Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”
RAMADAN merupakan bulan momentum dimana shaum wajib sebagai bagian dari rukun Islam ditunaikan. Selain itu, Ramadan juga dikenal sebagai syahrul Qur’an, bulan al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan. Surat yang pertama kali turun adalah surat al-Alaq ayat 1-5, yang berisi tentang perintah sekaligus konsep “iqra” atau “membaca” dalam Islam.
Allah berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3), yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5).”
Salah satu ulama tafsir terkemuka, Abdurhaman bin Nashir As-Sa’di, dalam kitab “Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan”, yang dikenal dengan “Tafsir As-Sa’di” (hal. 86) menjelaskan, “Bulan Ramadan terdapat karunia besar. Karunia tersebut adalah dengan diturunkannya karunia al-Qur’an yang mulia.”
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 185, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)….”
Selain menjelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan, ayat tersebut juga menjelaskan tiga fungsi utama al-Qur’an yaitu (1) hudan, petunjuk bagi umat manusia, (2) bayyinat, penjelas atas berbagai petunjuk atau hujjah berbagai ajaran di dalamnya, dan (3) al-furqon, pembeda antara yang haq dan yang batil, antara yang halal dan yang haram.
Dalam pandangan Imam Ibnu Katsir, dalam Kitab “Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim”, al-Qur’an akan memberi dampak nyata bagi kehidupan kita, bila (1) benar-benar meyakini kebenaran al-Qur’an, (2) berinteraksi dengan berbagai ajarannya, dan (3) selalu berupaya menjaganya selama hidup.
Selain tiga hal tersebut, al-Qur’an juga dikenal sebagai as-Syifa, obat penawar. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Israa ayat 82, “Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan para ulama generasi berikutnya selalu berupaya untuk memperkuat keimanan pada al-Qur’an, berinteraksi dengan al-Qur’an dan menjadi sahabat al-Qur’an.
Bila merujuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan para ulama, cara atau langkah yang ditempuh agar semakin beriman dan lebih akrab dengan al-Quran adalah (1) membaca, (2) mentadaburi atau mendalami sekaligus mengkaji, (3) mengamalkan, (4) menghafal, (5) mendakwahkan dan (6) memperjuangkannya.
Sebagai upaya paktis, cara atau langkah yang paling sederhana adalah membaca al-Qur’an. Kita bisakan diri untuk membacanya setip hari. Kuncinya adalah penjadwalan, walau hanya 5-10 ayat per hari. Hal ini terlihat sederhana, namun mengandung sekaligus dampak besar, bahkan bukan saja di dunia, tapi juga hingga ke akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (penolong) bagi sahabat-sahabatnya (orang-orang yang giat membacanya).” (HR. Muslim)
Bahkan mereka yang membaca satu huruf pun tetap diganjar pahala oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
Kita, bisa jadi sudah menjalankan berbagai jenis ibadah dan amal saleh. Namun, kita tidak tahu secara pasti ibadah dan amal saleh mana yang benar-benar diterima di sisi Allah kelak. Insyaa Allah dengan membaca al-Qur’an, terutama di Ramadan kali ini, kita punya “hudan” (petunjuk) dan “syifa” (obat) saat di dunia sekaligus “syafa’at” (penolong) saat di akhirat kelak, yaitu al-Qur’an.
Mari memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah, kiranya setiap ibadah dan amal saleh yang kita laksanakan diterima. Begitu juga al-Qur’an yang kita baca, benar-benar menjadi “hudan” (petunjuk) dan “syifa” (obat) saat di dunia sekaligus “syafa’at” (penolong) saat di akhirat kelak. (*)






