Opini

Cinta yang Tak Pernah Selesai

9
×

Cinta yang Tak Pernah Selesai

Share this article
IMG 20260915 WA0032
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Aku, Dia dan Cinta”

AKU bukan lelaki yang pandai merangkai diksi. Aku tak mahir menyusun kata-kata indah yang membuat si dia merasa diajak bercumbu di taman lembah yang basah oleh embun. Aku juga bukan penyair cinta, yang dengan satu bait bisa membuat pipinya bersemu dan hatinya berdesir terus-menerus dirayu. Tulisanku dalam beragam tema pun sesungguhnya itu-itu saja. Sederhana. Terlalu sederhana. Tak ada yang istimewa, kecuali kejujurannya.

Untuk menjadi puitis pun, aku harus berkali-kali mengemis pada mereka yang pandai meramu rindu. Maka sejatinya aku bukanlah suami yang pandai memuji. Terutama kepada sosok istri yang sungguh istimewa yang Allah titipkan padaku. Selain tak terbiasa, aku memang bukan tipe lelaki yang mudah mengumbar sanjungan pada si dia yang kini setia mendampingiku dalam suka dan duka. Aku hanyalah lelaki biasa. Suami biasa. Apa adanya. Yang mencintai dengan cara yang biasa, tapi tak pernah main-main.

Walau begitu, untuk sosok dia, aku selalu tergoda untuk jujur. Ada terlalu banyak hal yang ia miliki dan ia korbankan demi merawat cintanya padaku dan pada anak-anak kita: Azka Syakira, Bukhari Muhtadin, Aisyah Humaira, dan Arsyila Qonita. Namun ada satu kepingan puzzle yang membuatku terus terngiang untuk menyebutnya. Sederhana memang, tapi di sanalah cinta menemukan rumahnya yang paling apik, bertumbuh, dan abadi bersemayam.

Ketika berbagai aktivitas membuat pundakku runtuh oleh lelah, maka ia adalah satu-satunya yang paling mengerti bahasa lelahku. Ia membantuku dengan sigap. Sesekali karena kuminta, tapi lebih sering tanpa kuminta sama sekali. Bukan saja ia membacakan naskah dengan suara lembutnya, tapi ia memastikan punggungku tak nyeri dan tenggorokanku tetap nyaman. Pijatan lembut jemarinya kerap membuat kepala, punggung, dan tanganku termanja, seolah lelahku luruh satu per satu di ujung jarinya.

Baca Juga :  Optimisme PKB Manggarai Barat Menyongsong Pemilu 2029

Apalah lagi bila belasan hingga puluhan naskah buku mesti kubaca dan kusunting setiap harinya, lelah itu benar-benar nyata, menempel di pelupuk mata. Menikmati naskah bergizi memang dambaan sekaligus kebanggaan, sebab di sana banyak ilmu gratis yang bisa kupungut. Namun lelah tetaplah lelah, ia tak bisa dibohongi. Nah, di titik itulah ia hadir, membawa senang dan riang seperti hujan pertama setelah kemarau. Walau di tengah ia pun sedang menuntaskan tugas mulianya sebagai seorang guru, sebagai pendidik di sebuah sekolah yang mencintainya.

Kadang bila membaca puluhan halaman naskah, lelah itu datang menggoda seperti bayangan. Bayangkan saja, dalam sehari ada ratusan halaman yang mesti kutatap. Kepala pening, antara idealisme dan kenyataan diri harus berkompromi. Di saat itulah ia kerap membisikkan mantra paling indah tepat di daun telingaku dengan suara selembut sutra: “Sayang, bila lelahmu Lillah, insyaa Allah berkah!” Ia ucapkan itu dengan wajah manis yang tak pernah lelah tersenyum, senyum yang membuat semua penatku pulang.

Ah, betapa bahagianya memiliki seseorang yang mengerti bahkan sebelum aku bercerita tentang apa yang aku rasa. Ini bukan tentang kewajiban seorang istri kepada suaminya, bukan tentang pasal-pasal rumah tangga. Ini tentang nurani yang memandang dengan jujur pada apa yang ia pandang. Ia memastikan pada dirinya sendiri bahwa menjadi istri bukan sekadar menerima qobul atas ijab yang diucap lelaki saat akad nikah dulu. Tapi juga menerima seluruh konsekuensi, seluruh luka dan tawa, dari medan baru yang ia lalui kini dan nanti, bersamaku.

Mungkin ucapannya tak begitu apik, tak banyak ia merangkai kalimat tentang kualitas cintanya padaku sejak awal kita menikah hingga detik ini. Tapi tatapan matanya, gerak-geriknya, cara ia menatapku, semuanya menunjuk betapa ia adalah sosok istri sekaligus pecinta yang hebat. Ia benar-benar membuatku semakin percaya bahwa ia memang sosok yang peduli, empati, taat, dan setia tanpa tapi, tanpa jeda. Sungguh beruntung diri ini mendapat sosok yang terlihat biasa-biasa di mata dunia, tapi sejatinya istimewa di mata langit, karena ia menjalankan peran yang luar biasa dengan cinta yang luar biasa.

Baca Juga :  Menjaga Cahaya Titipan

Terima kasih banyak kepada seseorang yang beberapa tahun terakhir, berhari-hari, menjadi sosok yang setia menemani untuk menuntaskan banyak hal. Ia bukan saja mengorbankan waktu dan tenaga, tapi juga pikiran dan asa, mimpi-mimpinya ia lipat rapi demi mimpiku. Letih dan lelahnya kadang ia sembunyikan di balik senyum, demi memastikan dirinya selalu terlihat semangat dan anggun di hadapanku. Ia mungkin tidak ingin menutupi, namun ia mampu mengelola lelahnya dengan begitu baik dan apik, seperti ia mengelola rindu.

Pada tatapan matanya selalu menyiratkan optimisme tentang ilmu, amal, dan karya. Tatapan itu membuatku kadang malu, namun tergoda untuk tak kalah oleh ego diriku sendiri dan rasa lelah yang manja. Cintanya pun terus menderas, tak pernah surut, bagai air lautan yang menghempas batu karang di mulut pantai indah di ujung sana, sekitaran Labuan Bajo: pantai pink yang pernah kita impikan. Karena cintanya yang tulus itulah aku tak hancur, padahal egoisku kerap enggan lebur. Cintanya benar-benar autentik, jernih, dan insyaa Allah tak bakal luntur oleh waktu.

Terima kasih, cintaku, Eni Suhaeni… Sosok istimewa yang selalu hadir dalam sepi dan lelahku, yang tak pernah lelah berbagi tawa dan senyum untukku. Betul, tidak selalu 24 jam ia di sampingku, tapi aku percaya, pada setiap detik yang ia lalui, selalu ada cinta yang ia selipkan untukku. Betul, tak semua hal ia amin-kan, termasuk pada egoisku yang kadang membuat ia resah dan gelisah. Namun ia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Ya, istri sekaligus teman terbaik, tanpa basa-basi, tanpa kepalsuan, cinta yang jujur.

Dari waktu ke waktu ia berbenah, menuju maqom ideal: istri yang pembelajar, kekasih yang terus tumbuh. Aku menyaksikan ia adalah sosok yang mau belajar dan berupaya menjadi pendamping yang pantas dan mawas, yang menjaga marwah cinta. Walau cemburunya berbilang-bilang, bahkan sering kutentang dengan nada. Tapi pada akhirnya aku pun mengalah, dan memang mesti benar-benar mengalah, sebab aku sadar itu pertanda cintanya bagai batu karang; kokoh, dalam, dan tak mampu dihitung bilang.

Baca Juga :  Khidmat HMI Untuk Indonesia

Dan, jujur saja, sampai kapanpun aku takkan mampu membalas cintanya dengan sempurna. Karena itu, aku mesti terus berbenah diri, kini dan nanti, selagi napas masih diberi. Kini aku semakin percaya bahwa ia adalah kiriman Langit yang membuat bumiku semakin indah untuk ditapaki. Apalah lagi bila kita menapakinya dalam irama yang sama dan mulia: dalam bingkai ridho dan cinta-Nya. Semuanya pasti indah, bahkan lebih indah dari yang pernah aku duga sebelumnya.

“Sungguh, bila cinta bersenyawa Lillah, maka semuanya terasa indah,” begitu ungkapan yang kerap ia ucap untuk menyemangati, menghibur, dan memastikan bahwa cintanya padaku benar-benar berada dalam altar yang mulia, tulus, dan suci. Dan bila cintanya belum mampu kubalas dengan sempurna hari ini, aku hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga cintaku padanya terus bertumbuh, terus mekar, dan takkan pernah selesai, selamanya, hingga kita bersua kembali kelak di surga-Nya! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *