Opini

Sahrul Gunawan: Belajar Menjadi Pelita

34
×

Sahrul Gunawan: Belajar Menjadi Pelita

Share this article
IMG 20260906 WA0005
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Problem Solver: Beginilah KDM Memimpin”

DI Ceremba, 29 Juni 2002, semesta mencatat satu nama. Sahrul Gunawan, lahir bukan dari kemewahan. Ia lahir dari rumah sederhana dan langit yang luas. Ayahnya Bapak Muhamad Arifin, petani yang menunduk pada tanah. Ibunya Ibu Siti Fatimah Royati, penenun doa di malam sunyi. Dari peluh mereka mengalir masa depan. Dari sabar mereka tumbuh keberanian. Dari dua nama itu, arah hidupnya ditentukan.

Ia anak pertama dari lima bersaudara. Bahu sulung yang pertama belajar memikul beban. Di belakangnya ada Seriyati Astuti dengan senyum teduh. Menyusul Albar Rasid yang riang dan penuh tanya. Lalu Faisal Ramdan yang setia menemani langkah. Kemudian Siti Sahrini yang lembut seperti senja. Dan Rafif Faiz Afkari, penutup doa keluarga. Di keluarga kecil itulah ia belajar arti cukup.

Peran orang tua baginya adalah kitab pertama. Mereka simbol pengorbanan yang tidak menuntut balasan. Keringat ayah menjadi biaya, doa ibu menjadi penjaga. Setiap kali hampir menyerah, wajah mereka menguatkan. Setiap kali gagal, perjuangan mereka mengingatkan. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan pulang. Bahwa menyerah berarti mengkhianati cinta. Dari situlah ia belajar untuk terus berjalan.

“Orangtua menjadi simbol pengorbanan, kerja keras, dan doa yang tak terputus. Keringat dan perjuangan mereka dalam membiayai serta mendukung pendidikan menjadi dorongan moral terbesar untuk tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan pendidikan dan akademis,” ujarnya.

Tahun 2008 ia menapaki Sekolah Dasar Negeri Ceremba. Enam tahun ia duduk di bangku kayu yang aus. Menulis dengan pensil pendek, bermimpi dengan mata lebar. Lulus 2014, ia pulang membawa lebih dari ijazah. Ia membawa keyakinan bahwa ilmu membebaskan. Bahwa anak desa juga berhak menatap langit. Bahwa keterbatasan bukan tembok, melainkan tangga.
Dan tangga itu harus dinaiki dengan sabar.

2015 angin membawanya ke SMPN 1 Komodo. Tiga tahun ia ditempa oleh laut dan disiplin. 2015 sampai 2017 ia belajar jatuh lalu bangkit. Belajar menghormati guru, menghargai perbedaan. Pesisir mengajarinya kesabaran ombak yang mengikis karang. Bahwa yang lembut jika konsisten akan menembus. Dari Komodo ia menatap bukit yang lebih tinggi. Dengan hati yang sudah lebih siap terluka dan sembuh.

Baca Juga :  Guru Hebat, Indonesia Kuat!

SMAN 1 Hu’u Dompu, NTB, menjadi tempat belajarnya sejak 2018 hingga 2020. Masa remaja ia jalani di antara rumus dan renungan. Di lorong sekolah ia belajar berdebat dengan etika. Belajar kalah, lalu belajar memperbaiki diri. Ijazah SMA bukan garis akhir, melainkan pintu. Pintu menuju kampus dan dunia yang lebih luas. Ia berangkat dengan bekal doa orang tua. Dengan nama keluarga yang harus ia jaga.

Universitas Hamzanwadi di Lombok Timur, NTB, menyambutnya 2020 sampai 2024, hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan, S.Pd. Empat tahun ia menimba ilmu di antara buku dan azan. Ia tidak hanya kuliah, ia menghidupi kampus. HMPS dan BEM FIP menjadi rumah perjuangannya. Paguyuban IM3 NTT-Pancor Lotim menjadi keluarga rantau. Di sana ia menemukan bahasa baru. Bahasa melayani, bahasa menggerakkan, bahasa merawat. Bahasa yang tidak diajarkan di papan tulis.

Mengapa ia memilih berorganisasi? Karena soft skill tidak tumbuh hanya di kelas. Karena wawasan butuh benturan dengan dunia luar. Karena kepemimpinan lahir saat diberi tanggung jawab. Karena manajemen waktu adalah seni menaklukkan hari. Karena jejaring lintas jurusan hingga luar kampus. Adalah jembatan menuju karier masa depan. Ia masuk bukan untuk nama, melainkan untuk makna.

Dampaknya meresap sampai ke sumsum tulang. Mentalnya terbiasa menahan tekanan tanpa patah. Ia belajar menyelesaikan konflik dengan kepala dingin. Kepekaan sosialnya tumbuh dari kegiatan pengabdian. Dari diskusi tentang lingkungan dan masyarakat kampus. Ia tidak lagi hanya melihat dirinya sendiri. Ia mulai melihat luka dan harapan di sekitar. Ia berubah dari penonton menjadi pelaku perubahan.

Ada kenangan yang selalu ia simpan rapat. Rapat organisasi hingga larut malam. Di sekretariat dingin atau warung kopi yang hangat. Berdebat program kerja sampai suara serak. Lalu tertawa, lalu merencanakan mimpi bersama. Malam menjadi saksi bahwa idealisme itu berisik. Tetapi juga indah karena dikerjakan bersama. Di sanalah persaudaraan ditempa oleh lelah.

Rantau mengajarinya tentang rasa dan penyesuaian. Lombok identik dengan pedas yang membakar lidah. Sementara ia dari Manggarai Barat yang lebih tenang. Awalnya batuk, berkeringat, lalu terbiasa. Ia belajar menghargai perbedaan tanpa kehilangan jati diri. Belajar bahwa merantau adalah memperluas dada. Agar pulang nanti membawa lebih banyak warna. Dan agar tidak asing di tanah orang.

Baca Juga :  Strategi PPP Menuju Senayan 2029

Ia memegang dua kompas sepanjang hidup. Menjaga nama baik diri dan keluarga. Menjaga kejujuran dan komitmen dalam setiap interaksi. Karena itu ia dihargai di kampus, kerja, dan masyarakat. Ia juga memeluk syukur dan rendah hati. Melihat ke atas untuk terus bermotivasi. Melihat ke bawah untuk terus bersyukur. Tidak sombong saat naik, tidak kerdil saat turun.

“Selalu menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga. Kejujuran serta komitmen dalam berinteraksi membuat kita lebih dihargai oleh lingkungan kampus, tempat kerja, maupun masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Baginya kemajuan desa bukan diukur dari beton. Bukan seberapa banyak gedung berdiri megah. Melainkan seberapa berdaya warganya saling menopang. Beberapa mampu mereka menciptakan masa depan di tanah sendiri. Keberhasilan sejati adalah ketika keberadaan kita. Mampu membukakan jalan bagi orang lain. Mampu memberi harapan, bukan hanya mengambil ruang. Menjadi pelita, bukan hanya lampu hias.

Melihat pengorbanan orang tua di saat sulit adalah pengalaman yang selalu ia ingat. Ia menangis, dan bertekad untuk terlibat membantu. “Menangis ketika melihat orang tua bekerja keras tanpa mengeluh di tengah keterbatasan finansial demi membiayai pendidikan atau kebutuhan hidup. Tangisan itu bertransformasi menjadi janji pada diri sendiri untuk belajar sungguh-sungguh dan mengangkat derajat keluarga,” jelasnya.

Setelah meraih sarjana, ia pun mengajar di SDN Ceremba, di kampung tempat ia lahir. .Itu dipilihnya karena panggilan hati. Ia ingin mencerdaskan anak bangsa. Ia ingin membagikan ilmu dan menjadi inspirasi. Ada kepuasan saat murid yang gelap menjadi terang. Saat satu kalimat mengubah arah hidup seseorang. Saat pengetahuan berpindah dan menumbuhkan. Ia percaya guru adalah jembatan masa depan. Dan jembatan itu harus kuat dan jujur.

“Saya memilih mengajar karena pertama itu panggilan hati. Kedua ingin mencerdaskan anak bangsa. Ketiga, keinginan membagikan ilmu dan menginspirasi. Keempat, adanya kepuasan batin saat melihat murid yang tadinya tidak tahu menjadi paham. Kelima, kepuasan mampu mentransfer pengetahuan dan keterampilan secara nyata,” akunya.

Baca Juga :  Bencana dan Kesadaran Ekoteologis Kita

Ia menunduk hormat kepada Bapak Ibu Rektor dan Dosen. Terima kasih atas kepemimpinan dan dedikasi. Atas kebijakan, fasilitas, dan kesabaran membimbing. Dukungan civitas akademika menjadi fondasi penting. Agar ia bisa belajar, berkembang, dan lulus dengan baik. Ia tahu, gelar ini bukan miliknya seorang. Ada nama almamater yang ia pikul. Ada ilmu yang harus ia kembalikan ke masyarakat.

Ia juga menunduk kepada Bapak dan Ibu. Terima kasih atas kasih sayang yang tak menuntut balas. Semoga Allah menjaga, memberi kesehatan, dan kebahagiaan. Momen paling emosional adalah saat melihat mereka. Bekerja keras tanpa mengeluh di tengah keterbatasan. Air matanya jatuh, lalu berubah menjadi janji. Janji untuk belajar sungguh-sungguh. Janji untuk mengangkat derajat keluarga.

“Terima kasih, Bapak dan Ibu, atas kasih sayang tulus yang tak pernah menuntut balas. Semoga Allah/Tuhan selalu menjaga, memberikan kesehatan, dan melimpahkan kebahagiaan untuk Bapak dan Ibu,” ujarnya dengan penuh haru.

Perjuangan menuntaskan skripsi adalah bab yang haru. Bongkar pasang draf hingga larut malam. Mencari referensi sampai mata perih. Menghadapi dinamika bimbingan yang menguras tenaga. Namun saat lembar pengesahan ditandatangani, lega dan bangga bertemu dalam satu tarikan napas. Itu bukti bahwa lelah tidak mengkhianati hasil. Itu bukti bahwa doa tidak pernah sia-sia.

Hingga hari ini ia masih menyimpan satu cinta. Bermain bola, cinta yang tidak pernah pergi. Di lapangan ia menemukan kebebasan dan sportivitas. Di sana ia belajar kalah, menang, dan bangkit. Bola mengajarinya kerja sama dan disiplin. Mengajarinya bahwa hidup seperti pertandingan. Butuh strategi, stamina, dan semangat pantang menyerah. Dan setelah peluit, tetap harus bersalaman.

Gelar S.Pd. semakin membuat arah hidupnya jelas dan tidak berbelok. Untuk kedua orang tua yang menjadi sebab ia ada. Untuk masa depan dirinya yang terus ia rajut. Dan untuk anak-anak bangsa yang akan ia didik. Ia tidak mengejar menjadi yang paling tinggi. Ia hanya ingin menjadi yang paling bermanfaat. Karena setinggi-tingginya ilmu adalah ilmu yang menumbuhkan orang lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *