Opini

Gempa Memanggil, Timur Menjawab Timur

15
×

Gempa Memanggil, Timur Menjawab Timur

Share this article
IMG 20260817 WA0042 1
Syamsudin Kadir Penulis Buku Biografi dan Relawan NTT Bisa! Foto : Dok Pribadi/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku Biografi dan Relawan NTT Bisa!

GEMPA M7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu 15 Agustus 2026 pagi. Tanah retak, rumah roboh, dan rasa takut kembali jadi bahasa bersama warga di ujung timur Indonesia. NTT pun dirundung duka. Di tengah kabar duka itu, berbagai elemen memilih bergerak. Salah satunya Jawa Timur ia memilih tidak hanya menonton. Pemprov Jawa Timur memastikan dukungan kemanusiaan langsung dikirim untuk masyarakat terdampak.

Langkah pertama datang dari ruang operasi RSUD Dr. Soetomo. Tim kesehatan diberangkatkan Senin 17 Agustus 2026 malam. Isinya bukan sekadar obat dan perban. Ada dokter spesialis ortopedi yang biasa menangani patah tulang akibat reruntuhan, dokter spesialis anestesi, perawat, dan tim teknis yang terbiasa bekerja saat listrik padam dan air terbatas. Tentu dengan kawalan ketat penuh semangat empati.

Bersamaan dengan itu, 8,4 ton bantuan logistik dilepas dari Surabaya. Nilainya Rp985,8 juta untuk tahap awal. Beras, makanan siap saji, tenda, selimut, dan perlengkapan dasar lain. Cukup untuk menahan beberapa hari pertama, saat bantuan besar lain masih dalam perjalanan. Bencana memang mengingatkan jarak. NTT dan Jawa Timur dipisah laut. Tapi gempa membuat jarak itu mengecil, sebab yang tersisa adalah kepedulian pada sesama yang tak terhitung bilang.

Gempa datang tanpa permisi. Ia merobohkan dinding, mematahkan atap, dan menyisakan tenda-tenda pengungsian di beberapa titik di tanah NTT. Tapi di sela reruntuhan itu, muncul kalimat sederhana dari para penyintas: “kami butuh uluran tangan.” Bukan uluran janji manis laiknya musim kampanye politik. Bukan uluran pidato di podium atau mimbar. NTT butuh uluran tangan yang benar-benar mengangkat, menggotong, dan memperbaiki.

Baca Juga :  Media Sosial dan Konten Keislaman Sebagai Alternatif

“Pengungsi adalah saudara kita sendiri, mereka butuh uluran tangan kita semua,” ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Kalimat itu pendek. Tapi ia menampar kita dari kenyamanan. “Gempa telah menghancurkan rumah dan bangunan umum, maka kita punya kekuatan untuk membangun kepedulian,” lanjutnya. Memang begitu cara bencana bekerja. Ia menghancurkan yang rapuh, lalu memaksa kita memilih: menutup mata, atau membuka tangan.

Bagi masyarakat Jawa Timur seperti yang diwakili oleh Gubernur Khofifah, saudara bukan slogan, tapi tindakan. “Jatim saudara NTT. Kita bersaudara. Gempa ini adalah momentum untuk saling melapangkan dan menguatkan,” ujarnya. Ya, persaudaraan di Indonesia sering diuji bukan di atas panggung upacara, tapi di dapur umum, di posko kesehatan, di truk-truk logistik yang menyeberang laut. Bahkan pada bait-bait doa saat kita bersujud di ujung malam dan shalat wajib kita.

Jawa Timur mengirim bukan hanya materi, tapi juga pengakuan tulus bahwa tangis anak di Sikka, Borong dan Labuan Bajo sama nyatanya dengan tangis anak di Surabaya, Jember dan Malang. Bahwa orangtua yang kehilangan atap di Flores punya hak yang sama untuk merasa aman seperti orangtua di Madura. Bantuan yang datang membawa beras, obat dan sebagainya, tapi yang juga penting adalah membawa pesan: “Kalian tidak sendirian. Karena Indonesia dirajut dari empati, bukan hanya dari peta”.

Bencana memang tidak pernah adil. Tapi respons kita bisa menghadirkan keadilan. Bencana sebagai cermin kualitas diri dan kepemimpinan kita. Di tengah hiruk pikuk ujian membangun kepedulian dan empati itu baik, dan dari waktu ke waktu mestinya jauh lebih baik. Bencana adalah momentum meningkatkan kualitas pemenuhan kebutuhan. Anak yang menangis butuh makanan, orangtua butuh teman dan fasilitas butuh perbaikan.

Baca Juga :  Urgensi dan Kiat Menghafal Al-Qur’an

Di sinilah letak aksi moralnya. Bantuan darurat penting. Tapi ia tidak boleh berhenti di mie instan dan air mineral. Anak yang menangis butuh susu, popok, dan ruang aman untuk kembali bermain. Orangtua butuh bukan hanya uang tunai, tapi juga teman bicara, konselor, dan kepastian bahwa sekolah anaknya akan berdiri lagi. Fasilitas butuh perbaikan yang tidak sekadar menambal, tapi merancang ulang agar tahan gempa di momentum berikutnya.

Di tengah kondisi duka, kita diminta untuk memberi yang konkret. Donasi lewat kanal resmi pemerintah dan BNPB. Pastikan bantuan sampai dalam bentuk yang dibutuhkan, bukan yang kita mau berikan. Lalu dengar dari hal-hal yang kecil. Relawan, pegiat, dan tenaga kesehatan di lapangan tahu apa yang tidak muncul di data. Maka dengarlah korban dari jarak dekat. Lalu, kelak setelah gempa reda, tugas besar menanti: rekonstruksi kembali NTT. Kita kawal anggaran, proyek dan mutunya.

Gempa NTT mengingatkan kita satu hal: negara ini berdiri karena masih ada orang yang mau repot untuk orang lain yang tak selalu sedarah, tapi serasa dan sepenanggungan. Hadirnya Jawa Timur untuk NTT adalah penegas bahwa “Jawa Timur saudara NTT” bukan sekadar spanduk konvoi bantuan. Ia adalah komitmen bahwa ketika satu rumah roboh di ujung timur, ada tangan-tangan di timur lain yang bersedia kotor karena semen, kayu dan debu untuk membangun.

Dukungan Jawa Timur ini memang belum, bahkan tidak mungkin menyembuhkan luka NTT untuk seluruhnya. Tapi setidaknya hadirnya Jawa Timur seakan-akan berkata pada kita: di saat bumi berguncang, masih ada tangan lain yang siap menahan. Itulah suara nurani, itulah tanda kita masih sebangsa. Dan bangsa yang masih mau saling menguatkan, akan selalu punya cara untuk berdiri kembali. Kini, NTT yang yang terjatuh, ada Jawa Timur yang hadir hingga membuat NTT optimis untuk kukuh. Terima kasih Jawa Timur, terima kasih Gubernur Khofifah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *