Opini

Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran

2
×

Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran

Share this article
IMG 20260910 WA0119 1
Syamsudin Kadir Penulis Buku "Inspirator Muda Indonesia" Foto : Dok Pribadi

oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia”

MEMBACA adalah tradisi kaum waras. Ia bukan hobi, ia adalah cara bertahan. Karena bangsa yang berhenti membaca, adalah bangsa yang mulai lupa arah. Kunci majunya peradaban ada di ujung pena. Dan di ujung jari yang rajin membalik halaman. Di situlah masa depan ditulis, satu kata demi satu kata.

Menengok Peradaban Islam

Lihatlah peradaban Islam. Ia tumbuh dari perintah pertama: Iqra’. Bacalah. Maka lahirlah para pencinta buku. Lahirlah rumah-rumah ilmu yang megah. Karena iman dan ilmu tak pernah bisa dipisah. Keduanya jadi paket spesial yang mengguncang dunia. Membawa dunia ke peradaban berkemajuan.

Coba tengok Baitul Hikmah di Baghdad. Didirikan Khalifah Al-Ma’mun pada abad ke-9. Ia bukan sekadar perpustakaan, ia pelabuhan ilmu. Manuskrip dari Yunani, Persia, India, berkumpul di sana. Jumlahnya ratusan ribu jilid. Dan dari sana, dunia belajar cara berpikir dan cara berilmu yang benar. Di sanalah akal disucikan, dan peradaban menemukan arahnya.

Ada pula Darul Hikmah di Kairo. Lahir tahun 1005 M di masa Fatimiyah. Konon koleksinya mencapai 1,6 juta jilid buku. Rak-raknya seperti hutan indah, teduh dan dalam. Setiap gulungan adalah pelita. Setiap lembar adalah jembatan antar masa, pelukis zaman. Di dalamnya waktu tidak mati, ia hanya dipinjamkan pada tinta.

Islam memang agama yang akrab dengan buku. Akrab dengan tinta, dengan kertas, dengan catatan. Karena wahyu pertama bukan perintah menyelesaikan jalan raya. Tapi perintah membaca dan menulis: jalan kebangkitan peradaban. Maka umat ini besar karena pena. Bukan hanya karena aspal dan beton mewah.

Sebut Ibnu Sina. “Al-Qanun fi at-Tibb” karyanya, lima jilid besar. Menjadi kitab kedokteran rujukan dunia berabad-abad. Sebut Al-Ghazali. “Ihya Ulumuddin” empat jilid tebal. Menjadi cermin bagi jiwa yang mencari Tuhan. Menjadi rujukan bagi kaum berakal di setiap perhelatan zaman. Dari dua pena itu, Timur dan Barat sama-sama belajar menyembuhkan raga dan ruh.

Baca Juga :  Shaum Ramadan Mulai 1 Ramadan, Bukan 1 Syawal!

Ada Ibnu Khaldun dengan “Muqaddimah”-nya. Satu buku, tapi mengubah cara manusia membaca sejarah. Ratusan halaman yang berisi samudera pemikiran. Ada Al-Khawarizmi, bapak aljabar. Angka di tangannya menjelma bahasa semesta. Karya mereka tidak pernah tua dimakan waktu. Bahkan waktu memberi mereka momentum untuk hidup melintasi zaman.

Mereka menulis bukan untuk terkenal. Karena itu tak penting. Mereka menulis karena takut ilmu akan mati. Maka perpustakaan menjadi rumah kedua. Tempat manusia bersujud pada akal. Tempat generasi menyambung ingatan. Karena bangsa tanpa buku, adalah bangsa tanpa memori. Bangsa tanpa tradisi baca-tulis yang kuat akan kehilangan arah untuk maju ke sejarah masa depan yang gemilang.

Konteks Indonesia

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Kita punya hari untuk mengingat buku. Kamis, 14 September 1995. Saat itu Presiden Ke-2, Presiden Soeharto mencanangkan Hari Kunjung Perpustakaan. Inisiatif itu lahir dari Perpustakaan Nasional RI. Lewat surat nomor 020/A1/VIII/1995, Jumat, 11 Agustus 1995. Sebuah tanggal kecil yang menanam harapan besar bagi literasi bangsa.

Surat itu sederhana, tapi niatnya sangat dalam. Agar bangsa ini tidak jauh dari buku. Agar aktivis intelektual punya ruang bertumbuh. Agar kursi, bangku dan meja perpustakaan tidak lagi sepi. Agar anak-anak tahu, ilmu tidak hanya di gawai. Tapi juga di halaman yang berbau kertas. Karena di sanalah pikiran belajar berjalan, bukan hanya menggulir.

31 tahun berlalu. Kini tahun 2026, temanya mengingatkan kita pada masa lampau yang haus ilmu. “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.” Betapa pas. Karena buku adalah pengingat paling setia. Lebih dari si dia yang cuma bisa “say halo”, sekadar basa-basi. Tema itu mengingatkan siapa kita dulu. Dan ia menggugah, siapa kita seharusnya.

Baca Juga :  Presiden dan Kapolri, Jadilah Panglima Perang Lawan Mafia Narkoba!

Mengapa Mesti Gila Baca-Tulis?

Buku mengetuk pintu hati yang tertutup. Buku bertanya saat kita terlalu nyaman. Buku menjawab saat kita terlalu bingung. Membaca bukan sekadar mengisi waktu. Membaca adalah perlawanan terhadap lupa. Membaca adalah cara kita menolak bodoh. Membaca adalah napas yang membuat jiwa tidak mati perlahan

Indonesia Emas 2045? Ingat, tak ada Indonesia Emas 2045 tanpa cinta buku. Tak ada generasi emas tanpa rak yang penuh buku. Emas sejati bukan di perut bumi. Tapi di kepala anak-anak yang haus baca. Di dada generasi muda yang gila buku. Di tangan pemuda yang mau dan berani menulis. Di rumah yang punya sudut untuk ilmu: pojok baca.

Dan cinta buku harus ditemani tradisi menulis. Karena membaca tanpa menulis, ibarat menimba tanpa ember. Anak muda mesti berani jadi penulis. Menulis sendiri, atau menulis bersama. Satu buku kolaboratif lebih kuat dari jutaan status. Karena buku adalah jejak yang tidak bisa dihapus. Termasuk oleh usia fisik kita yang masih dan pasti terbatas.

Mulailah dari lingkaran paling kecil. Dari diri: sisihkan 15 menit untuk membaca. Dari keluarga: jadikan buku hadiah ulang tahun. Dari kolega: buat klub baca di kantor. Dari teman kerja: tukar buku, bukan keluh. Dari teman ngerumpi: ganti gosip dengan resensi. Dan bersama siapapun bisa menulis buku kolaboratif. Itulah inspirator Indonesia sejati.

Perpustakaan adalah Masjid Akal

Perpustakaan adalah masjidnya akal. Tempat kita ruku’ pada ilmu. Tempat kita sujud pada kebenaran. Maka kunjungilah berkali-kali. Duduklah dengan semangat membara. Biarkan jiwa kita dipinjam oleh penulis hebat. Oleh ribuan buku yang siap membawa kita ke langit peradaban maju. Karena setiap langkah ke perpustakaan, adalah langkah pulang menuju cahaya: penerang jiwa, pemandu raga.

Baca Juga :  Jadilah Pencipta Konten Media Online!

Ayo generasi muda muslim Indonesia. Mati-matianlah untuk menulis. Mati-matianlah mencintai buku. Mari ramaikan perpustakaan, bukan hanya kafe. Mari hidupkan literasi dari rumah kita sendiri. Karena dari sanalah peradaban akan tumbuh lagi. Mari hidupkan tradisi baca-tulis, karena masa depan ada pada setiap abjad yang kita baca dan rakit.

Ingat, jangan biarkan rak buku kita berdebu. Jangan biarkan ingatan kita kosong. Bacalah, tulislah, kunjungilah. Karena peradaban tidak runtuh karena perang. Peradaban runtuh saat manusia berhenti membaca. Dan ia akan bangkit, saat kita membuka halaman pertama untuk membaca dan terus membaca hingga akhir. Maka mulailah hari ini, karena tinta hari ini adalah takdir esok. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *