Opini

Serpihan Cinta KDM untuk NTT

7
×

Serpihan Cinta KDM untuk NTT

Share this article
IMG 20260822 WA0032
Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Keruntuhan Ke Harapan”

JUMAT siang, 21 Agustus 2026. Labuan Bajo, Manggarai Barat tidak hanya disapa ombak. Ada kabar yang turun bersama angin, bahwa dari barat ada orang yang datang bukan untuk pidato dan orasi. Ia datang untuk menatap. Ia adalah Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi, akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM. Ia melangkah pelan, membawa mata yang mau melihat luka tanpa menutupnya dengan kata-kata besar.

Dari laut ke darat, perjalanan belum selesai. Empat lima jam lagi menuju Ruteng di Manggarai dan Borong di Manggarai Timur. Jalan berliku seakan bertanya, “Sejauh mana KDM peduli dan mencintai dengan sungguh”?. Karena kepedulian tidak boleh berhenti di bandara. Ia harus sampai ke dapur umum yang berasap, ke tenda pengungsi yang masih kedinginan, ke rumah yang retaknya belum sempat disapa palu dan semen tukang.

KDM membawa koper tanpa pengawalan. Di dalam koper itu bukan hanya baju. Ada hitungan yang jujur: sekitar Rp4 miliar. Rp600 juta dari kantong pribadi KDM. Rp400 juta dari ASN Pemprov Jawa Barat. Rp1 miliar dari Baznas Jawa Barat, yang dititipkan. Rp1 miliar dari BJB Peduli. Sisanya dikumpulkan dari pengusaha, dari rapat, dari orang biasa yang memotong sedikit rezekinya untuk nama yang bahkan belum pernah mereka ucapkan.

“Alhamdulillah, dari para pengusaha, para peserta rapat yang hadir, sudah terkumpul alokasi sebesar Rp4 miliar untuk segera dibawa ke NTT. Jangan sampai tim relawan ke sana, logistiknya kosong, enggak ada makanan,” ujar KDM.

Lalu ada kalimat yang diucapkan pelan dari lisannya. “Kita hidup harus saling membantu. Prinsip orang yang sedang kesusahan, ditengok saja sudah menjadi kebahagiaan, apalagi jika dibawakan bantuan,” ucap KDM sembari menangis tanda sedih. Kalimat itu tidak butuh mikrofon. Ia cukup jatuh di antara puing dan duduk bersama ibu-ibu, juga warga yang lagi berduka.

Baca Juga :  Ide Menulis dan Biaya Cetak Buku

Bantuan ini menolak seremoni. Ia ingin jadi beras yang dimasak, obat yang diminum, selimut yang menutup dingin, air yang membersihkan debu gempa. Dan ia tahu dirinya akan sia-sia tanpa tangan. Maka tim diberangkatkan juga. Mereka ahli atau kompeten di bidangnya. Karena logistik tanpa relawan seperti perahu tanpa dayung, akan hanyut di tengah jalan.

Bandung ke Ruteng dan Borong itu jauh di peta. Tapi musibah punya cara unik mempersingkat jarak. Gempa Flores tidak bertanya KTP. Tak tanya suku, ras dan keyakinan. Ia meruntuhkan status sosial, lalu menyadarkan kita untuk menjawab sebagai saudara. Beda bahasa, beda tanah, tapi rasa sakitnya sama. Dan di titik itu solidaritas berhenti jadi pilihan. Ia jadi warisan yang diam-diam kita bawa sejak dulu.

Di tengah warga Manggarai Raya, bahkan NTT, KDM menemukan sesuatu yang ia sebut mutiara. Bukan emas. Kejujuran. Ketulusan. Ada orang yang perutnya sendiri kosong, tapi masih menyisihkan untuk tetangga. Di tengah reruntuhan, sifat itu bersinar paling terang. Mungkin itu modal paling besar untuk bangkit. Hati yang tidak saling curiga. Tapi tetap saling menguatkan.

Harapannya sederhana. Semoga Rp4 miliar yang dibawa cukup untuk menutup lapar hari ini, juga hari selanjutnya. Menghangatkan malam ini. Membuka jalan untuk esok. Semoga sampai ke tangan yang tepat, tidak berhenti di meja, tidak tersesat di perjalanan. Semoga NTT pulih. Rumah berdiri lagi. Anak-anak kembali ke sekolah. Dan tawa anak-anak kembali lebih keras dari suara gempa.

Dari gempa NTT kita mesti banyak merenung. Kita sering lupa apa yang benar-benar mengikat bangsa ini. Bukan hanya Undang-Undang di atas kertas. Bukan pidato “NKRI Harga Mati”, dan bukan orasi “Kita Indonesia”. Tapi kebiasaan tengok-menengok. Ketika satu daerah terluka, daerah lain berjalan. Ketika satu provinsi berduka, provinsi lain membawa beban bersama. Di situlah narasi, pidato dan orasi, bahkan Indonesia tidak lagi jadi jargon.

Baca Juga :  Dari Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina

Dan di situlah Indonesia menjadi nyata. Bukan di spanduk. Tapi di truk yang menempuh empat lima jam. Di tangan yang menyerahkan bantuan dari mereka yang tulus berbagi. Di doa yang dititipkan pelan: “Mohon doakan dari Provinsi Jawa Barat.” Karena di atas luka Flores, ternyata masih ada tangan yang datang dari barat, untuk mengingatkan kita bahwa kita mesti saling menjaga, kapan dan di mana pun. Terima kasih masyarakat Jawa Barat, terima kasih KDM. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *