Opini

Siti Khadija: Dari Ares ke Sarjana

23
×

Siti Khadija: Dari Ares ke Sarjana

Share this article
IMG 20260906 WA0004
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia”

SELASA 19 Juni 2001, langit Cereng menyaksikan kelahiran. Siti Khadija, datang membawa nama sederhana. Kelak, di belakang namanya ada gelar, S.Sos, di depan namanya ada doa. Jurusannya Pemikiran Politik Islam, jalan yang ia pilih dengan sadar. Ia tidak lahir dari kemewahan, tapi dari tanah yang jujur. Tanah yang mengajarinya bahwa tumbuh butuh waktu. Dan waktu menjawab dengan kesabaran orang tuanya. Begitulah awal sebuah perjalanan dimulai.

Ayahnya Bapak Muhamad Masir, lelaki lulusan SD yang bekerja sebagai petani. Ibunya Ibu Siti Miana, perempuan lulusan MTs yang mengabdi sebagai IRT. Dua tangan itu tak pernah mengenal kata lelah. Di lumpur sawah dan di dapur rumah, masa depan disemai. Mereka tak mewariskan harta, tapi mewariskan semangat.

Gelar yang kini disandang Khadija adalah hasil panen mereka. Panen yang ditanam dengan keringat, disiram dengan air mata. Dan dipetik dengan cinta yang tak bersyarat. “Gelar yang saya sandang sekarang adalah hasil kerja keras mereka,” ungkapnya dengan nada dan wajah haru.

Ia anak kedua dari lima bersaudara. Di atasnya ada Marmi Yati Achmad yang menapaki lebih dulu. Lalu dirinya, lalu Dewi Fatima, Sahrul Muhamad, dan Siti Harfiah. Rumah mereka kecil, suaranya ramai, mimpinya besar. Di meja makan yang sederhana, cita-cita dibagi rata. Tak semua bisa langsung, tapi semua diajarkan untuk sabar. Khadija belajar berbagi, belajar mengalah, belajar kuat. Karena keluarga adalah sekolah pertama tentang hidup.

Tahun 2007, MI Nurul Fikri Leheng menjadi saksi langkah pertamanya. Tahun 2013 ia lulus, membawa bekal huruf dan iman. Lalu SMPN Satu Atap Jarak menjemputnya pada 2016. Seragamnya lusuh, semangatnya tidak. Di sana ia belajar bahwa keterbatasan bukan alasan. Melainkan alasan untuk berjalan lebih tegak. Setiap bel pulang adalah janji untuk esok. Dan ia menepatinya, satu persatu.

Baca Juga :  Ramadan Sebagai Momentum Hijrah Diri

Tahun 2019, MA Darul Quran Bengkel di Lombok Barat memanggil. Di tanah rantau itu ia belajar al-Qur’an dan belajar rindu. Asrama menjadi rumah, teman menjadi keluarga. Ia jauh dari Cereng, tapi dekat dengan niat. Malam-malamnya panjang, tidurnya singkat. Namun doa orang tua selalu lebih panjang dari malamnya. Dari pesantren itu ia keluar dengan punggung lurus. Dan hati yang sudah ditempa sabar.

Universitas Islam Negeri Mataram menjadi persinggahan terakhirnya. Tahun 2026 ia menamatkan kuliah. Kuliah beberapa tahun bukan waktu singkat untuk seorang anak petani. Ada proposal, ada skripsi, ada ujian yang menekan dada. Kadang ia menulis sambil menahan sakit. Kadang ia membaca sambil menunggu kabar rumah. Tapi ia tidak berhenti. Karena berhenti berarti mengkhianati amanah.

Di tanah rantau, ia menemukan hal yang tak terduga. Sebatang pohon pisang yang bagian dalamnya bisa dimakan. Orang Lombok menyebutnya ares. Awalnya ia jijik, karena bentuknya aneh. Tapi penasaran mengalah pada gengsi. Satu gigitan, dan ia menemukan rasa baru. Seperti hidup, yang awalnya pahit lalu menjadi pelajaran.ras mengajarinya untuk tidak menilai dari luar.

Selama merantau ia memegang prinsip. Menjaga sikap dan menjaga lisan. Dua hal sederhana yang berat untuk dijaga. Di tempat orang, nama baik adalah satu-satunya koper. Ia tak ingin membawa aib ke tanah orang. Ia hanya ingin membawa nama baik kampungnya. Prinsip itu menjadi pagar di setiap langkahnya. Dan pagar itu melindunginya sampai pulang.

Nasihat orang tua menjadi kompasnya. “Jaga sikap dan tutur kata di tanah orang. Yang buruk jangan dibawa ke tanah orang. Kuliah baik-baik, pulang bawa ijazah dan ilmu.” Kalimat itu diulang-ulang, dihafal, diamalkan. Saat lelah, kalimat itu yang menguatkan. Saat ingin menyerah, kalimat itu yang menariknya. Dan ia pulang dengan membawa keduanya.

Baca Juga :  Rohana Kudus; Pelopor Gerakan Perempuan Indonesia asal Minangkabau

Untuk adik-adik yang masih di rantau, ia berpesan. Selesaikan amanah yang sudah diberikan orang tua. Jangan pulang dengan tangan kosong dan hati kosong. Bawalah hasil, bawalah ilmu, bawalah akhlak. Dan satu hal yang jangan pernah ditinggal: sholat. Karena tanpa Allah, semua gelar akan terasa kosong. Pesan itu bukan ceramah, melainkan cermin. Cermin dari luka dan sabar yang ia lalui.

“Selesaikan amanah yang diberikan oleh orangtua, dan pulanglah dengan membawa hasil yang baik. Sholat jangan ditinggal!,” ungkapnya.

Selama kuliah, ada sosok yang selalu menyemangati. Bapak tuanya, Bapak Abdul Sudin, S.Pd. Kata dia, beliau tak pernah bosan berkata: “Sekolah, Nak, sekolah.” Kata itu sederhana, tapi menggetarkan. Dari beliau Khadija belajar arti konsisten. Belajar bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar. Motivasi itu menjadi bahan bakar di hari mendung. Dan ia melaju, meski pelan.

Pengalaman paling berkesan terjadi saat menyusun skripsi. Ia sering keluar masuk rumah sakit. Tubuh melemah, tapi pikiran menolak menyerah. Di antara infus dan laptop, bab demi bab selesai. Rasa sakit justru memantik semangat. Ia ingin membuktikan bahwa sakit bukan penghalang. Bahwa perempuan Cereng bisa menyelesaikan dengan tuntas. Dan ia menyelesaikannya, dengan air mata dan iman.

“Saat menyelesaikan proposal dan skripsi saya sering keluar masuk rumah sakit. Namun hal itu membuat saya semakin semangat dalam menyelesaikan skripsi,” kenangnya.

Ada kabar yang membuatnya hampir roboh. Bapak masuk rumah sakit. Dunia seakan runtuh di tengah semester. Ia sempat drop, duduk lama di sudut kamar. Tapi ia ingat nasihat: “Pulang bawa hasil.” Maka ia bangkit, menghapus air mata. Menyelesaikan semua urusan kampus dengan dada sesak. Karena cinta juga berarti bertahan.

“Pengalaman yang bikin menangis tapi jadi termotivasi adalah saat ketika mendengar Bapak sakit dan masuk rumah sakit. Saya sampai drop. Namun saya memaksa diri untuk bangkit dan menyelesaikan semua urusan di kampus,” ungkapnya.

Baca Juga :  Jaga Lisanmu, Tangisi Dosamu!

Ia mengucapkan terima kasih kepada para dosen. Terutama kepada Bapak Dr. Ihsan Hamid, M.A. Dosen pembimbing yang sabar membaca dan mengoreksi. Yang menegur saat ia lengah, yang menguatkan saat ia ragu. Tanpa bimbingan itu, skripsi hanya akan jadi angan. Dengan bimbingan itu, skripsi menjadi nyata. Dan kelulusan menjadi bukti.

Untuk Rektor dan seluruh sivitas akademika, ia menunduk dan berterima kasih. Kampus telah memberinya ruang untuk tumbuh. Perpustakaan telah memberinya jendela untuk melihat. Diskusi telah memberinya keberanian untuk bertanya. UIN Mataram bukan hanya tempat belajar hingga meraih gelar S.Sos. Ia adalah rumah kedua yang mendidik jiwa. Dan ia pergi dengan membawa nama baiknya.

Setelah S1, ia belum merencanakan S2. Untuk saat ini ia ingin bekerja terlebih dahulu. Bekerja untuk membantu keluarga, bekerja untuk membalas budi. Tapi hatinya punya mimpi yang lebih jauh. Mimpi untuk Cereng, kampung halamannya. Ia ingin melihat Cereng maju dan berpendidikan. Dan masyarakatnya hidup dalam sejahtera.

“Selesaikan apa yang sudah kamu mulai.” Ungkapan itu menjadi pegangan hidupnya. Ia menggunakannya saat malas datang. Ia menggunakannya saat ragu mendera. Kalimat pendek yang punya tenaga besar. Karena banyak orang pintar gagal di akhir. Dan ia memilih untuk menjadi orang yang tuntas. Meski jalannya berbatu.

Kini gelar S.Sos itu ia persembahkan. Untuk keluarga besar, khususnya Bapak dan Mama. Untuk dua orang yang tak pernah sekolah tinggi, tapi berhasil mengantarkan anaknya tinggi. Untuk Cereng yang selalu ia rindukan. Untuk setiap ares yang mengajarinya arti menerima. Khadija melangkah, membawa akar dan sayap. Akar untuk pulang, sayap untuk mengabdi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *