Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Hingga Harapan”
DI Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa, 25 Agustus 2026 pagi, tidak dimulai dengan riuh dagang biasa. Ada hening yang berbeda. Di dermaga Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), beberapa kapal perang berdiri tegak seperti penjaga. Bukan untuk perang. Kali ini mereka membawa damai. Bendera Merah Putih berkibar pelan, seakan ikut menahan haru. Laut pagi itu tampak teduh, seperti mengerti misi yang akan diemban.
Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI melepas amanah. Kotak-kotak logistik, selimut, obat, dan air bersih ditata rapi di lambung KRI milik TNI Angkatan Laut. Tujuannya jauh: Nusa Tenggara Timur (NTT), tanah yang baru saja dipukul bencana, dan kini menunggu uluran tangan dari seberang pulau. Setiap kardus adalah titipan cinta dari mereka yang tidak bisa ikut berlayar. Di balik label nama, ada doa-doa kecil yang dilipat rapi.
Laut selama ini kita sebut pemisah. Ia membelah peta, membuat jarak terasa panjang. Tapi hari itu laut dipilih menjadi jembatan. Karena hanya lewat jalur air, bantuan bisa menembus desa-desa yang daratannya retak, jalannya putus, dan waktunya mendesak. Hari itu, ombak belajar menjadi kurir kemanusiaan. Dan cakrawala menjadi saksi bahwa jarak bisa dikalahkan oleh kepedulian.
Ketua IsDF MUI, Trisna Ningsih Yuliati, berdiri di depan barisan. Suaranya tenang, tapi tegas. Ia mengucap terima kasih kepada TNI AL dan Koarmada yang membuka armadanya. Bukan sekadar meminjamkan kapal, melainkan meminjamkan kecepatan, keamanan, dan keyakinan bahwa bantuan akan sampai. Dalam suaranya, ada keyakinan bahwa negara tidak meninggalkan rakyatnya. Dan dalam matanya, ada rindu untuk saudara-saudara di timur.
Hal yang paling mengena bukan daftar barang yang dikirim. Trisna mengingatkan kita lagi: di tengah darurat, orang tidak hanya lapar pada nasi. Mereka lapar pada kehadiran. Lapar pada rasa bahwa mereka tidak dilupakan oleh saudara sebangsanya. Karena luka paling dalam sering kali bukan di badan, tapi di rasa. Dan obatnya adalah: “Kami di sini, bersama kalian.”
Di sela prosesi itu, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Mabroer, menyampaikan kabar lain yang tak kalah penting. Bantuan darurat hanyalah langkah pertama. Setelahnya ada pekerjaan rumah yang lebih panjang: pemulihan. Pemulihan adalah maraton, bukan sprint. Ia butuh napas panjang, bukan sekadar semangat sesaat. “In sya Allah kerja sama dengan lembaga-lembaga amil zakat ini akan kita lanjutkan juga nanti pada tahap recovery,” ujarnya.
Untuk itu MUI sudah memberangkatkan dua orang tim asesmen ke lapangan selama lima hari. Mereka tidak datang membawa jawaban, tapi membawa telinga dan catatan. Mereka datang untuk mendengar, bukan untuk menggurui. Karena solusi terbaik lahir dari cerita yang didengar dengan hati.
Tim itu tidak hanya melihat kondisi umum. Mereka berjalan, bertanya, duduk di teras rumah yang atapnya hilang. Mereka melakukan survei dan pemetaan. Mencatat mana masjid, musola, madrasah dan sekolah yang perlu diperbaiki, serta mana warga yang paling jauh dari bantuan. Di setiap catatan kecil, ada nama besar: kemanusiaan. Dan di setiap langkah mereka, ada debu yang menjadi saksi.
Hasil asesmen itulah yang nantinya menjadi peta jalan. Dari sanalah MUI bersama lembaga amil zakat akan menentukan program apa yang paling tepat. Bukan program yang indah di atas kertas, tapi program yang benar-benar dibutuhkan di tanah, sesuai suara masyarakat di lapangan. Karena bantuan terbaik adalah yang lahir dari kebutuhan, bukan asumsi. Dan keberkahan datang saat kita mau menunduk mendengar.
Bencana memang kejam. Ia merobohkan rumah dan memutus harapan. Tapi bencana juga jujur. Ia menyingkap siapa kita sebenarnya. Apakah kita menutup pintu, atau justru membuka gudang, dompet, dan hati untuk sesama. Dan hari itu, kita memilih membuka. Kita memilih menjadi saudara, bukan penonton.
“Kita berharap para korban bisa bangkit kembali untuk menata ulang kehidupan mereka, termasuk khususnya anak-anak bisa sekolah kembali seperti sedia kala. MUI akan terus ikut membersamai para korban dengan cara kami sendiri, tentu saja menjalin kerja sama dengan pihak-pihak lain yang punya atensi dan menaruh perhatian kepada MUI,” harapnya.
Karena itu pelepasan ini bukan urusan satu lembaga. IsDF MUI menggandeng LAZ, relawan, dan komunitas yang diam-diam sudah berbulan-bulan mengumpulkan donasi. Ada nama-nama yang tidak muncul di berita, tapi keringatnya ada di setiap kardus yang dinaikkan ke kapal. Pahlawan sering tak berseragam, tapi ada di balik layar. Mereka bekerja dalam diam, agar orang lain bisa tersenyum.
Koarmada menyediakan KRI. Relawan mengepak. MUI menyalurkan dan menilai. Negara menyediakan jalur. Masyarakat menyediakan kepercayaan. Ketika semua kekuatan itu bersentuhan, jarak antara Jakarta dan NTT menjadi lebih pendek dari yang kita kira. Solidaritas adalah jembatan terpendek antar pulau. Dan kolaborasi adalah bahasa yang dimengerti semua hati. Semoga kapal itu tiba membawa lega. Semoga tim asesmen pulang membawa cerita yang jujur.
Dan, kita belajar bahwa kepedulian sejati bukan hanya memberi saat genting, tapi juga turun tangan untuk membangun kembali, sampai masjid, musola, madrasah dan sekolah serta rumah yang rusak benar-benar bisa hadir kembali. Sampai NTT tertawa lagi, dan kita ikut berbahagia. Karena di akhir cerita, kemanusiaanlah yang harus menang, daripada getaran gempa. (*)






