa adab itu kosong. Dan adab tanpa ilmu itu rapuh. Keduanya harus berjalan beriringan.

Nasehat orang tua ia simpan rapat-rapat. “Selalu berlaku baik dan jujur.” Nasehat lain, “Pelajarilah ilmu agama sangge na wake londe. ” Kalimat itu sederhana, tapi menggetarkan. Menjadi bahan bakar saat malam panjang. Menjadi penjernih saat hati gelisah.

Untuk para pelajar perantau ia berpesan. Jangan bergantung sepenuhnya pada orang tua. Belajarlah mandiri sejak awal. Sungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Dan jagalah perilaku baik di mana pun berada.

“Hidup jangan bergantung pada orang tua, belajar untuk lebih mandiri, sungguh dalam belajar serta berperilaku baik,” ungkapnya.

Sosok yang menginspirasinya tetap orang tua. Karena dari merekalah ia belajar arti pengorbanan. “Sosok yang menginspirasi selama menempuh pendidikan adalah orang tua. Alasannya, saya mempunyai tekad sukses tanpa harus membebani orang tua,” jelasnya.

Setelah sarjana ia tidak langsung melanjutkan S2. Untuk sementara ia memilih mengajar. Sambil menanti pintu beasiswa terbuka. Ia percaya rezeki ilmu datang pada yang sabar. Mengajar adalah ibadah. Mengajar adalah cara membayar hutang budi. Kepada guru, kepada kampus, kepada Allah.

Baca Juga :  Saya Menulis Dari Keterbatasan Diri

Mimpinya untuk Cereng dan Manggarai Barat jelas. Ia ingin kampungnya maju infrastrukturnya. Maju pula pengetahuannya. Dan tetap kokoh pada prinsip syariah. Ia tidak ingin kemajuan memisahkan dari nilai. Ia ingin modernitas dan iman berjalan bersama. Agar generasi tidak kehilangan arah.

Hadits Nabi menjadi pegangan hidupnya. “Seorang mukmin tidak terperosok dua kali pada lubang yang sama.” Maknanya dalam. Tentang bijak dalam mengambil keputusan. Tentang belajar dari kesalahan. Tentang bangkit dengan lebih cerdas.

Itulah yang menuntunnya saat skripsi. Ada tangis yang ia ingat sampai sekarang. Tangis rindu saat penjengukan, melihat orang lain dijenguk keluarganya.

Tangis lain saat satu halaman al-Qur’an butuh tiga hari untuk dihafal, sementara teman-teman sudah jauh melangkah. Dari tangis itu lahir janji. Bahwa jarak harus dibayar dengan prestasi.

Pengalaman paling berkesan adalah menulis skripsi. Dengan modal flashdisk dan laptop pinjaman teman. Malam-malam panjang, kopi pahit, doa panjang.

“Menulis skripsi dengan modal flash disk, minjem leptop teman-teman yang lagi kosong atau tidak dipakai,” kenang ustadz muda yang berminat pada sepak bola dan futsal ini.

Gelarnya Sarjana Hukum (SH) ia persembahkan untuk orang tua. Karena dari merekalah semua ini dimulai. Untuk merekalah semua ini dijalani.

Kini ia menikah dengan Siti Fatimah dari Ceremba, kampung tetangga satu desa. Alasannya suci dan manusiawi. Agar terjaga secara syariat. Agar memiliki keturunan dalam keberkahan.

Dari Cereng ia berangkat membawa mimpi. Ke Cereng ia akan kembali membawa cahaya. Agar benih yang ditanam, tumbuh menjadi tanaman indah yang subur, terpetik dan menebar manfaat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *