Opini

PASS 2026: Menumbuhkan Prestasi dan Kelembutan Hati

7
×

PASS 2026: Menumbuhkan Prestasi dan Kelembutan Hati

Share this article
IMG 20260616 WA0100
Foto : Muhamad Islahul Azmi/Istimewa-GM

Oleh: Muhamad Islahul Azmi

Pembina dan Pengajar di KMMI Yayasan Nurul Hakim Lombok

DALAM tausiah pembukaan Pekan Apresiasi Seni Santri (PASS) 2026 yang diselenggarakan oleh MTs. DI. Putri Nurul Hakim Senin 15 Juni 2026, Pimpinan Yayasan Nurul Hakim Lombok TGH. Muharrar Mahfudz menyampaikan bahwa perlombaan merupakan salah satu bagian penting dari metodologi pendidikan. Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas melalui proses belajar mengajar, tetapi juga melalui berbagai kegiatan di luar kelas yang mampu mengembangkan potensi, keterampilan, dan karakter para santri.

TGH. Muharrar Mahfudz mencontohkan salah seorang santri Madrasah Qur’an Nurul Hakim (MQNH) yang berhasil meraih prestasi sebagai juara Fahmil Al-Qur’an tingkat Provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa santri Nurul Hakim memiliki kemampuan untuk bersaing tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga pada tingkat yang lebih tinggi bahkan nasional. Oleh karena itu, berbagai perlombaan yang diadakan di lingkungan pesantren hendaknya dipandang sebagai sarana pembinaan dan pengembangan diri, bukan sekadar ajang mencari kemenangan.

Dalam mengikuti perlombaan, para santri juga harus menjunjung tinggi akhlak yang mulia. Beliau mengingatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah kalian bersikap lemah lembut dan jauhilah kekerasan.” Hadits ini mengajarkan bahwa kelembutan merupakan salah satu karakter utama seorang muslim.

Karena itu, setiap bentuk perlombaan harus dilaksanakan dalam suasana yang penuh persaudaraan, saling menghargai, dan jauh dari sikap kasar maupun permusuhan. Menang dan kalah adalah bagian dari proses belajar, sedangkan akhlak yang baik harus tetap dijaga dalam setiap keadaan.

Beliau menjelaskan bahwa Allah sendiri memperkenalkan diri-Nya dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka seorang hamba yang mencintai Allah hendaknya berusaha meneladani sifat kasih sayang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Baca Juga :  Pesan Penting MTQ Ke-6 Mbeliling Tahun 2026

Keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersikap lembut terhadap sesama manusia menjadi bukti nyata bahwa akhlak yang baik merupakan jalan untuk meraih kecintaan Allah. Bahkan kepada orang yang memusuhinya sekalipun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tetap menunjukkan kasih sayang dan kepedulian.

Menurut beliau, salah satu sarana paling efektif untuk menanamkan kelembutan hati adalah melalui interaksi yang dekat dengan Al-Qur’an. Membaca, mempelajari, menghafal, dan mentadabburi Al-Qur’an akan membentuk pribadi yang lebih tenang, santun, dan berakhlak mulia. Demikian pula kegiatan Pekan Apresiasi Seni Santri yang diisi dengan berbagai cabang perlombaan bernuansa Islami dapat menjadi media pendidikan karakter yang sangat baik bagi para santri.

TGH. Muharrar Mahfudz juga mengungkapkan rasa syukur atas banyaknya alumni Nurul Hakim yang saat ini berkiprah di tengah masyarakat sebagai tokoh dan pemimpin yang dicintai oleh berbagai kalangan. Hal tersebut tidak terlepas dari pendidikan akhlak yang menjadi ciri khas pesantren, sehingga mereka mampu diterima oleh masyarakat tanpa memandang latar belakang organisasi maupun kelompok tertentu.

Pada kesempatan tersebut, ayah dari Hj. Nurul Adha (Wakil Bupati Lombok Barat) ini turut mengingatkan pentingnya menjaga batasan-batasan syariat dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Terlebih di tengah berbagai peristiwa yang belakangan menimpa beberapa lembaga pendidikan terkait pelanggaran moral dan kekerasan seksual.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan pedoman yang sangat jelas dalam hal ini, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut menunjukkan pentingnya menutup segala pintu yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, setiap aturan yang diterapkan di lingkungan pesantren terkait interaksi antara laki-laki dan perempuan harus dipahami sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan, keamanan, dan kemaslahatan bersama. Ketegasan dalam menegakkan aturan merupakan bagian dari upaya menjaga amanah pendidikan yang diberikan oleh para wali santri.

Baca Juga :  Prabowo Subianto; Optimisme, Kepemimpinan dan Sepak Terjang

Menjelang akhir tausiahnya, beliau kembali menegaskan bahwa kegiatan Apresiasi Seni Santri ini bukan sekadar perlombaan, melainkan sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan membentuk hati yang lembut. Beliau mengutip sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memperindah bacaan al-Qur’annya.” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan anjuran untuk membaca al-Qur’an dengan suara yang indah dan penuh penghayatan, sehingga dapat memberikan pengaruh positif bagi pembacanya maupun orang yang mendengarkannya.

Beliau mengajak seluruh peserta untuk mengikuti setiap perlombaan dengan penuh kesungguhan, menjadikannya sebagai sarana memperbaiki diri, mengembangkan kemampuan, serta mempersiapkan diri untuk berkompetisi pada jenjang yang lebih tinggi. Semua itu hendaknya dilakukan dengan niat yang ikhlas semata-mata untuk meninggikan agama Allah dan mengharapkan ridha-Nya.

Sebagai penutup, TGH. Muharrar Mahfudz secara resmi membuka kegiatan Pekan Apresiasi Seni Santri (PASS) 2026 dengan pemukulan beduk, seraya berharap agar seluruh rangkaian kegiatan dapat menjadi sarana lahirnya generasi santri yang berprestasi, berakhlak mulia, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai al-Qur’an dan sunnah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *