Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”
RAMADAN memang bulan spesial dan istimewa. Ia bukan saja bulan shaum wajib dan bulan al-Quran, ia juga bulan muhasabah diri. Berbagai macam ibadah Ramadan yang kita lakukan dalam bulan Ramadan akan memberi dampak mendalam bila dibarengi dengan proses perenungan dan muhasabah yang serius.
Pada Selasa 3 Maret 2026, Bapak Sasongko W. S.Pd. mendapat kesempatan untuk menyampaikan kuliah tujuh menit atau kultum di Masjid Maslicha. Alhamdulillah saya sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menunaikan rangakaian ibadah tarawih di masjid yang berada di kompleks Perumnas Bumi Arum Sari, Talun, Cirebon, Jawa Barat ini.
Mengawali, penceramah membaca salah satu hadits yang cukup mashur di tengah umat Islam. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrok)
Petama, Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Pada usia muda umumnya fisik kita masih kuat dan sehat. Untuk itu, mari manfaatkan dengan baik untuk beribadah dan beramal saleh. Karena bila sudah tua, agaknya kita sulit untuk melakukan banyak kebaikan. Bahkan untuk beribadah pun kita hanya mengandalkan tenaga sisa.
Kedua, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Jadi, kita harus benar-benar memanfaatkan nikmat sehat untuk beribadah dan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Sebab bila kita mengalami sakit, umumnya agak sulit untuk melakukan berbagai kebaikan, bahkan saat beribadah pun kita agak kesulitan.
Ketiga, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan kita agar lebih berhati-hati dengan kefakiran. Menurut penceramah, kesuksesan dan kelebihan rezeki semuanya adalah dari Allah. Sebagai wujud syukur atas semua itu, maka kita harus banyak berbagi pada sesama, terutama pada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Sebab harta yang kita miliki suatu saat di akhirat akan kita pertanggung jawabkan. Kita akan dipertanyakan tentang sumber dan kegunaan harta kita. Bila kita memanfaatkan untuk zakat dan bersedekah atau berbagi ada sesama, insyaa Allah semuanya bakal menjadi penolong kita di akhirat.
Harta itu bakal menjadi saksi bahwa selama di dunia kita mampu memanfaatkan pada jalan ketaatan dan kebaikan pada sesama. Harta tersebut tidak hanya akan dihisab, tetapi juga menjadi saksi atas perilaku kita sebagai pemilik yang dititipi sementara olh Allah kepada kita semasa hidup di dunia.
Keempat, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Waktu luang adalah nikmat dari Allah kepada kita. Menurut penceramah, berkaitan dengan pentingnya waktu, ada banyak surat dan ayat dalam al-Qur’an yang mengulas tentang waktu, salah satunya adalah surat al-Ashr.
Allah berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-Ashr: 1-3)
Kelima, Hidupmu sebelum datang matimu. Masa hidup di dunia ii hanya sementara saja. Walau demikian, ia adalah satu-satunya momentum bagi kita untuk menanam amal kebaikan yang hasilnya akan kita petik kelak di akhirat.
Urusan mati, kata penceramah, adalah hak prerogatif Allah. Satu hal yang penting, kita persiapkan secara matang apa saja sebagai bekal menjelang ajal kematian iu tiba. Tujuan utama kita diciptakan oleh Allah adalah beribadah. Berbagai bentuk ibadah dan amal saleh itulah bekal utama kita menuju kehidupan akhirat.
Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyaat: 56)
Ramadan adalah momentum untuk melatih diri kita agar mampu memanfaatkan setiap detik dari rute kehidupan yang kita lalui di dunia sebelum kelak bersua dengan ajal kematian. Mengapa kita memanfaatkan waktu hidup di dunia untuk bermala saleh?
Karena kita ingin tidak menyesal sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam al-Qur’an surat al Munafiqun: 10-11, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”
Mudah-mudahan kita mampu mengisi Ramadan kali ini dengan berbagai macam ibadah dan amal saleh serta lebih giat lagi untuk bermuhasabah diri termasuk berkaitan dengan lima perkara sebelum lima perkara seperti yang diulas di atas. (*)






