Oleh: Syamsudin Kadir
Departemen Pendidikan Karakter Majelis Pengurus Pusat Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) 2025-2026
Namanya Bapak Abdul Sudin, akrab disapa Pak Abdul atau Kakak Abdul. Pak Abdul merupakan anak pertama dari 7 bersaudara dari pasangan Bapak Ari dan Ibu Sia. Beliau merupakan salah satu generasi senior Cereng yang terdidik. Beliau pernah menempuh pendidikan di Cereng dan Bima, NTB, lalu mengajar di beberapa sekolah dasar atau SD dan madrasah ibtidaiyah atau MI di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT.
Kakak Abdul, demikian saya menyapa beliau, merupakan salah atau tokoh pendidikan yang sangat penting bagi keluarga besar Cereng dan sekitarnya. Beliau aktif mengajar sejak tahun 1980-an awal hingga pensiun beberapa waktu lalu. Puluhan tahun, bahkan lebih dari setengah usia beliau menjalankan peran sejarah sebagai pahlawan pendidikan, guru yang bukan saja mengajar tapi juga membimbing, membina dan mendidik juga mengasuh generasi lintas tempat.
Secara pribadi, saya menjadi saksi beliau memiliki andil besar terhadap pendidikan generasi Cereng. Baik sebagai pendidik maupun sebagai motivator juga teladan. Bila bersua dengan anak-anak Cereng, beliau selalu berbagai pengalaman dan menyuntik banyak semangat agar melanjutkan pendidikan. Beliau juga selalu mengingatkan akan pentingnya shalat lima waktu, mengaji atau membaca al-Quran dan ini yang tak kalah pentingnya yaitu tradisi baca-tulis.
Bahkan saya memiliki pengalaman penting dan bersejarah dalam kehidupan saya, terutama dalam perjalanan menempuh pendidikan. Saya berani menyatakan bahwa Kakak Abdul Sudin-lah sosok yang sangat berjasa dalam perjalanan pendidikan saya. Beliaulah yang mengantar saya ke Lombok, NTB untuk melanjutkan pendidikan sebagai santri. Ini jasa besar yang tak mampu saya balas sampai kapan pun. Beliau mengantar saya dari kampung Cereng menuju Labuan Bajo pada pertengahan 1996 silam.
Kala itu, berjalan kaki selama beberapa jam dari Cereng menuju Labuan Bajo. Kami menempuh perjalanan panjang, melalui gunung dan jalan berkelok. Seingat saya, saat itu melewati jalur Ruteng Wangga hingga sampai Dalong lalu ke Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, lalu mengantar saya dan Ustadz Mohamad Yasin menuju Sape dan Bima di NTB melalui kapal very. Lalu selanjutnya berangkat menuju Lombok, tepatnya ke Kediri, Lombok Barat, tempat Pondok Pesantren Nurul Hakim, menggunakan bus AKAP.
Nurul Hakim merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia bagian Timur. Seingat saya, alumninya sudah puluhan ribu jumlahnya. Saat ini jumlah santrinya sekira 7.000-an lebih orang. Anak saya yang sulung, Azka Syakira, saat ini sedang menempuh pendidikan di Nurul Hakim, tepatnya kelas 2 di Program Pendidikan Khusus Kuliyatul Mu’alimin wal Mu’alimat Islamiyyah (PPKh KMMI) Putri. Insyaa Allah anak saya yang lainnya juga nanti bakal nyantri ke Nurul Hakim. Mengikuti jejak saya, yang bisa nyantri karena jasa besar Kakak Abdul.
Setelah nyantri di Nurul Hakim, saya melanjutkan pendidikan tinggi di UIN Bandung, hingga berkarier dan menikah masih di Jawa Barat. Bila saya pulang libur ke NTT, baik saat masih di Lombok, Bandung dan aktivitas di Jakarta maupun sekarang berdomisili di Cirebon, Jawa Barat, saya selalu berupaya untuk silaturahim dan berbincang dengan Kakak Abdul dalam beragam tema. Saya merasakan beliau tetap menjadi sosok inspiratif dan teladan yang baik.
Pada awal November 2019 lalu, tepatnya setelah acara bedah buku saya yang berjudul “Selamat Datang Di Manggarai Barat” pada 2 November 2019 lalu di Labuan Bajo, saya bertemu Kakak Abdul di Leheng, tepatnya di rumah bibi atau kakak perempuan dari ayah saya. Kala itu, Kakak Abdul sangat bangga dan haru atas capaian saya, terutama menghasilkan beberapa buku. Seingat saya, beliau pun memberi catatan kritis untuk buku yang acara bedahnya dihadiri oleh 500-an undangan dan tokoh, termasuk Bupati Manggarai Barat kalau itu, Bapak Agustinus Dula.
Bagi saya, Kakak Abdul Sudin bukan saja guru, inspirator dan teladan bagi keluarga besar Cereng, tapi juga bagi generasi baru Manggarai Barat. Terutama dari sisi beliau sebagai pendidik yang menjalankan peran sejarah yang tak seluruhnya bisa dilakukan oleh generasi muda belakangan ini. Pada Kakak Abdul kita belajar tentang teori sekaligus praktik berkaitan dengan keikhlasan, ketulusan, pengorbanan, kerja keras dan kedisiplinan juga keteladanan. Muridnya ada di mana-mana. Itulah yang membuat saya percaya diri mengatakan beliau tokoh pendidikan Manggarai Barat asal Cereng.
Belakangan Kakak Abdul pensiun mengajar karena sudah tua atau faktor usia. Suatu yang sangat wajar bagi seorang guru senior. Seingat saya, pada 2023 lalu, saya sempat bersua beliau di Leheng, pas momentum acara “Do’a” untuk Bapak Mustajik (almarhum), salah satu kolega beliau yang mengajar di MIS Nurul Fikri Leheng, yang meninggal pada Rabu 19 April 2023. Kini Kakak Abdul fokus berkebun dan tetap menjadi teladan bagi kami generasi Cereng juga keluarga besar. Jazakumullah, barakallah dan sehat selalu Kae Momang! (*)






