Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”
MUHAMMAD Azka lahir dari tanah Kediri, di Lombok Barat, NTB yang dipeluk angin dan doa. Di sanalah jejaknya pertama kali bertapak, di antara sawah, mushala, dan bisik azan. Namanya disematkan dengan harapan, agar menjadi cahaya kecil bagi kampungnya, dan kelak menjadi doa yang berjalan.
Keluarga
Ia anak dari Bapak TGH. Abdullah Mustafa, M.H., dan Ibu Aisyah Aini, dua nama yang menenun ruhnya. Ayah pernah menjadi dosen UIN Mataram hingga 2024, kini mengajar di Ma’had Takhassus Al-Islahuddiny, serta memimpin MUI Lombok Barat sejak 2018. Dari mimbar ayah belajar wibawa, dari ibu ia belajar sabar yang tak berisik.
Ia anak kelima dari lima bersaudara, barisan doa yang disusun rapi oleh waktu. Ahmad Farabi, M.Sos., Muhammad Rido, S.E., M.M., Muhammad Afifi, Lc., Uli Rohmani, B.A., dan dirinya, Muhammad Azka. Di antara mereka ia belajar berbagi, bahwa rumah adalah madrasah pertama.
Pendidikan
SDN 1 Kediri menjadi halaman pertamanya, masuk 2012, lulus 2018 dengan langkah polos. Di sana ia belajar membaca dunia, belajar bahwa papan tulis bisa seluas langit. Tawa dan debu seragam menemaninya, dan dari bangku kayu ia menabung mimpi. Bahwa suatu hari ia harus pulang membawa cahaya.
Tahun 2018 ia melangkah ke MTs Dakwah Islamiyah Putra, di bawah naungan Kulliyatul Muallimin wal Muallimat Al-Islamiyyah, Yayasan Nurul Hakim Lombok. Tiga tahun ia ditempa bahasa, hafalan, dan disiplin, lulus 2021 dengan dada penuh tanya. Pondok mengajarinya bangun sebelum fajar, dan tidur dengan kitab di sisi.
Lalu ia melanjutkan ke MA Dakwah Islamiyah Putra, tempat yang sama, ruh yang berbeda. 2021 sampai 2024 ia mengasah logika dan iman, berdebat dengan teks, berdamai dengan diri. Di lorong asrama ia belajar rindu, belajar bahwa jauh dari rumah adalah guru. Dan lulus dengan satu janji: menuntut lebih jauh.
Kuliah, Organisasi dan Beasiswa
Jakarta memanggilnya ke LIPIA, program Id’ad Lughowi dimulai 2024. Bahasa Arab menjadi jembatan baru, menjadi napas untuk menafsir dan berdakwah. Di kota besar ia belajar mandiri, belajar bahwa rantau adalah penyaring jiwa. Setiap kata yang dipelajari adalah amanah.
2025 ia kembali ke tanah kelahiran, masuk UIN Mataram, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Kembali ke kampus tempat ayahnya mengabdi, kini dengan cara dan beban yang berbeda. Ia membawa bekal pesantren dan rantau, menyatukannya dalam satu niat mengabdi.
Di kampus ia menemukan komunitas, Awardee Beasiswa Indonesia Bangkit UIN Mataram, kolaborasi KEMENAG-LPDP 2025. Juga UKM Literasi Ilmiah yang menajamkan nalar. Dari forum-forum itu ia belajar mendengar, belajar bahwa ilmu bertumbuh dalam diskusi. Dan beasiswa menjadi tanggung jawab, bukan mahkota.
Organisasi melatihnya tiga hal sekaligus, kerja tim yang merapikan ego, public speaking yang menjinakkan gugup, dan problem solving yang mengasah akal. Ia tidak lagi takut salah di depan umum, karena salah adalah tangga menuju benar. Dan keberanian lahir dari latihan yang diulang.
Kuliah mengubah wajah batinnya, membuatnya lebih percaya diri, lebih cepat mengambil keputusan, dan lebih kuat menghadapi hempasan masalah. Mentalnya ditempa oleh deadline dan tafsir, oleh tugas dan tanggung jawab. Ia belajar bahwa dewasa adalah pilihan setiap hari.
Prinsip Hidup dan Pesan
Prinsipnya sederhana dan dijaga, selalu meminta saran dan nasihat orang tua, lalu melaksanakannya dengan taat. Selalu produktif, walau hanya satu ayat. Ia tidak menunggu mood untuk bergerak, karena waktu tidak menunggu siapa-siapa. Dan keberkahan datang pada yang istiqamah.
Nasihat orang tuanya menjadi modal hidup, “Berusahalah semaksimalnya, hasilnya adalah yang terbaik.” Keinginan tidak selalu sejalan dengan kebutuhan, dan jika Allah tidak memberi, maka bisa jadi itu mudharat bagi kita. Kalimat itu menenangkannya saat gagal, dan menguatkannya saat berhasil.
Ia percaya satu hal tentang hidup, kita hanya bisa bertahan di luar zona nyaman. Karena hidup akan selalu berkembang, ketika ada tekanan yang memaksa akar. Nyaman membuat kita lupa bertumbuh, sementara sulit membuat kita menemukan sayap. Maka ia memilih berjalan, meski gemetar.
Untuk pelajar dan mahasiswa perantau, pesannya hanya satu dan dalam. “Jangan lupa kampung halaman, pergi untuk menuntut ilmu dan menggali pengetahuan, kemudian amalkan untuk membangun negeri sendiri. Jangan menjadi asing di tanah sendiri, karena akar yang kuat membuat pohon tak roboh,” ucapnya.
Guru dan Inspirator
Guru-gurunya adalah warisan yang hidup, ayahnya sendiri, TGH. Muzakkar Idris, dan TGH. Ahyad Idris yang menanam adab. Dari mereka ia menerima tongkat estafet, bahwa ilmu tanpa akhlak hanyalah gema. Setiap nasihat menjadi peta, setiap teguran menjadi kompas.
Sosok yang menginspirasinya adalah para guru besar, Prof. Dr. Usman, Prof. Dr. Muhammad Sai, Prof. Dr. Sainun. Mereka membuktikan bahwa anak desa, alumni pondok, pengabdi pesantren, bisa berdiri di mimbar akademisi, tanpa kehilangan identitas santrinya. Dari mereka ia belajar: ilmu dan iman bisa satu napas.
Pengalaman Unik, Berharga dan Impian
Hal paling unik yang ia temukan di bangku kuliah, adalah keberagaman karakter manusia. Ada yang keras, ada yang lembut, ada yang cepat, ada yang merenung. Dari perbedaan itu ia belajar toleransi, belajar bahwa kebenaran punya banyak pintu. Dan hikmah sering bersembunyi di seberang pendapat.
Ada luka yang membuatnya menangis, ketika gagal juara 1 lomba pidato bahasa Arab tingkat provinsi, gagal melangkah ke nasional. Tapi malam itu air mata menjadi bahan bakar, menjadi titik balik untuk berjuang lebih keras. Ia belajar bahwa kalah adalah guru jujur, dan jatuh adalah cara bumi mengajari bangkit.
Kini ia menarget lebih tinggi lagi, ikut lomba pidato bahasa Arab tingkat nasional dan internasional, berdiskusi kritis dengan para dosen. Ia tidak mengejar piala, ia mengejar versi dirinya yang lebih baik. Karena panggung terbesar adalah melawan diri sendiri. Dan setiap kekalahan adalah undangan latihan.
Keyakinannya tidak pernah berubah, selama kita taat dan berbakti kepada orang tua, yakinlah semua akan menemukan jalannya. Jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diganti dengan pengganti terbaik. Kalimat itu ia genggam saat ragu, dan ia bisikkan saat hampir menyerah.
Ke depan ia bermimpi melanjutkan langkah, Insyaallah S2 bahkan S3, dengan prodi yang sama, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, atau studi Islam dengan fokus kajian yang sama. Semoga dengan beasiswa, agar rantai kebaikan tidak putus. Karena menuntut ilmu adalah perjalanan tanpa ujung.
Harapannya untuk daerahnya juga sederhana, semoga Lombok Barat selalu menjadi daerah yang berkembang. Berkembang dalam ilmu, iman, dan akhlak. Berkembang tanpa meninggalkan tradisi, berkembang dengan pemuda yang pulang membawa ilmu. Ia ingin menjadi bagian dari pertumbuhan itu, sekecil apapun perannya.
Karier dan Prestasi
Sekarang, sejak awal 2025, ia mengabdi di Pondok Pesantren Nurul Hakim, sebagai guru dan pembina. Ia juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan sosial. Mengajar adalah cara ia membayar utang ilmu, dan mengabdi adalah cara ia menjaga niat. Agar ilmu tidak berhenti di kepalanya saja.
Prestasi menempel seperti jejak di pasir, Juara 1 Pidato Bahasa Arab KINMU V 2026 di UIN Alauddin Makassar, Juara 2 Pidato POSPEDA NTB 2022, Juara 2 Debat Bahasa Arab Nurul Hakim Open 2022, Juara 1 Pidato MA se-Pondok Nurul Hakim 2022, Juara IV Pidato Abu Hurairah Fest NTB 2024, dan Awardee Beasiswa Indonesia Bangkit 2025.
Ada juga juara 1 STQH cabang hafalan 100 hadis dengan sanad, tingkat Kecamatan Pujut 2024, Juara 2 Cerdas Cermat se-Pondok 2023, serta Guru Terbaik 1 Amaliyyatu At-Tadris 2023. Semua itu bukan tujuan, hanya tanda bahwa usaha tidak mengkhianati. Dan setiap piagam adalah pengingat untuk rendah hati. Prestasinya adalah untuk orangtua dan keluarga.
“Semuanya untuk kedua orang tua yang selalu memberikan arahan dan motivasi, walaupun memang keinginan orang tua belum tentu sesuai dengan keinginan kita, tetapi dengan keyakinan, hikmah dan pelajaran dibalik semua keputusan orang tua akan kita nikmati dan rasakan itulah yang terbaik,” ungkapnya.
Ia berterima kasih kepada semua tangan yang mendidik, semoga Allah membalas dengan balasan terbaik. Karena dari tangan-tangan magis itulah, lahir seorang anak yang ingin terus belajar. Doanya sederhana: semoga orang tua sehat wal afiat, dan bisa membersamai hingga memiliki cucu. Agar doa bisa diteruskan, dari hati ke hati. (*)






