Opini

Amirul Mukmin: Dari Ndewel Menjadi Pelita

17
×

Amirul Mukmin: Dari Ndewel Menjadi Pelita

Share this article
IMG 20260907 WA0027
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”

NAMANYA Amirul Mukmin, M.Pd., Gelar Magister Pendidikan. Gelar itu bukan mahkota untuk dipamerkan. Ia sandang dengan punggung menunduk. Karena ia tahu ilmu adalah amanah. Setiap huruf di belakang namanya adalah doa orang tua yang tak putus. Adalah tanggung jawab pada kampung. Untuk menjadi cahaya, bukan kebanggaan. Jadi pelita di tengah arus peradaban yang kerap gelap.

Jejak Rumah dan Orangtua

Ia lahir di kampung Ndewel, Manggarai Barat, NTT, Sabtu 15 Mei 1993. Udara pegunungan menyambut tangis pertamanya. Tanah itu mengajarinya tentang kesederhanaan. Tentang hidup yang cukup dengan hujan dan doa. Di sanalah akar-akar imannya ditanam. Di sanalah ia belajar arti pulang. Bahwa kampung kecil bisa melahirkan mimpi besar, jika sabar disiram setiap hari.

Ayahnya bernama Bapak Abdul Hasiman. Ibunya Ibu Siti Tija (almarhumah). Dua nama yang menjadi kiblat baktinya. Ayah menanam padi dengan tangan kapalan. Ibu menanam akhlak di sela pekerjaan rumah. Dari keduanya ia belajar ikhlas. Belajar bahwa rezeki tidak selalu berbentuk uang. Tetapi berbentuk ridha yang mengalir.

Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Deretan nama itu adalah rumah pertamanya. Likat, Siti Nur Hayati, Muhamad Nurdin, Siti Hajena. Lalu dirinya, Amirul Mukmin. Disusul Siti Jubaina dan Jamaludin. Di tengah keramaian itu ia belajar mendengar. Belajar berbagi, belajar mengalah. Karena keluarga adalah madrasah pertama hidup.

Pendidikan dan Pembelajaran

Pendidikan dasarnya ditempuh di SDI Tondong Raja. Masuk tahun 2001. Lulus tahun 2007. Enam tahun ia mengeja huruf dan hidup. Papan tulis menjadi saksi kesungguhan dan kerja kerasnya. Guru menjadi peniup semangatnya. Di sana ia belajar bahwa kecil bukan hina. Kecil adalah awal dari perjalanan panjang. Ia melanjutkan ke MTs Ndewel. Tahun 2007 ia melangkah masuk. Tahun 2010 ia menamatkan.

Baca Juga :  Cantiknya Bukit Muhammadiyah Di Manggarai Barat NTT

Tiga tahun ditempa disiplin dan ngaji. Hari-harinya diisi tugas dan tawa. Di madrasah itu akalnya mulai bertanya. Hatinya mulai mencari jawaban. Imannya mulai belajar berdiri sendiri. Jejak kemudian membawanya ke Bogor, Jawa Barat. Ia menuntut di Pondok Hidayatullah. Masuk tahun 2011. Lulus tahun 2013. Pesantren mengajarinya bangun sebelum fajar. Mengajarinya lapar, rindu, dan tawadhu. Di asrama ia belajar menjadi saudara. Bagi teman yang jauh dari rumah.

Ia pernah menangis karena gagal di IPB. Lalu harus kuliah di STIT Tangerang Raya. Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam. Dari luka itu lahir pelajaran. Tidak semua yang kita inginkan terbaik. Kadang kita harus berbenah dan terus belajar. InsyaAllah akan dipertemukan orang yang tepat. Pengalaman berkesan lainnya adalah teman. Berbeda latar, saling tukar ide dan wawasan.

Gelar sarjana ia raih di STIT Tangerang Raya. Ia mulai tahun 2013. Selesai tahun 2017. Kampusnya sederhana, mimpinya tidak. Setelah sarjana ia tidak berhenti. Ia melanjutkan S2 di IAIN La Roiba Bogor, Jawa Barat. Mengambil program studi Manajemen Pendidikan Islam. Alasannya jelas dan lurus. Agar ilmu relevan membangun pendidikan di kampung.

Gelar yang ia sandang ia hadiahkan untuk kedua orang tua. Karena tanpa mereka tidak ada nama. Tanpa mereka tidak ada cerita.

Sambil kuliah ia mengajar di Pondok Ruhama Bogor. Sambil itu ia tetap aktif di lembaga sosial. Ia tidak sibuk organisasi kampus. Waktunya habis di pesantren dan lembaga sosial. Di Peduli kita.com dan temanbaik.com ia mengabdi. Di dua lembaga itu ia dipercaya menjadi Bendahara Umum. Menjaga amanah dengan tangan hati-hati.

Mengapa ia memilih berorganisasi di luar? Karena ia butuh wadah meng-upgrade diri. Karena ia butuh jaringan untuk misi pulang. Agar nanti kembali tidak membawa tangan kosong. Tetapi membawa solusi untuk kampung.

Baca Juga :  Terima Kasih Bu Khofifah

Dampak organisasi terasa sampai ke tulang. Jiwanya tumbuh menjadi lebih empatik. Hatinya terpanggil pada misi kemanusiaan. Ia belajar mendengar sebelum memberi. Belajar bahwa menolong bukan soal nama. Tetapi soal hadir di saat genting. Dari situlah lahir tekadnya. Membangun dari akar, bukan dari baliho.

Inspirasi, Motivasi dan Mimpi

Sosok yang paling berpengaruh adalah ibunya. Perempuan yang mengajari keteguhan tanpa suara keras. Mengajari kesabaran di setiap luka. Mengajari keikhlasan yang tidak menuntut balas. Ketika dunia terasa sempit, ibu melapangkan. Ketika langkah goyah, ibu meneguhkan. Hingga kini kepergiannya masih menjadi guru. Guru sunyi yang bicara lewat doa dan rindu.

Sosok yang menginspirasi adalah Ustadz Ahmad Nur Sholeh. Guru yang tulus mengajarkan realita kehidupan. Yang menemani mereka di tanah rantau. Dengan hati ayah dan ketegasan seorang guru.

Selama kuliah ia menemukan keunikan. Banyak mahasiswa paling fokus saat malam. Sunyi dan kopi menjadi saksi. Di tanah rantau perannya berubah-ubah. Kadang menjadi teman, kadang menjadi kakak. Kadang menjadi orang tua bagi sesama. Rantau mengajarinya lentur dan mandiri. Mengajarinya membawa rumah di dalam dada.

Prinsip hidupnya sederhana namun dijaga. Hidup bahagia dan bermanfaat bagi banyak orang. Nasihat orang tuanya menjadi kompas. “Bekerjalah dengan ikhlas. Bersabarlah dalam setiap keadaan. Niscaya sukses akan datang. Bahagia dunia dan akhirat menyusul”. Kalimat itu ia ulang saat hampir jatuh.

Untuk pelajar dan mahasiswa ia berpesan, “Miliki keresahan tentang daerah masing-masing. Cari solusi di kelas dan di lapangan. Bawa pulang ilmu, bukan hanya ijazah”.

Ungkapan bijak yang ia pegang. “Bersabarlah atas kesusahan yang sebentar.niscaya kamu akan bahagia selamanya.Untuk rektor dan para dosen ia bersujud syukur”.

Baca Juga :  23 Tahun Manggarai Barat; Jalan Raya Tak Mesti Beraspal?

Mimpinya untuk Manggarai Barat tidak kecil. Ia ingin menjadi pembuka jalan. Ikut mengawali perjuangan panjang. Menjadikan kampung halaman miniatur peradaban Islam. Bukan dengan teriakan, tetapi dengan kerja. Bukan dengan janji, tetapi dengan jejak. Agar anak cucu punya teladan. Agar tanah kelahiran punya arah.

Tapak

Kini ia mengabdi di Yayasan Insan Kamil Flobamora di Ndewel. Menjabat sebagai Ketua Yayasan. Tanggung jawabnya bertambah, langkahnya tetap sama. Melayani, bukan dilayani.

Ia menikah dengan Nur Zakiyah. Perempuan asal Siru, Lembor. Alasannya sederhana dan suci. Menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernikahan baginya adalah ibadah. Bukan pelarian, bukan tuntutan. Tetapi jalan menuju sakinah. Jalan untuk saling menguatkan iman

Nasehat dan Doa

Nasihatnya untuk para santri sangat jelas, “Bersabarlah menahan bosan dalam belajar. Karena yang tidak sabar pada proses. Akan menanggung kebodohan dalam diri”.

Untuk pemuda yang hendak menikah, “Bersegeralah jika sudah mampu. Siapkan empat hal: ilmu, iman, finansial, fisik. Karena dari situlah bahagia rumah tangga bermula”.

Untuk para guru dan dosen, ia berucap penuh sungguh, “Terima kasih atas kepedulian dan kesungguhan. Karena gelar ini adalah buah didikan. Semoga menjadi amal jariyah. Yang mengalir hingga ke akhirat”.

Untuk orang tuanya ia menengadahkan tangan. “Semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan. Memberi kesehatan dan melapangkan rezeki”. Khusus untuk ibunda yang telah berpulang. “Semoga kuburnya menjadi taman surga. Semoga dosa-dosanya diampuni”. Doa itu ia bisikkan setiap sujud. Karena baktinya belum selesai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *