Opini

AHY dan Optimisme Merakit Sejarah

2
×

AHY dan Optimisme Merakit Sejarah

Share this article
IMG 20260916 WA0019
Syamsudin Kadir Foto : Dok Pribadi

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia”

“Jangan jadi pewaris sejarah, jadilah pembuat sejarah!” Kalimat yang diucapkan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY di panggung HUT ke-25 Demokrat pada 9 September 2026 itu bukan sekadar orasi. Ia adalah renungan yang membelah waktu, antara yang telah selesai dan yang baru akan dimulai. Di sana ada apresiasi mendalam pada 25 tahun pertama yang penuh air mata dan tawa. Namun di sana juga ada panggilan yang jauh lebih berat untuk 25 tahun berikutnya. Dan panggilan itu ditujukan bukan pada masa lalu, tapi pada pundak generasi muda.

Saya mengapresiasi cara AHY memilih diksi. Ia tidak terjebak pada romantisme satu perempat abad. Ia tidak menjadikan ulang tahun sebagai museum untuk memajang piagam dan foto lama. Ia justru berkata tegas: “This is not the finish line. This is the beginning of our new chapter.” Diksi dwibahasa itu adalah jembatan komunikasi politik yang cerdas dan modern. Ia menjangkau kader di desa sekaligus pemilih muda di ruang digital. Dan ia menegaskan bahwa Demokrat sadar ia hidup di era yang agak beda.

Dari kacamata komunikasi politik, apa yang dilakukan AHY adalah re-framing yang puitis. Ia mengubah logika perayaan menjadi logika tanggung jawab, dari seremoni menjadi misi. Kata “pewaris” itu pasif, menunggu, menerima apa yang sudah ada di meja. Sementara kata “pembuat” itu aktif, mencipta, melukai tangannya sendiri untuk membentuk masa depan. Di titik inilah komunikasi menjadi energi, bukan sekadar informasi. Dan energi itulah yang dibutuhkan partai politik yang ingin tetap relevan.

Sebab regenerasi tidak pernah terjadi hanya dengan pergantian umur. Regenerasi adalah pergantian cara berpikir, cara merasa, dan cara memimpin. AHY paham betul jebakan banyak partai di Indonesia: tua dominasi di struktur, sementara yang muda hanya jadi hiasan. Dengan mengatakan “jadilah pembuat sejarah”, ia sedang membuka pintu itu lebar-lebar. Ia meminta anak-anak muda Demokrat untuk tidak hanya menjaga lilin, tapi menyalakan api baru. Itu adalah etika kepemimpinan yang langka: memberi ruang, bukan sekadar memberi arahan.

Baca Juga :  Mulailah Dari Catatan Kecil atau Catatan Harian!

Kita bisa melihatnya dalam gerak tubuh dan jeda pidatonya. Pada momentum itu ia merangkul waktu, masa lalu adalah pelajaran, masa depan adalah tanggung jawab. Komunikasi yang efektif memang tidak selalu harus berteriak, kadang ia cukup berbisik tapi menggetarkan. AHY sedang membangun narasi keberlanjutan yang tidak feodal, tapi kolegial. Pesan itu sederhana, tapi ia menusuk kesadaran. Dan narasi seperti itulah yang dirindukan oleh demokrasi kita hari ini.

Di level Partai Demokrat, pesan ini adalah koreksi sekaligus harapan. Koreksi bahwa kejayaan Presiden SBY 2004-2014 tidak boleh menjadi selimut yang membuat generasi baru terlelap. Harapan bahwa 25 tahun berikutnya harus ditulis dengan tinta keberanian yang baru. Sejarah tidak boleh hanya diwarisi seperti pusaka yang disimpan di lemari. Sejarah harus dibuat, seperti petani yang setiap pagi mencangkul tanahnya sendiri. Dan hanya dengan cara itulah sebuah partai tidak menjadi artefak, tapi tetap menjadi aktor.

Lalu apa makna pesan ini di bagi Indonesia? Indonesia hari ini adalah negeri yang didominasi oleh darah muda. Lebih dari separuh pemilih kita adalah mereka yang tidak hidup di era 1998. Mereka tidak bisa lagi dibujuk dengan cerita nostalgia, mereka butuh cerita masa depan. Ketika AHY berkata “jadilah pembuat sejarah”, ia sedang menyapa kegelisahan nasional itu. Ia sedang mengatakan bahwa politik bukan tentang siapa ayahmu, tapi tentang apa karyamu.

Ini adalah puisi politik yang rasional. Masa depan tidak diwariskan, ia diciptakan. Ia tidak jatuh dari langit seperti hujan, ia harus dijemput dengan kerja dan air mata. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang pandai mengulang-ulang cerita lama. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menulis bab baru dengan keberanian moral. Dan keberanian moral itu hanya lahir jika generasi muda diberi kepercayaan, bukan hanya tepuk tangan. AHY, di panggung itu, sedang mencoba membayar kepercayaan itu.

Baca Juga :  Air Mata Kejujuran KDM

Tentu jalan itu tidak mudah. Menjadi pembuat sejarah berarti siap untuk salah dan disalahkan. Berarti siap untuk tidak populer demi sesuatu yang benar dalam jangka panjang. Berarti siap untuk melawan kemudahan menjadi pewaris yang duduk manis di atas nama besar. Tapi justru di situlah letak keindahan dan kepahlawanannya sebagai pemimpin muda. Ia tidak sedang membangun dinasti, ia sedang membangun tradisi pembuat sejarah. Tradisi yang akan membuat Demokrat tidak hanya panjang umur, tapi juga panjang akal dan peran.

Saya membayangkan seorang kader muda Demokrat di ujung desa, yang mendengar pidato itu lewat gawai retak. Ia yang selama ini hanya disuruh memasang baliho, kini merasa diajak menulis sejarah. Rasanya seperti seseorang yang selama ini hanya disuruh menjaga perpustakaan, tiba-tiba diminta menulis buku. Ada getaran harga diri yang kembali, ada optimisme yang tumbuh pelan tapi pasti. Itulah kekuatan komunikasi yang puitis: ia membuat orang kecil merasa besar karena perannya. Dan politik yang besar selalu dimulai dari perasaan kecil yang dirawat itu.

Secara nasional, kita membutuhkan lebih banyak pidato seperti ini. Pidato yang tidak memecah, tidak menghina, tidak menakut-nakuti rakyatnya sendiri. Pidato yang mengajak, merangkul, dan memberi peran, bukan pidato yang menciptakan musuh bersama. Jika setiap ketua umum partai berkata seperti AHY, Indonesia akan lebih teduh. Sebab regenerasi kepemimpinan nasional tidak akan lahir dari kebencian, tapi dari harapan. Harapan bahwa setiap anak bangsa bisa menjadi pembuat sejarah di bidangnya masing-masing.

Maka 25 tahun Demokrat bukanlah garis akhir, ia adalah koma yang indah. Koma yang memberi jeda untuk menarik napas, lalu melanjutkan kalimat yang lebih panjang. Tugas generasi muda bukan untuk mengulang kalimat SBY dengan ejaan yang sama. Tugas mereka adalah melanjutkan kalimat itu dengan diksi mereka sendiri, dengan luka dan cinta mereka. Itulah cara terbaik untuk menghormati sejarah: bukan dengan memujanya, tapi dengan melanjutkannya. Sejarah yang hidup adalah sejarah yang terus ditulis, bukan yang selesai di bingkai.

Baca Juga :  Buku KAMMI Bisa Beribu-ribu

Saya menaruh hormat pada pesan itu, karena ia jujur dan futuristik. Ia jujur mengakui bahwa masa lalu sudah selesai, dan futuristik karena menatap masa depan yang belum ada. Banyak pemimpin yang pandai bicara tentang masa lalu, tapi gagap ketika bicara tentang masa depan. AHY di pidato itu melakukan sebaliknya: ia menjadikan masa lalu sebagai pijakan, bukan sebagai tujuan. Pijakan untuk melompat lebih tinggi, untuk menjangkau langit yang lebih luas. Dan lompatan itu hanya mungkin jika ada keberanian untuk melepas jangkar nostalgia.

Akhirnya, pesan “jadilah pembuat sejarah” adalah pesan untuk kita semua, bukan hanya untuk generasi muda Demokrat. Untuk mahasiswa yang menulis skripsi di kos sempit, untuk petani yang menjaga padi di musim hujan. Untuk guru honorer, untuk perawat, untuk penulis, untuk siapa saja yang mencintai negeri ini. Jangan hanya menjadi pewaris luka dan kecewa dari generasi sebelumnya. Jadilah pembuat sembuh dan pembuat harapan bagi generasi sesudah kita. Karena bangsa ini tidak butuh lebih banyak pewaris, ia butuh lebih banyak pembuat sejarah.

Selamat ulang tahun ke-25 untuk Partai Demokrat. Terima kasih telah mengingatkan kami. Terima kasih Ketua Umum AHY, telah memilih kata-kata yang merangkul masa depan. Semoga setelah ini, kader-kader muda tidak hanya hafal mars partai, tapi juga hafal denyut rakyat. Semoga Demokrat benar-benar menjadi rumah bagi para pembuat sejarah, bukan sekadar penjaga sejarah. Dan semoga Indonesia, melalui partai-partai yang berani beregenerasi, menemukan jalan pulangnya. Jalan pulang menuju cita-cita republik: menjadi bangsa pembuat sejarah! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *