CIREBON, GM – Dugaan malpraktik dalam penanganan pasien mata di RSD Gunungjati Kota Cirebon mulai mencuat. Sejumlah pasien mengaku mengalami gangguan serius setelah menjalani tindakan suntik mata yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis mata. Bahkan, satu pasien dilaporkan harus kehilangan bola matanya setelah menjalani serangkaian tindakan medis.
Salah satu pasien yang mengaku terdampak adalah Dedi Suyono, warga Blok Karang Duwur, Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Ia menceritakan, awalnya dirinya mendapatkan rujukan dari RS Mitra Plumbon untuk berobat ke RSD Gunung Jati.
Menurut Dedi, pada 24 Agustus 2026 dirinya menjalani tindakan suntik pada mata di RSD Gunung Jati. Namun beberapa jam setelah tindakan tersebut, ia mulai merasakan nyeri hebat.
“Waktu disuntik sebenarnya tidak ada apa-apa. Tapi sekitar jam 11 malam mulai terasa sakit. Sampai pagi, siang, bahkan malam hari rasa sakitnya terus berlanjut,” ujarnya saat ditemui di rumahnya. Minggu (20/9/2026).
Tak hanya mengalami nyeri, kondisi penglihatannya juga semakin memburuk. Pandangan matanya menjadi gelap dan disertai pembengkakan.
“Awalnya masih samar-samar, lama-lama gelap sama sekali. Mata juga bengkak,” katanya.
Karena kondisinya memburuk, Dedi kemudian mendatangi Klinik Sahabat Sehat dan mendapat rujukan ke RS Permata Cirebon. Di rumah sakit tersebut, ia kembali ditangani oleh dokter spesialis mata yang sama. Selanjutnya, pada 28 Agustus 2026 ia menjalani tindakan operasi.
Meski telah menjalani operasi, kondisi penglihatannya hingga kini belum pulih sepenuhnya. Dedi mengaku hanya dapat melihat bayangan dan cahaya dari mata yang sebelumnya mengalami infeksi.
“Sampai sekarang cuma bisa melihat bayangan dan cahaya saja. Saya berharap bisa sembuh dan ada kejelasan dari pihak rumah sakit terkait kejadian ini,” tuturnya.
Selain mengalami gangguan kesehatan, Dedi mengaku dirugikan secara ekonomi karena tidak bisa bekerja seperti biasa. Ia juga menyebut masih harus mengeluarkan biaya pribadi untuk membeli obat-obatan yang tidak seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan.
“Kerja jadi tidak bisa maksimal. Bolak-balik berobat juga harus keluar biaya. Ada obat yang tetap harus bayar sendiri,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan kasus serupa tidak hanya dialami Dedi. Sedikitnya terdapat delapan pasien yang disebut mengalami komplikasi serius setelah menjalani tindakan suntik mata di RSD Gunung Jati.
Mereka berasal dari berbagai daerah, di antaranya dua warga Mandirancan, Kabupaten Kuningan, satu warga Kampung Grenjeng, Kelurahan Kalitanjung, Kota Cirebon, satu warga Kota Cirebon lainnya, satu warga Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, serta beberapa pasien dari wilayah Kuningan dan Cirebon.
Kasus paling berat dialami seorang warga Kampung Grenjeng, Kelurahan Kalitanjung. Berdasarkan keterangan keluarga, pasien tersebut awalnya hanya mengalami cedera akibat terkena pecahan keramik pada salah satu mata. Namun setelah menjalani tindakan suntik, kondisinya memburuk hingga harus menjalani operasi pengangkatan bola mata.
Informasi yang beredar menyebutkan seluruh pasien tersebut sempat menjalani tindakan suntik mata di RSD Gunung Jati sebelum akhirnya dirujuk ke RS Permata untuk menjalani operasi. Penanganan medis disebut masih dilakukan oleh dokter spesialis mata yang sama.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSD Gunung Jati maupun dokter yang bersangkutan terkait dugaan tersebut. (Omen)






