Opini

Ketika Kota Bima Peduli NTT

5
×

Ketika Kota Bima Peduli NTT

Share this article
IMG 20260829 WA0044
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

KETIKA tanah di Manggarai menggeram, ia tidak bertanya siapa yang tinggal di atasnya. Ia mengguncang rumah, sekolah, dan doa-doa yang baru saja dipanjatkan. Di sanalah luka terbuka, dan di sanalah pula kemanusiaan diuji, bukan dengan pidato, tapi dengan langkah. Retakan di dinding menjadi bahasa baru yang dipahami semua orang. Dan dalam bahasa itu, kita dipaksa memilih: diam atau datang.

Jumat, 28 Agustus 2026, dari Kota Bima berangkat sebuah jawaban. Bukan jawaban yang keras, melainkan jawaban yang lembut dan teguh. Wali Kota Bima H. A. Rahman H. Abidin melepas 45 orang, bukan sebagai angka di atas kertas, melainkan sebagai 45 hati yang bersedia berjalan ke tempat orang lain sedang menangis. Mereka membawa koper, senter, dan juga beban doa orang sekota. Di pelabuhan, orang-orang melambai bukan untuk perpisahan, tapi untuk menitipkan harapan.

Di antara mereka ada 19 tenaga kesehatan. Tangan-tangan yang terbiasa meraba nadi, kini akan meraba kecemasan. Ada 11 anggota BPBD, punggung-punggung yang terbiasa mengangkat reruntuhan, kini akan mengangkat harapan. Ada 15 anggota Indonesia Off-Road Federation, roda-roda yang terbiasa menaklukkan jalan sulit, kini akan menaklukkan jarak demi sampai. Mereka tidak saling mengenal semua, tapi mereka satu seragam kepedulian. Dan seragam itu lebih hangat dari jaket apa pun di malam yang dingin.

Pengiriman ini bukan sekadar bantuan logistik. Ia adalah titipan. Titipan dari masyarakat Bima yang tahu rasanya ketika bumi tiba-tiba tidak bersahabat. Pengalaman menjadi guru paling jujur. Karena pernah jatuh, maka tahu bagaimana mengulurkan tangan agar orang lain tidak terlalu lama tergeletak. Bima pernah merasakan gelap, maka Bima tahu di mana harus menyalakan lampu. Oleh sebab itu bantuan ini datang bukan dari atas, tapi dari hati ke hati.

Baca Juga :  Shalat Tarawih; Shalat Malam Penguat Iman

Dalam pelepasan itu, Wali Kota berpesan sederhana. Jagalah diri. Jaga keselamatan. Bekerja dengan tanggung jawab, berkoordinasi, dan pastikan setiap bungkus bantuan sampai ke tangan yang benar-benar menggigil menunggu. Pesan itu kecil, tapi berat, karena di dalamnya ada nyawa yang dipertaruhkan. Aji Man, sapaan akrabnya, tidak meminta nama mereka disebut, hanya meminta mereka pulang. Karena pemimpin yang baik tahu, keberanian juga butuh dipulangkan.

Lalu berkata dengan kalimat yang menembus batas formalitas. “Ini bukan hanya perintah Kota Bima, ini juga rasa kemanusiaan.” Di situ kita diingatkan bahwa negara bekerja karena aturan, tetapi manusia bergerak karena nurani. Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah keberanian. Kalimat itu tidak butuh pengeras suara. Ia cukup berbisik dan tetap menggema. Karena kebenaran memang tidak perlu diteriakkan untuk didengar.

Kini konvoi itu melaju. Menembus malam, menyeberang laut, menapaki jalan berkelok menuju Manggarai. Tidak ada peta yang bisa mencatat lelahnya. Yang ada hanya keyakinan bahwa di ujung perjalanan ada ibu yang menanti obat, ada anak yang menanti tenda, ada tetua yang menanti kepastian bahwa ia belum dilupakan. Setiap kilometer adalah janji yang sedang dijalankan. Setiap tikungan adalah doa agar tidak ada yang tersesat.

Solidaritas memang unik. Ia tidak mengenal batas administrasi. Bima dan Manggarai dipisahkan pulau, tetapi disatukan oleh luka yang sama. Di titik inilah kita belajar bahwa saudara bukan hanya yang satu marga. Saudara adalah siapa saja yang kita pilih untuk tidak kita biarkan sendirian. Ketika laut memisahkan, hati justru menjahit kembali. Dan jahitan itu bernama kepedulian dan gotong royong.

Pemerintah Kota Bima menitipkan doa agar seluruh personel berangkat dengan selamat dan pulang dengan selamat. Tugas boleh berat, medan boleh berat, tetapi pulang dengan utuh adalah janji yang paling manusiawi. Karena relawan juga punya rumah yang merindukan. Di rumah itu ada meja makan yang disisakan satu kursi. Dan kursi itu menunggu cerita tentang bagaimana mereka menolong.

Baca Juga :  Literasi yang Terabaikan, Intelektualitas yang Dipertanyakan

Dari NTT kami berterima kasih. Terima kasih kepada Pemkot Bima, kepada masyarakat Bima yang patungan, yang mendoakan, yang menitipkan beras dan obat. Kepedulian kalian bukan bantuan biasa. Ia adalah saksi bahwa di negeri ini, ketika satu daerah jatuh, daerah lain ikut merasakan sakitnya. Terima kasih juga untuk tangan-tangan yang tidak terlihat di foto. Karena solidaritas sejati sering bekerja dalam senyap.

Maka biarlah gempa menjadi pengingat, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan. Bahwa kita hidup berdampingan dalam satu nafas Nusantara. Ketika Bima mengulurkan tangan ke Manggarai, sesungguhnya ia sedang menulis ulang makna persaudaraan. Tanpa sekat. Tanpa syarat. Hanya karena kita manusia, dan itu sudah cukup. Semoga tulisan itu tidak terhapus oleh waktu. Semoga kita terus membacanya bila kelak bumi kembali menguji kita. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *