Opini

Bayan Al Gifari: Jejak dan Perjuangan

8
×

Bayan Al Gifari: Jejak dan Perjuangan

Share this article
IMG 20260904 WA0047
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Problem Solver: Beginilah KDM Memimpin”

BAYAN Al Gifari S.M dilahirkan di Cereng, Golo Sengang, Sano Nggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 3 Oktober 2004, di antara desir sawah dan bisik doa. Ia putra dari Bapak Abdul Baco dan Ibu Siti Nurfa, sepasang petani yang menanam harapan di tanah dan di hati anak-anaknya.

Bayan adalah anak ketiga dari empat bersaudara: Sofyan Atsauri, Oci Rahmah Sari, dirinya, dan Ainun Hanawia. Sejak kecil ia dibesarkan dalam kesederhanaan yang mewah oleh kerja keras, kejujuran, dan sujud yang tak pernah putus.

Langkah pertama Bayan bertapak di SDK, 2010-2016, tempat huruf pertama kali menari di papan tulis. Ia kemudian menapaki SMP Muhammadiyah Cereng 2016-2019, dan berlabuh di Madrasah Aliyah Ar-Rahman Merombok 2019-2022. Tahun 2022, ia merentangkan sayap ke Jakarta. Di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, Ciputat, Tangerang Selatan, Bayan menempuh ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Empat tahun di tanah rantau 2022-2026 menjadi saksi bagaimana ia belajar mengejar ilmu, bukan menunggu dijemput.

Kampus bagi Bayan bukan hanya ruang kuliah, melainkan padang latihan jiwa. Sejak 2022 ia menapakkan kaki sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan anggota IMMADA. 2023, ia disapa amanah di Sekolah Gerakan IMM. 2024, ia dipercaya memimpin sebagai Ketua Bidang Organisasi IMM dan merangkai catatan sebagai Sekretaris Bidang Organisasi IMMADA, keduanya untuk periode 2024-2025.

Di tahun yang sama, ia juga mengemban tugas sebagai Sekretaris Menteri Kajian Politik dan Kebijakan Publik BEM. Puncaknya, 2025-2026, ia dimendapat mandat sebagai Ketua Menteri Luar Negeri BEM ITB AD Jakarta. Jabatan baginya bukan mahkota, melainkan tempaan.

Baca Juga :  Pemilih Pemula dan Edukasi Demokrasi

Dari hiruk rapat hingga sunyi evaluasi, Bayan menempa dirinya. Organisasi mengajarkan bahasa yang tak ada di silabus: berunding tanpa melukai, memimpin tanpa menakuti, menari di antara deadline, dan memeluk perbedaan.

Di bangku kuliah ia juga belajar menjadi nahkoda bagi dirinya sendiri. Tanpa absensi yang mengejar, tanpa guru yang menegur, ia menagih dirinya dengan disiplin. Masa depan menjadi satu-satunya pengawas yang paling jujur.

Jakarta membuka mata Bayan lebar-lebar. Bahasa kampung yang dulu hangat, kini diganti aksara baru. Salah paham datang lebih dulu daripada tawa. Namun dari canggung itu lahir pemahaman: bahwa dunia luas dan indah karena berbeda.

Di tanah orang, ia menggenggam tiga kompas: menjaga shalat, memegang jujur, dan menebar baik. Tiga pilar itu menjadi jangkar agar kebebasan tidak menyeretnya hanyut.

Ada malam ketika tanggung jawab runtuh di tangannya. Lelah, sepi, dan kecewa menetes bersama air mata. Namun dari pecahan itu Bayan memungut pelajaran. Ia berhenti meratap, mulai membenahi. Kegagalan ia ubah menjadi guru, dan luka ia sulap menjadi pijakan untuk berdiri lebih tegak.

Jika ditanya siapa lentera hidupnya, Bayan akan menjawab: orang tuanya. Bukan karena sempurna, tetapi karena tak pernah lelah. Di balik punggung yang membungkuk di ladang dan doa yang naik di sepertiga malam, Bayan menemukan alasan untuk tidak menyerah. Pengorbanan mereka adalah bahan bakar yang tak pernah padam.

Kenangan yang paling ia peluk adalah saat dipercaya menahkodai proyek besar organisasi sembari menjaga napas akademik. Dari nol, dari debat, dari begadang, hingga acara itu hidup dan bertepuk. Di sanalah ia merasakan manisnya senasib sepikul, dan belajar bahwa kepemimpinan sejati tumbuh dari kebersamaan.

Baca Juga :  Terima Kasih The Dudas Minus One

Di sela buku dan rapat, ada lapangan hijau yang memanggil. Sepak bola dan futsal adalah rumah kedua Bayan. Di sana ia belajar strategi, percaya pada umpan, dan menerima hasil dengan dada lapang. Olahraga mengingatkannya bahwa hidup adalah permainan tim, bukan ajang solo.

Hidup Bayan bertumpu pada dua kalimat. Amor Fati, mencintai takdir, apa pun bentuknya. Dan “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, menghormat tanpa kehilangan jati diri. Dua pegangan ini menuntunnya menerima, beradaptasi, dan tetap berdiri dengan martabat.

Setelah menyandang gelar sarjana, Bayan memilih melangkah ke dunia kerja. Ia ingin menguji ilmunya di lapangan, menempa keterampilan, dan berdiri dengan kakinya sendiri. Pintu Magister tidak ia kunci. Ia menantinya di masa depan, ketika pengalaman telah cukup dewasa untuk menjadikan studi lanjut sebagai jawaban, bukan sekadar gelar.

Hatinya selalu pulang ke Manggarai Barat, NTT. Bayan bermimpi Labuan Bajo tidak hanya tumbuh dalam gedung, tetapi juga dalam manusia. Ia merindu pendidikan yang merata, kesehatan yang dekat, pertanian dan perikanan yang kuat.

Mimpinya sederhana: agar anak-anak muda Manggarai Barat menjadi tuan di rumah sendiri, menjaga alam, merawat budaya, dan mengharumkan nama tanah kelahiran.

Ribuan terima kasih Bayan haturkan kepada Bapak Dr. H. Yayat Sujatna, S.E., M.Si. selaku Rektor ITB AD Jakarta, dan kepada seluruh dosen yang telah menyalakan lentera ilmu dan keteladanan.

Kepada Ayah dan Ibu, ia persembahkan sujud syukur terdalam. Untuk setiap tetes keringat, setiap doa yang tak terhitung, dan setiap pengorbanan yang tak bersuara. Gelar ini adalah hadiah kecil untuk membayar cinta yang besar.

Dari Cereng ke Jakarta, Bayan berjalan dengan akar yang dalam dan sayap yang terus belajar. Dengan nilai keluarga sebagai kompas, organisasi sebagai sekolah kehidupan, dan kemandirian sebagai bekal, ia melangkah. Bukan untuk menjadi yang paling tinggi, tetapi untuk menjadi yang paling bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan tanah yang melahirkannya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *