Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Toloh
NAMA lengkapnya Bapak Ngempo atau Kakek Ngempo. Beliau merupakan suami dari nenek saya yaitu Ibu Timur atau ayah dari ibu saya yaitu Ibu Siti Jemami. Seingat saya, saya belum sempat melihat beliau secara nyata. Karena menurut cerita para tetua, termasuk cerita dari salah satu keponakannya asal Naga, Mata Wae, yaitu Bapak Abdul Mispaki, Kakek Ngempo meninggal sekira awal tahun 1980-an, kala sang keponakan masih menempuh pendidikan SMA di Ruteng, Manggarai, NTT. Sementara saya lahir pada 8 Agustus 1983.
Beberapa tahun sebelum meninggal dunia, sang kakek kembali menikah. Beliau menikah dengan Ibu Dima atau Nenek Dima. Bila menikah dengan Nenek Timur melahirkan ibu saya atau Ibu Siti Jemami, sementara dari pernikahan dengan Nenek Dima melahirkan empat orang anak yaitu Bibi Siti (Merombok), Bibi Rabia (Golo Mori), Om Mutar (almarhum), Om Yakub (Leheng). Setelah Kakek Ngempo meninggal dunia, Nenek Dima menikah dengan Kakek Jeli (Mbuhung), lahirlah Om Husin dan Bibi Semanti.
Dari berbagai cerita dan kenangan dari orang terdekat, Bapak Ngempo dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, sosok yang ulet dan pekerja keras. Keuletan dan kerja kerasnya adalah bukti nyata bahwa beliau sangat mencintai keluarga kecilnya, juga demi memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya kala itu. Begitu cerita ibu saya, ketika suatu saat bercerita tentang sosok ayahnya ini pada medio 1990-an, kala saya baru menempuh pendidikan sekolah dasar atau SD.
Bila ditelisik, dua hal tersebut diwariskan kepada dua orang spesial dalam kehidupannya, yaitu (1) istri beliau atau nenek saya yaitu Ibu Timur. Nenek Timur adalah sosok yang ulet dalam segala hal. Beliau juga pekerja keras yang dibuktikan dengan berbagai hal saat beliau masih hidup. Kemudian (2) anak beliau atau ibu saya yaitu Ibu Siti Jemami. Ibu saya juga merupakan sosok yang ulet dan pekerja keras. Ketiganya ditambah ayah saya yaitu Bapak Abdul Tahami menjadi teladan yang baik bagi kami keluarga besar.
Kedua, sosok yang cerdas. Menurut Bapak Abdul Mispaki, sang paman adalah sosok yang cerdas dalam berbagai hal, terutama bila berbicara seputar budaya dan adat istiadat Manggarai, NTT. Bahkan dalam pandangan sosok yang kini berdomisili dan berkarier di Solo, Jawa Tengah ini, di antara empat bersaudara, Bapak Ngempo termasuk sosok yang kecerdasannya di atas rata-rata, terutama bila berbicara tentang budaya dan adat istiadat Manggarai, NTT.
Ketiga, sosok yang berilmu dan berwawasan luas. Kakek Ngempo memang unik. Tidak menempuh pendidikan formal atau sekolah formal seperti tidak menempuh sekolah dasar atau SD, tidak membuat Kakek Ngempo kehilangan pengetahuan dan wawasan. Tak menempuh pendidikan formal juga tidak membuatnya minus dalam kemampuan berhitung. Kemampuan untuk menjelaskan berbagai hal pun adalah sesuatu yang membuatnya makin unik.
“Beliau termasuk sosok yang cerdas untuk berbicara adat, walaupun tidak menempuh pendidikan atau sekolah,” kenang sang keponakan.
Keempat, sosok yang pandai membaca. Kakek Ngempo yang kelak menjadi berilmu dan berwawasan itu ternyata dibangun oleh satu tradisi yang akrab pada sosoknya yaitu giat membaca. Kakek Ngempo dikenal sangat mampu membaca teks berbahasa Indonesia. Kemampuan ini tentu sangat membantunya dalam bertutur dan berkomunikasi. Baik saat menggunakan bahasa Indonesia maupun saat menjalani kegiatan atau kehidupan sehari-hari.
Itu jugalah yang membuatnya kelak begitu lancar menggunakan bahasa Indonesia bila mengikuti berbagai acara budaya dan adat istiadat khas Manggarai yang secara umum seirama dengan tradisi Islam. Modal membaca telah membuat sosoknya sebagai pembelajar yang tak mau kalah oleh sekat-sekat pendidikan formal yang dalam banyak hal tidak selalu menjadi garansi seseorang itu berilmu atau tidak; berwawasan luas atau tidak.
“Namun, beliau juga bisa membaca huruf latin dengan lancar,” lanjutnya.
Kelima, sosok yang pandai membaca al-Qur’an. Bukan itu saja, Kakek Ngempo juga merupakan sosok yang pandai membaca al-Quran. Bahkan bukan sekadar pandai, beliau juga tergolong lancar membaca al-Qur’an. Kepandaiannya dalam membaca al-Qur’an ternyata juga menjadi hal yang melekat pada sang kakak yaitu Kakek Abdul Karim. Bahkan kelak sang kakak menjadi guru bagi banyak orang, termasuk menjadi guru ngaji al-Qur’an bagi menantu mereka atau bapak saya, yaitu Bapak Abdul Tahami.
“Beliau juga lancar membaca al-Qur’an,” ujar Bapak Abdul Mispaki yang akrab saya sapa Om.
Keenam, sosok yang tegas. Kakek Ngempo adalah anak ke-3 dari 4 bersaudara. Salah satu dari empat bersaudara ini merupakan sosok yang tegas dalam banyak hal. Sosoknya kadang-kadang tidak kompromi dengan siapapun. Sehingga membuat sosoknya menjadi sosok yang berwibawa dan disegani oleh siapapun. Ketegasan ini kemudian diwariskan pada anak dan keturunannya yang kini berada di berbagai kampung dan daerah atau kota.
“Beliau sangat tegas, kadang-kadang tidak bisa kompromi,” lanjut Bapak Abdul Mispaki, salah satu keponakannya yang kini aktif dan mengajar di lembaga pendidikan atau amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah.
Ketujuh, sosok yang menghormati keluarga. Kakek Ngempo adalah sosok yang sangat menghormati keluarganya, terutama kakak dan adiknya. Bapak Abdul Mispaki mengenang bahwa sang paman adalah sosok yang sangat menghormati kedua kakaknya yaitu Kakek Tudung dan Kakek Abdul Karim, begitu juga pada adik perempuannya yaitu Nenek Sebina. Namun ketegasannya tak membuatnya kehilangan rasa hormat pada tiga saudara kandungnya, juga para saudara sepupunya di Naga, Mata Wae.
“Namun, dengan kedua kakaknya yaitu Bapak Tudung dan Bapak Abdul Karim, beliau sangat hormat, termasuk pada adik perempuannya Ibu Sebina. Walau tegas, beliau tetap bersahaja,” jelas Bapak Abdul Mispaki pada Selasa malam, 21 April 2026 malam.
Kakek Ngempo kini sudah meninggal dunia. Beliau meninggal dalam usia sangat muda. Istri dan anak dari istri pertamanya juga sudah meninggal dunia. Sementara anak dari istri keduanya, semuanya masih hidup. Para keponakan, cucu juga cicitnya telah tersebar di berbagai kampung, juga daerah dan kota di seluruh Indonesia. Ada yang di Manggarai Barat, NTT, ada juga yang di NTB, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Yogjakarta dan sebagainya. Insyaa Allah Kakek Ngempo dalam ampunan dan keberkahan dari Allah, serta kelak mendapat jatah surga terbaik. Allahumma aamiin! (*)






