Opini

Bisikan Cinta Dari Maluku Utara

5
×

Bisikan Cinta Dari Maluku Utara

Share this article
IMG 20260823 WA0031
Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

SABTU, 15 Agustus 2026. Tanah NTT mengaduh. M 7,7. Satu getaran dan waktu yang mengerikan. Rumah yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik. Ada ibu yang sendoknya belum sempat sampai ke mulut anak. Ada anak yang tasnya masih menunggu di pintu. Ada doa yang menggantung di bibir, belum selesai.

Lalu angka-angka datang: rumah rusak, 1.313 orang mengungsi, status tanggap darurat ditetapkan. Malam di NTT sejak itu bukan lagi tentang tidur. Ia tentang bertahan. Dari dingin yang masuk lewat celah tenda. Dari takut yang duduk di dada. Dari gemuruh yang bisa kembali kapan saja, tanpa mengetuk.

Kita sudah sering mendengar cerita ini dari NTT. Gempa datang ribuan kali. Tapi setiap kali datang, ia tetap meninggalkan luka yang sama: sakit, kehilangan, dan tatapan kosong pada reruntuhan yang dulu bernama rumah.

Kalimat itu tidak perlu tanda seru. Cukup dibaca pelan, dan dada kita ikut sesak. Duka di NTT tidak tinggal di berita. Ia tinggal di tenda pengungsian yang jadi rumah sementara. Ia tinggal di kelas trauma healing, dimana anak-anak belajar lagi untuk tidak takut masuk ke dalam dinding.

Kita yang jauh, di Jakarta, Bandung, Padang, Palembang, Yogjakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Mataram, Ternate dan di ujung pulau lain, mungkin hanya bisa scroll berita 10 detik lalu lanjut hidup. Tapi bagi mereka, 10 detik itu mengubah segalanya.

Pembelajaran dari Gempa

Gempa mengajari kita hal yang sama, berulang-ulang. Pertama, bahwa kita rapuh. Sebeton apa pun rumah, setinggi apa pun cita-cita, bumi cukup menggeser dirinya sedikit untuk mengingatkan siapa kita.

Baca Juga :  Ramadan Sebagai Momentum Hijrah Diri

Kedua, bahwa kita bersaudara. Saat duka datang, bantuan mengalir. Nasi bungkus, selimut, tenda, tim medis. Tangan-tangan yang tidak saling kenal, mau saling menggenggam.
Ketiga, bahwa kita harus mengingat. Luka paling dalam bukan saat bencana datang. Tapi saat dunia sudah beranjak, sementara luka itu masih menganga.

Hari ini NTT sedang belajar berjalan lagi di atas tanah yang masih trauma. Kita mungkin tidak bisa memindahkan gunung untuk membangunkan tanah baru. Tapi kita bisa satu hal: tidak melupakan.

Bisik dari Timur

Ada bisik yang berulang di angin timur. Ia datang dari tanah rempah, Maluku Utara. “Maluku adalah saudara NTT. Gempa NTT adalah gempa Maluku Utara. Duka ini duka bersama.”

Kalimat itu tidak lahir di ruang rapat. Ia jatuh dari langit, menetes dari mata, mengendap di dada orang-orang yang tahu rasanya kehilangan atap, dinginnya malam di tenda, dan kosongnya kursi di meja makan.

Di peta, Ternate dan Kupang dipisah biru yang luas. Perlu sayap, perlu waktu. Tapi begitu NTT mengaduh, laut itu tiba-tiba menyempit. Menjadi jembatan.

Karena kita sudah hafal pelajarannya: bencana tidak pernah bertanya suku. Gempa tidak memilih nusa. Banjir tidak memilih doa. Yang memilih hanya hati. Menutup, atau membuka. Dan Maluku Utara memilih membuka.

Pelukan yang Menyeberang Laut

Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, atas nama masyarakatnya, menitipkan sumbangan untuk keluarga besar NTT. Selasa, 18 Agustus 2026, Gubernur Sherly berkata lirih: “Ketika saudara kita sedang berduka, hati kita ikut bersama mereka. Rp 1 miliar ini adalah bentuk kecil dari kepedulian besar masyarakat Maluku Utara untuk NTT. Anda tidak sendiri.”

“Ketika saudara kita sedang berduka, hati kita ikut bersama mereka. Rp1 miliar ini adalah bentuk kecil dari kepedulian besar masyarakat Maluku Utara untuk NTT. Anda tidak sendiri,” ujar Gubernur Sherly, pada Selasa 18 Agustus 2026.

Baca Juga :  Menjadi Bangsa Kaya Adab

Berbagai media telah memberitakan, itu saksi bahwa kepedulian itu nyata adanya.
Ini bukan sekadar angka mengisi rekening. Itu jejak kebijaksanaan dari orang yang paham dinginnya malam tanpa dinding. Itu cara mengatakan: kami tahu apa yang harus dipacu.

Di luar sana orang masih sibuk menggambar garis. Ini utara, itu timur. Ini orang gereja, itu orang masjid. Tapi bencana menghapus semua garis dengan satu getaran. Rumah yang ambruk di Flores, debunya sampai ke tungku di Ternate. Tangis seorang ibu di Nagekeo menjadi hujan di pipi saudara di Halmahera. Doa dari mushola di Labuan Bajo disambut gema lonceng di Jailolo. Tidak sama bentuknya, tapi satu rasanya saat yang lain terluka.

Rp1 miliar mungkin kecil di mata yang lain. Bagi masyarakat NTT, itu sangat besar. Uang bisa dipakai unuk membeli beras, selimut, obat, dan air bersih. Namun yang sampai bukan itu saja, tapi juga pelukan dari jauh. “Kakak ada di sini. Adik tidak sendiri.” Itu bahasa lain dari “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”

Nanti sejarah akan mencatat: berapa getar, berapa yang pergi, berapa yang luka, dan berapa yang rusak. Tapi anak cucu kita akan bertanya lain: “Siapa yang datang pertama, saat debu belum juga turun?” Hari ini jawabannya ada satu nama: Maluku Utara. Bukan karena satu-satunya yang memberi. Tapi karena paling cepat hatinya berlari menyeberang laut untuk menyebut, “Ini saudaraku, ada aku untukmu!”

Untuk NTT-ku

Untuk saudara di Flores, dan seluruh NTT: Aku asli NTT, tepatnya Cereng, Sano Nggoang, Manggarai Barat. Merantau ke Lombok tahun 1996 sampai 2002. Lalu ke Jawa Barat sejak 2002 hingga saat ini.

Baca Juga :  Pemilih Pemula dan Edukasi Demokrasi

Aku memilih tetap bersamamu, walau dalam duka. Aku berharap selalu bersamamu. Semoga luka ini sembuh, pelan-pelan. Semoga NTT segera tenang, dan tawa anak-anak kembali lebih keras dari gemuruh.

Aku rindu udara bersihmu. Rindu canda khas kita. Walau berbeda dalam banyak hal, kita tetap bersama. Bukan hanya berpelukan tangan, tapi menyatukan hati dalam damai.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kuat ya, NTT-ku. Selama kita masih mau menyebut sesama “saudara”, negeri kepulauan ini tidak akan pernah benar-benar retak. Bukan saja saat ini. Tapi juga nanti, selamanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *