Opini

AI dan Masa Depan Guru

20
×

AI dan Masa Depan Guru

Share this article
IMG 20260619 WA0066
Dr. Sahrizal Fahlawi, M.Pd.I Ketua Prodi MPI IAI Nurul Hakim Lombok Foto : Istimewa/GM

Oleh: Dr. Sahrizal Fahlawi, M.Pd.i

Ketua Prodi MPI IAI Nurul Hakim Lombok

KEMUNCULAN kecerdasan buatan tau Artificial Intellegence (AI) sedang mengubah wajah pendidikan secara drastis. Hari ini siswa sepenuhnya tidak lagi bergantung pada guru untuk memperoleh informasi. Dengan beberapa ketukan layer ponsel, mereka dapat meminta AI menjelaskan materi Pelajaran, membuat rangkuman, menerjemahkan bahasa, bahkan menyelesaikan tugas sekolah dalam hitungan detik.

Di Tengah perubahan ini, muncul pertanyaan besar, apakah guru masih dibutuhkan di masa depan? Pertanyaan tersebut semakin relevan karena penggunaan teknologi digital di kalangan remaja semakin meningkat.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 85,78% pelajar di Indonesia usia 5-23 tahun menggunakan telepon genggam dan 83,80% telah mengakses internet dalam aktivitas sehari-hari. Pada jenjang SMP hingga SMA/SMK, penggunaan internet bahkan talah melampaui angka di atas 90%. Situasi ini menunjukkan bahwa generasi muda hidup dalam ruang digital yang sangat dekat dengan teknologi AI.

Di Indonesia, penggunaan AI dalam pembelajaran menjadi fenomena nyata. Penelitian di SMPN 8 Palang Karaya menunjukkan bahwa 87,40% siswa telah menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas sekolah terutama pada mata Pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia (Ikhsan, 2025).

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa penggunaan AI memberikan kemudahan akses informasi dan penjelasan materi, tetapi sekaligus menimbulkan permasalahan baru seperti ketergantungan pada teknologi dan menurunnya kemampuan berpikir kritis siswa. Fenomena ini memperlihatkan bahwa yang terancam bukan keberadaan guru, melainkan pola lama Pendidikan yang menempatkan guru sebagai penyampai informasi.

Dalam konteks ini, kritik Paulo Freire (1968) terhadap banking concept of education menjadi semakin relevan. Freire menilai pendidikan tidak boleh hanya menjadi proses menabung informasi ke dalam kepala siswa. Ketika AI mampu menyampaikan informasi secara lebih cepat dibandingkan manusia, maka guru dituntut melampaui fungsi tradisionalnya.

Baca Juga :  Ide Menulis dan Biaya Cetak Buku

Guru di masa depan tidak hanya cukup menguasai pelajaran. Mereka harus menjadi fasilitator pembelajaran, pembimbing moral, sekaligus menjadi pengarah literasi digital siswa. Teori konstruktivisme dari Lev Vygotsky (1978) menegaskan bahwa belajar bukan sekadar menerima informasi, tetapi proses sosial yang membutuhkan interaksi, dialog, dan pendampingan.

Konsep Zone of Proximal Depelopmen (ZPD) menunjukkan bahwa siswa memerlukan bimbingan manusia agar mampu berkembang secara optimal. AI mungkin mampu memberikan jawaban tepat, tetapi tidak mampu menggantikan relasi emosional antara guru dan siswa.

Di sisi lain, kemunculan teknologi ternyata memunculkan kekhawatiran global. Survey terhadap ribuan guru di Inggris pada tahun 2026 menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan menulis, dan komunikasi akibat ketergantungan pada AI (The Guardian, 2026). Sebagian besar guru bahkan menilai siswa mulai kehilangan kemampuan berpikir mandiri karena terlalu bergantung pada jawaban instan teknologi.

Kondisi serupa juga terlihat di Perguruan Tinggi. Sebuah survey terhadap dosen di Amerika Serikat menemukan sekitar 90% tenaga pengajar percaya penggunaan AI mulai melemahkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, sementara 78% melaporkan peningkatan kasus pelanggaran integritas akademik akibat penggunaan AI dalam tugas (Foxnews, 2026).

Fakta ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tanpa pendampingan pendidikan karakter justru dapat menghasilkan generasi yang cerdas secara teknis tetapi
lemah dalam daya refleksi dan tanggung jawab moral.

Pandangan Neil Postman (1970) tentang teknologi menjadi sangat penting dalam membaca situasi saat ini. Postman mengingatkan bahwa setiap teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mengubah cara manusia berpikir dan berinteraksi. Karena itu, AI tidak boleh dipahami sekadar sebagai alat bantu belajar tetapi sebagai kekuatan budaya yang mampu mempengaruhi pola pikir generasi muda.

Baca Juga :  60 Tahun Dr. Adian Husaini; Sepak Terjang dan Karya Monumental

Dalam konteks pendidikan modern, pendekatan humanistik dari Carl Rogers (1960) menjadi semakin relevan. Rogers menekankan pendidikan sejati harus membantu manusia berkembang secara utuh, baik secara intelektual maupun emosional. Di tengah dunia digital yang semakin individualistik, guru justru memiliki posisi penting sebagai figur empatik yang mampu membangun karakter, nilai, dan kesadaran sosial manusia.

Karena itu, tantangan guru saat ini bukan melawan AI tetapi beradaptasi dengannya. UNESCO bahkan menekankan pentingnya pendekatan human-centered AI dalam pendidikan, yakni penggunaan AI yang menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran. UNESCO juga telah mengembangkan kerangka kompetensi AI bagi guru dan siswa agar teknologi digunakan secara etis, inklusif, dan tidak menghilangkan dimensi kemanusiaan pendidikan.

Pendekatan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) yang dikembangkan oleh Punya Mishra dan Matthew J. Koehler (2006) menegaskan bahwa guru masa depan harus mampu mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan materi pembelajaran seimbang. Guru tidak hanya cukup memahami teknologi tetapi mampu mengarahkan penggunaannya agar mendukung kreativitas dan pemikiran kritis siswa.

Sayangnya, kesiapan pendidikan Indonesia menghadapi era AI masih belum merata. Survey nasional terhadap guru di Indonesia tahun 2026 menunjukkan bahwa meski penggunaan AI meningkat untuk membuat media pembelajaran dan perangkat ajar, masih banyak guru menghadapi kendala infrastruktur, keterbatasan literasi digital, dan ketidaksesuaian teknologi dengan konteks lokal pendidikan (Yudi, 2026).

Karena itu penguatan kompetensi digital guru harus menjadi agenda prioritas pendidikan nasioal. Pelatihan AI bagi guru tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis menggunakan aplikasi, tetapi pada penguatan etika, kreativitas, dan pendekatan pembelajaran humanistik. Pendidikan masa depan tidak hanya menghasilkan generasi yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang mampu berpikir kritis, berempati dan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Sekolah Tanpa Filter: Asapmu, Identitasmu!

Pada akhirnya pendidikan masa depan bukan tentang pertarungan antara AI dan guru. AI mungkin mampu mempercepat akses pengetahuan, tetapi hanya guru yang mampu menanamkan nilai, membangun karakter, dan menghadirkan makna dalam proses pembelajaran. Secanggih apapun teknologi berkembang dunia tetap membutuhkan guru; bukan sebagai pengajar materi, tetapi pendidik yang mampu memanusiakan manusia di tengah dunia yang semakin digital. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *