Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
Bumi Flores diguncang pada 15 Agustus 2026. Kekuatan 7,7 SR merobohkan tembok, membelah jalan, dan menggeser cara orang menatap langit. Di balik angka dan peta kerusakan, ada dapur yang padam, kelas yang kosong, dan malam-malam yang dijalani di bawah terpal. Di sanalah kemanusiaan diuji, bukan pada seberapa keras tanah bergetar, tetapi pada seberapa kuat kita peduli pada mereka yang menjadi korban.
Jumat, 21 Agustus 2026, pesawat E35L dengan registrasi T7-187 mendarat di Bandara Frans Seda Maumere pukul 09.40 WITA. Turun dari tangga pesawat bukan sekadar tokoh. Hadir H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), Ketua PMI, bersama delegasi IFRC Kathryn Clarkson, Josef Nae Soi, para ketua PMI se-Flores, dan jajaran Forkopimda Sikka. Kedatangan itu tidak meminta karpet. Ia meminta mata yang melihat langsung.
Empat puluh menit di Gelora Samador terasa panjang dan pendek sekaligus. Sejak 09.55 hingga 10.35 WITA, tenda-tenda pengungsian menjadi ruang tamu darurat. JK berjalan di antara tikar, menyapa anak-anak yang masih belajar membaca wajah orang dewasa untuk mencari rasa aman. Bantuan simbolis diserahkan. Sabun, sikat gigi, handuk, makanan dan sebagainya. Benda-benda kecil yang di tempat lain dianggap remeh, di sini menjadi penanda bahwa hidup masih layak dijaga martabatnya.
Di tengah tumpukan kebutuhan, ada satu nama yang terus disebut pelan: Pulau Palue. Musim kemarau membuat air menjadi doa yang diulang setiap pagi. Geografi kepulauan mempersulit langkah logistik. Di sanalah urgensi paling nyata. Bukan hanya beras dan selimut, tetapi air bersih, HT untuk komunikasi, tandon, terpal, dapur umum, baby kit, dan kendaraan yang bisa menembus jalan rusak. Pemulihan berhenti punya arti jika hal-hal dasar ini tidak sampai.
JK mengingatkan di depan posko BPBD bahwa fase paling berat baru dimulai setelah sirine tanggap darurat padam. Menyelamatkan dengan cepat. Membangun kembali tanpa lambat. Rumah harus didirikan lagi satu demi satu. Sekolah harus dibuka lagi agar anak-anak tidak kehilangan tahun ajarannya. Pasar harus hidup lagi agar orang tidak hanya bertahan, tetapi bekerja. Luka sosial tidak diperban dengan sembako saja.
JK bicara tentang keterbatasan anggaran, lalu bicara tentang sesuatu yang tidak pernah habis: gotong royong. Dalam keterbatasan itulah Indonesia sering menemukan kekuatannya. Mahasiswa teknik didorong turun. Relawan, TNI-Polri, dunia usaha, organisasi masyarakat, semua diminta masuk dalam satu barisan. Bukan untuk menjadi penonton, tetapi menjadi tukang, guru sementara, dan tetangga yang benar-benar hadir.
Di Masjid Al-Muhajirin Perumnas, waktu sejenak berhenti untuk sujud. Shalat Jumat menjadi jeda yang meneduhkan. Setelah itu makan siang singkat di Golden Fish, lalu singgah di UTD PMI Sikka. Kunjungan singkat, tetapi cukup untuk melihat kesiapan di lapangan. Di samping itu, jadi penegas bahwa JK dan PMI sangat peduli pada korban gempa di NTT.
Pukul 14.10 WITA, rombongan kembali ke bandara. Dari Sikka, perjalanan berlanjut ke Labuan Bajo. Pukul 15.20 WITA, mendarat di Bandara Internasional Komodo, disambut Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng, Ketua PMI Manggarai Barat Yosef Suhardi dan pejabat lainnya.
Hal yang dibawa pulang bukan foto, yang dibawa pulang adalah daftar panjang yang belum selesai. Kapal PMI sudah lebih dulu tiba di Labuan Bajo. Bantuan akan disalurkan lewat Bupati Sikka. Semua itu tanda bahwa negara dan lembaga kemanusiaan belum pergi. Mereka menetap dalam bentuk kerja.
Bencana mengajarkan kita tentang kerapuhan. Satu gempa bisa membuat orang kehilangan atap dalam hitungan detik. Tetapi bencana juga mengajari tentang daya tahan. Orang Flores belajar berlari ke dataran tinggi ketika tanah berguncang. Mereka belajar berbagi air ketika sumur mengering. Mereka belajar bahwa solidaritas bukan pidato, melainkan ember, tenda, dan tenaga yang datang tepat waktu.
Renungan dari Maumere sederhana. Jangan berhenti di tahap memberi. Teruskan ke tahap membangun. Jangan berhenti di tahap menghibur. Teruskan ke tahap memulihkan. Anak ingin kembali ke sekolah, bukan hanya ke posko. Ibu ingin kembali memasak di dapur, bukan hanya di dapur umum. Bapak ingin kembali ke kebun dan laut, bukan hanya antre bantuan.
Setelah gempa berhenti, pekerjaan terbesar justru dimulai. Membangun kembali rumah, memperbaiki jalan, menyalakan kembali kelas, mengembalikan rasa aman. Itu pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dalam satu kunjungan, satu kapal, atau satu paket bantuan. Ia butuh waktu, tenaga, dan kesetiaan yang panjang.
Dari Flores, pesannya jernih. Tanah boleh retak, tetapi jangan biarkan kepedulian ikut retak. Pemerintah, PMI, relawan, dan masyarakat harus tetap bergerak bersama. Karena pada akhirnya, yang membuat kita pulih bukan hanya semen, batu bata dan seng, tetapi keyakinan bahwa kita tidak ditinggal sendiri ketika bumi berguncang. Terima kasih Pak JK, terima kasih PMI. (*)






