Opini

Literasi yang Terabaikan, Intelektualitas yang Dipertanyakan

11
×

Literasi yang Terabaikan, Intelektualitas yang Dipertanyakan

Share this article
IMG 20260607 WA0039
Ulil Albab Sekretaris Umum PC IMM Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Foto : Istimewa/GM

Oleh: Ulil Albab

Sekretaris Umum PC IMM KabupatenCirebon, Jawa Barat

 

“Education is the most powerful which you can use to change the world.” – Nelson Mandela.
Kutipan tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan merupakan instrumen yang sangat ampuh untuk mengubah dunia. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk berfikir kritis, memahami realitas sosial, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang sering dianggap paling dekat dengan cita-cita tersebut. Selama ini mahasiswa dikenal sebagai actor of social change, yaitu aktor perubahan yang diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menjawab berbagai tantangan dan permasalahan sosial.

Namun, muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan bersama: sejauh mana mahasiswa saat ini layak untuk menyandang predikat tersebut? Di tengah era yang semakin dipenuhi oleh budaya individualisme, sebagian mahasiswa perlahan mulai kehilangan sensitivitas terhadap persoalan di sekitarnya. Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi memang memberikan berbagai kemudahan. Namun, di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru.

Fenomenanya, tidak sedikit mahasiswa yang lebih tertarik mengikuti tren yang sedang viral di media sosial daripada memperdalam wawasan dan pengetahuan mereka. Bahkan, ketika suatu tren bertentangan dengan nilai moral dan etika, sebagian tetap mengikuti tren karena takut dianggap tertinggal atau bahasa gaulnya sekarang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).

Di samping itu, budaya literasi di kalangan mahasiswa juga menjadi perhatian tersendiri. Jarang sekali kita menemukan mahasiswa yang menjadikan tradisi baca sebagai kebutuhan sehari-hari. Memang benar bahwa perkembangan teknologi telah menghadirkan kemudahan akses terhadap berbagai sumber ilmu pengetahuan. Akan tetapi, kemudahan akses tidak selalu berbanding lurus dengan minat untuk membaca dan mendalami informasi tersebut.

Baca Juga :  Hakikat Shaum; Lebih Dari Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

Sehingga buku fisik tidak lagi menjadi satu-satunya sarana belajar karena informasi dapat diperoleh melalui internet hanya dalam hitungan detik. Pertanyaannya, apakah kemudahan tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk belajar? Setiap kita bisa memberi jawaban sesuai pengalaman kita masing-masing.

Sebagai seorang muslim, kita dapat mengambil pelajaran dari wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. melalui Malaikat Jibril yaitu Surah al-Alaq ayat 1-5. Kata pertama yang diperintahkan pada ayat 1 wahyu tersebut adalah Iqra’ yang berarti “bacalah!”. Para ulama tafsir memiliki beragam penjelasan mengenai makna perintah “bacalah!” pada ayat tersebut.

Namun, secara umum ayat tersebut menunjukkan pentingnya membaca sebagai pintu menuju meraih ilmu pengetahuan dan memajukan peradaban. Perintah membaca tidak hanya dimaknai sebagai membaca teks atau buku semata, tetapi juga membaca realitas kehidupan. Bahkan menemukan solusi atas berbagai permasalahan di tengah masyarakat.

Mahasiswa sebagai aktor perbahan dituntut untuk mampu membaca berbagai fenomena sosial, memahami persoalan yang terjadi di tengah masyarakatm serta menganalisisnya secara kritis dan objektif. Dengan demikian, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami tulisan, tetapi juga kemampuan memahami realitas bahkan dinamika sejarah dan zaman.

Ketika budaya membaca dan literasi telah tertanam dalam diri mahasiswa, maka akan terbentuk pola pikir yang matang, karakter yang kuat, serta identitas intelektual yang jelas. Mahasiswa tidak hanya menjadi individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu merumuskan agenda perubahan sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Berkaitan dengan hal tersebut, Rasulullah SAW., “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (al-Hadits). Oleh karena itu, mahasiswa tidak seharusnya menjadi pribadi yang mudah terbawa arus, mengikuti setiap tren tanpa pertimbangan yang matang, atau tergiring oleh berbagai opini yang dangkal.

Baca Juga :  Kiat Menghafal dan Menjaga Hafalan Al-Qur’an

Sebaiknya, mahasiswa harus menjadi insan yang kritis, memiliki kemampuan analisis yang baik, serta mampu membedakan antara informasi yang bernilai dan informasi yang hanya bersifat sesaat. Dengan membangun budaya literasi yang kuat, mahasiswa dapat kembali menjalankan perannya sebagai aktor perubahan yang tidak hanya peka terhadap persoalan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat dan bangsanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *