Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Muhammadiyah: Ide, Narasi dan Karya”
MUHAMMADIYAH didirikan pada 18 November 1912 Masehi, bertepatan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah di Yogyakarta. Kelahiran organsiasi yang dipimpin pertama kali oleh KH. Ahmad Dahlan ini bukan kebetulan, melainkan jawaban atas kebutuhan umat akan pencerahan dan pembaruan. Dari surau kecil, gerakan ini tumbuh menjadi jaringan peradaban yang menjangkau seluruh penjuru negeri.
Kini aset triliunan rupiah dikelola untuk pendidikan, kesehatan, dan sosial kemanusiaan. Ekspansi struktural terus terjadi hingga pelosok desa, kota, bahkan keluar negeri melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM). Ini bukti bahwa ide besar akan selalu menemukan jalannya sendiri. Bahwa setiap kebaikan yang dilandasi niat ikhlas akan menjadi magnet yang melahirkan kebaikan dan kebaikan baru lainnya.
Tanwir dan Milad ke -114
Sabtu, 12 September 2026 menjadi penanda penting dalam sejarah panjang Muhammadiyah. Logo Tanwir dan Milad ke-114 resmi diluncurkan dengan tema “Bersama Satukan Bangsa”. Logo itu bukan sekadar desain visual, melainkan kompas arah gerakan ke depan. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak pernah berhenti membaca zaman. Semangat, cita-cita, dan strategi terkumpul dalam satu simbol sederhana namun dalam maknanya. Dari sinilah kita membaca optimisme untuk seratus tahun berikutnya.
Tema tersebut adalah penegasan posisi Muhammadiyah sebagai kekuatan pencerahan. Islam yang dibawa bukan Islam yang menakutkan, melainkan Islam yang mencerahkan akal dan hati. Persaudaraan menjadi poros, kebhinekaan menjadi ruang kerja, dan semesta menjadi tanggung jawab. Dengan itu Muhammadiyah menolak eksklusivisme sempit dan memilih jalan inklusif. Gerakan ini ingin menunjukkan bahwa iman dan kemajuan bisa berjalan beriringan. Inilah fondasi argumentatif mengapa Muhammadiyah relevan di era disrupsi.
Gagasan dan Agenda
Pertama, mengukuhkan eksistensi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Dakwahnya tidak berhenti di mimbar, tapi masuk ke kelas, rumah sakit, dan laboratorium. Tajdidnya bukan merobohkan tradisi, tapi membersihkan Islam dari praktik yang menjauhkan dari Al-Qur’an dan Sunnah. Pengetahuan harus turun menjadi perilaku, wacana harus menjadi tindakan nyata. Ketika nilai Islam hidup di birokrasi, pasar, dan keluarga, maka Islam menjadi rahmat. Di titik ini Muhammadiyah membuktikan dirinya bukan museum, melainkan laboratorium peradaban.
Kedua, mengukuhkan Muhammadiyah sebagai perekat dan pengukuh persatuan bangsa. Indonesia adalah mozaik suku, agama, dan budaya yang tidak bisa diseragamkan. Justru dalam keragaman itu agenda besar bangsa dibangun: saling menopang, saling menguatkan. Sebagai “ibu kandung Republik”, Muhammadiyah memikul tanggung jawab konstitusional. Ia mengawal agar perjalanan bangsa tetap berada di rel Pancasila dan UUD 1945. Tanpa perekat moral seperti ini, kebangsaan akan rapuh diterpa populisme.
Ketiga, ekspansi peran global Muhammadiyah. PCIM yang hadir di berbagai negara menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah telah melampaui batas. Internasionalisasi ini bukan ekspor organisasi, melainkan ekspor nilai: rahmah, bukan marah. Muhammadiyah ingin menjadi model Islam yang mengajak, bukan mengejek. Islam yang merangkul, bukan memukul, dan yang membangun dialog, bukan tembok. Dari sinilah misi rahmatan lil ‘alamin menjadi nyata, bukan sekadar slogan.
Melihat aset pendidikan dan kesehatan yang ada, kita bisa membayangkan masa depan yang lebih gemilang. Universitas Muhammadiyah akan menjadi pusat riset yang melahirkan solusi iklim, energi, dan pangan. Rumah sakit akan menjadi rujukan layanan kesehatan berbasis kemanusiaan dan teknologi. Panti asuhan dan lembaga sosial akan menjadi inkubator kepemimpinan anak bangsa. Semua itu dikelola dengan tata kelola profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan begitu Muhammadiyah tidak hanya besar secara kuantitas, tapi juga berkualitas.
Refleksi kritis perlu kita lakukan agar optimisme terus terbangun dalam jiwa dan tindakan. Besarnya struktur harus diimbangi dengan kedalaman kader dan integritas pimpinan. Aset triliunan harus dijaga agar menjadi modal dakwah dan lakon sosial. Digitalisasi menjadi kebutuhan agar dakwah dan layanan menjangkau generasi muda. Muhammadiyah harus berani berinvestasi pada talenta, riset, dan inovasi sosial. Hanya dengan itu gerakan ini akan tetap muda meski usia sudah 114 tahun.
Visualisasi masa depan menempatkan Muhammadiyah sebagai jembatan peradaban. Di tingkat lokal, ia memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi umat. Di tingkat nasional, ia menjadi mitra strategis negara dalam pembangunan manusia. Di tingkat global, ia menjadi suara Islam moderat yang diperhitungkan di seluruh dunia. Bayangkan kampus Muhammadiyah menjadi tempat bertemunya ilmuwan Muslim dan non-Muslim. Bayangkan rumah sakitnya menjadi tempat penyembuhan tanpa sekat identitas dan latar belakang.
Rasionalitas gerakan ini terletak pada konsistensi antara ide dan amal. Muhammadiyah tidak menjual retorika, ia menjual bukti: sekolah, klinik, beasiswa dan bantuan bencana. Setiap amal usaha adalah argumen hidup bahwa Islam bekerja untuk kemaslahatan. Karena itu masyarakat percaya, pemerintah menghargai, dan dunia menghormati. Kepercayaan publik adalah modal sosial paling mahal yang tidak bisa dibeli. Modal inilah yang akan menggerakkan Muhammadiyah di abad kedua.
Argumentasi optimis juga lahir dari sejarah panjang ketahanan Muhammadiyah. Ia lahir di masa kolonial, tumbuh di masa revolusi, dewasa di masa reformasi. Setiap gelombang zaman dijawab dengan adaptasi tanpa kehilangan jati diri. Kini tantangan zaman adalah algoritma, kecerdasan buatan, dan krisis ekologi. Muhammadiyah harus menjawabnya dengan fatwa, kebijakan, dan amal usaha baru. Jika bisa menjawab itu, maka masa depan bukan ancaman, melainkan peluang.
Refleksi spiritual mengingatkan bahwa kekuatan terbesar Muhammadiyah adalah niat. Niat untuk mengabdi, bukan untuk berkuasa. Niat untuk membangun, bukan untuk bersaing. Ketika niat lurus, maka Allah akan mudahkan jalan dan buka pintu-pintu langit. Karena itu setiap kader harus menjaga ruh gerakan tetap bersih. Selain gedung dan jumlah, keberhasilan Muhammadiyah juga bisa diukur dengan integritas, moral dan akhlak umat yang lebih baik.
Kontribusi bagi bangsa akan semakin nyata jika Muhammadiyah memimpin narasi kebangsaan. Narasi yang mempersatukan, bukan yang memecah. Narasi yang mencerdaskan, bukan menghasut. Di tengah polarisasi politik, Muhammadiyah bisa menjadi penengah yang rasional. Ia bisa menghadirkan forum dialog lintas iman, lintas generasi, lintas ideologi. Dari forum itu lahir kebijakan publik yang adil dan berpihak pada rakyat. Inilah peran negara dan bangsa yang ditunggu dari Muhammadiyah.
Kontribusi bagi peradaban dunia lahir dari misi global yang konsisten. Melalui PCIM, Muhammadiyah bisa membangun jaringan pendidikan dan kemanusiaan internasional. Ia bisa menjadi mitra PBB dalam isu kemiskinan, pengungsi, dan perubahan iklim. Ia bisa menunjukkan kepada dunia wajah Islam Indonesia yang damai dan produktif. Dunia butuh contoh, bukan khotbah. Dan Muhammadiyah punya contoh itu. Dari sinilah “Bersama Satukan Bangsa” meluas menjadi “Bersama Satukan Umat Manusia”.
Menuju Tanwir, kita diajak mengevaluasi arah dan menyusun strategi baru. Tanwir bukan seremoni, melainkan ruang berpikir kolektif para pemimpin. Di sana diputuskan prioritas: pendidikan vokasi, kesehatan preventif, dan ekonomi berkeadilan. Di sana juga diputuskan bagaimana Muhammadiyah menjawab tantangan digital. Keputusan Tanwir akan menjadi peta jalan menuju Milad 115 tahun depan, Muktamar dan seterusnya. Jika arahnya jelas, maka langkah serentak akan melahirkan dampak besar.
Optimisme kita bukan tanpa dasar, karena sejarah sudah membuktikannya. Dari satu masjid, kini ada puluhan ribu amal usaha di seluruh Indonesia. Dari satu kota, kini ada perwakilan di puluhan negara melalui PCIM. Dari satu gagasan, kini lahir jutaan kader yang tersebar di berbagai profesi. Jika 114 tahun bisa sejauh ini, maka 200 tahun ke depan akan lebih jauh lagi. Asalkan kita tetap setia pada tiga ide: dakwah, persatuan, dan misi global.
Milad ke-114 bukan untuk merayakan masa lalu, tapi untuk menyiapkan masa depan. Logo adalah simbol pengingat bahwa aksi-aksi kebermanfaatan harus selalu diperbarui agar tidak usang. Tema “Bersama Satukan Bangsa” mengingatkan bahwa kemajuan adalah buah kolaborasi. Mari kita jadikan Muhammadiyah sebagai mercusuar peradaban yang terang dan menuntun. Dengan itu Indonesia maju, dunia damai, dan rahmat Islam benar-benar dirasakan semesta. (*)






