Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”
ENDANG Mutia Hilma Yeni lahir di Praya, Lombok Tengah, NTB, pada Jumat 14 Juli 2006, ketika angin Lombok masih lembut. Kini 2026, ia menapaki semester lima di tanah perantauan, sebagai mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di Fakultas Humaniora ia memilih Bahasa dan Sastra Arab, menyelami huruf yang menuntun pada makna. Dari pulau kecil ia berangkat membawa nama, dengan dada penuh doa dan langkah penuh harap.
Keluarga
Ia anak kedua dari tiga bersaudara yang diikat cinta. Kakaknya Ely Dia Islihatin Diniati, B.A., adiknya Silvi Najwa Azzahra. Rumah mereka sederhana, namun kaya akan pelukan. Di sana Endang belajar tentang berbagi dan mengalah, tentang mendengar sebelum didengar. Keluarga menjadi madrasah pertama baginya, tempat akhlak ditempa sebelum dunia menuntut.
Ayahnya, H. Muhammad Indri, S.E., seorang pensiunan yang tetap menunduk pada tanah sebagai petani. Ibunya, Hj. Jumratul Aini, perempuan IRT yang doanya tak pernah putus. Keduanya adalah langit dan bumi bagi Endang. Merekalah yang menemani setiap perjalanan menuntut ilmu,
dari bangku desa hingga bangku kampus jauh. Hingga hari ini ia berdiri, karena ada sujud panjang di setiap malam mereka
Pendidikan
Pendidikan dasarnya dimulai di SDN Petak. Tahun 2018 ia melangkah ke MTs dengan hati berani. Lalu berlabuh di MA Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB tempat ia ditempa disiplin dan adab. Lulus tahun 2024, ia membawa dua bekal: ilmu di kepala dan akhlak di dada. Pondok mengajarinya bangun sebelum fajar, dan tunduk sebelum ilmu meninggi.
Malang menyambutnya dengan udara yang dingin. Di UIN Maulana Malik Ibrahim ia menemukan rumah baru. Bahasa Arab menjadi jendela untuk melihat peradaban. Humaniora melatihnya berpikir, meraba, dan bertanya. Rantau mengajarinya mandiri tanpa kehilangan akar. Setiap rindu ia ubah menjadi semangat belajar. Setiap sepi ia isi dengan buku dan diskusi. Karena baginya, jauh dari rumah bukan berarti jauh dari tujuan.
Jejak, Organisasi dan Prestasi
Sejak itu ia berusaha menjadi anak yang lebih baik. Lebih sabar, lebih berbakti, lebih bersyukur. Karena ia ingin membahagiakan orang tua. Agar perjuangan mereka tidak sia-sia. Ia juga aktif mengikuti kegiatan berskala nasional. Mulai dari lomba debat saat di pondok, pidato bahasa Arab 2020-2024, hingga Conference antar negara Juli 2024.
Alhamdulillah, prestasi pun menyertai langkahnya. Juara 1 Khitobah Yayasan Nurul Hakim. Juara 1 tingkat Provinsi NTB. Harapan 1 tingkat Kota Mataram. Finalis Pospenas tingkat nasional. Finalis debat bahasa Arab, Top 5 Duta Bahasa MSAA. Runner Up 2 Duta Fakultas, Juara 2 Khitobah nasional di Malang, dan Best Speaker di BEC Kampung Inggris Pare.
Kampus tidak hanya menjadi ruang kuliah bagi Endang. Ia aktif di HMPS, El Jidal, Simfoni FM, Infopub Humaniora, HTQ UIN Malang, JDFI. Namanya juga tercatat sebagai Duta Bahasa, Duta Pembicara Indonesia, Duta Fakultas Humaniora, The Buddies bagi mahasiswa asing, dan kini ia mengemban amanah sebagai Musyrifah. Setiap peran ia jalani dengan tanggung jawab.
Endang sangat selektif dalam memilih organisasi. Baginya tempat berkumpul adalah tempat bertumbuh. Ia tidak mengejar banyak, ia mengejar dalam. Karena ia tahu, lingkungan yang salah dapat memadamkan api yang sedang menyala. Maka ia memilih lingkaran yang menajamkan pikiran, yang mengasah bukan yang melalaikan. Di sanalah ia belajar menjadi versi terbaik dirinya.
Dampak organisasi terasa hingga ke tulang rusuknya. Dari sanalah public speaking-nya ditempa keberanian. Problem solving menjadi napas saat jalan buntu. Relasi terbentang luas melintasi daerah dan negara. Leadership bukan lagi teori di atas kertas, melainkan praktik mendengar dan memutuskan. Setiap rapat, setiap acara adalah guru. Yang membentuk cara ia berpikir dan bersikap.
Pengalaman paling berkesan di universitas adalah ketika ia memahami arti berorganisasi. Bukan tentang jabatan, tapi tentang kepercayaan. Bukan tentang suara paling keras, tapi tentang mendengar suara yang paling kecil. Ia belajar memperjuangkan kepentingan bersama. Berunding dengan perbedaan, dan mengambil keputusan demi banyak orang.
Dari sana ia belajar arti kepemimpinan sejati. Bahwa pemimpin tidak harus selalu di depan. Kadang ia ada di belakang, menguatkan. Berani menyuarakan yang benar. Mampu menerima kritik dengan dada terbuka. Dan tetap hadir saat orang lain butuh. Dinamika, perbedaan, keberhasilan kecil, semuanya membentuk cara ia berpikir
Pengalaman Berharga, Berkesan dan Unik
Bagi Endang, pengalaman paling berharga adalah ketika apa yang ia lakukan bermanfaat. Sekecil apa pun, bagi orang lain. Karena jabatan akan selesai pada waktunya. Tapi nilai dan manfaat akan terus diingat. Itulah yang ia ingin tinggalkan. Bukan nama di plakat, tapi kebaikan yang hidup setelahnya.
Salah satu ujian terberat datang di kelas 2 MTs. Di tengah pandemi, ayahnya mengalami kecelakaan. Rasa takut dan sedih menyergap seluruh keluarga. Melihat pilar kekuatan terbaring lemah. Namun Allah masih memberi kesehatan dan waktu. Dari peristiwa itu Endang banyak berbenah. Ia belajar menghargai waktu bersama orang tua. Dan memahami bahwa ujian mendewasakan.
Hal unik yang ia temukan di kuliah adalah manusia. Teman-teman datang dari berbagai daerah di Nusantara. Bahkan dari negara lain dengan logat berbeda. Sifat mereka unik, warna mereka beragam. Endang mensyukuri perbedaan itu dengan hati lapang. Karena dari sanalah ia belajar toleransi. Bahwa dunia luas, dan kita hanya satu bagiannya. Namun sekecil apa pun, kita tetap berarti.
Ada satu rasa yang membuatnya tersenyum getir. Rujak cingur di tanah Jawa Timur. Teksturnya mirip pecel, jauh dari rujak Lombok. Perbedaan itu ia terima dengan tawa kecil. Karena kuliner juga mengajar tentang keberagaman. Bahwa tidak semua harus sama untuk disebut nikmat. Cukup saling menghargai dan saling mencicipi. Seperti hidup yang harus saling memahami.
Inspirator dan Prinsip Hidup
Sosok yang menginspirasi Endang bukanlah tokoh besar. Melainkan orang tuanya yang bekerja dalam diam. Ia melihat perjuangan mencari nafkah setiap hari. Peluh yang jatuh demi masa depan anak-anaknya. Tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan. Hanya cinta yang bekerja tanpa lelah. Dari situlah ia belajar arti pengabdian. Bahwa hebat adalah memberi tanpa pamrih.
Orang tua adalah tempat pulang dan sumber kekuatan. Guru adalah penuntun yang tulus tanpa pamrih. Mereka mengajarkan Endang untuk tidak takut bermimpi. Jika suatu hari ia berhasil, keberhasilan itu bukan hanya miliknya. Ada nama-nama yang ikut tertulis di dalamnya. Ada doa yang ikut mengangkatnya tinggi. Dan ada jasa yang tak akan pernah lunas.
Nasehat orang tuanya terpatri dalam darahnya. “Di mana pun berada, jangan tinggalkan shalat. Ikhtiar di setiap langkah yang kau tempuh.” Hidup hanya sekali, maka jadilah berguna. Jangan habiskan tenaga untuk yang membenci. Kalimat itu ia jadikan kompas di dada. Saat lelah, ia menyalakannya kembali. Dan langkahnya menemukan arah yang terang.
Prinsip hidup yang ia pegang sederhana namun kokoh. Berani hidup di rantau tanpa takut bertanya. Menjaga nilai akhlak yang diajarkan pondok. Terus belajar dari siapa saja yang ditemui. Mengambil hikmah dari setiap pertemuan. Karena setiap orang adalah guru. Dan setiap tempat adalah kelas. Selama hati mau, ilmu akan datang sendiri.
Pesan dan Impian
Pesan Endang untuk mahasiswa yang ingin merantau. Jika memilih pergi menuntut ilmu ke tempat jauh, maka siapkan hati untuk segala konsekuensi. Siap untuk senang, siap untuk sedih. Siap rindu, siap sendiri, siap jatuh. Tapi jangan pernah lupa melibatkan Allah. Dan jangan pernah lupa doa orang tua. Karena rantau tanpa restu akan terasa kosong.
Mimpi terbesar Endang bukan tentang panggung megah. Ia ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Mengumpulkan ilmu sebanyak mungkin, lalu membawanya pulang ke kampung halaman, NTB. Ia ingin membuktikan anak daerah bisa bermimpi besar. Berkiprah di tingkat nasional, bahkan internasional. Lalu kembali, membawa dampak nyata bagi masyarakat. Karena keberhasilan adalah ketika orang lain ikut tumbuh.
Menurut Endang, memajukan NTB harus dari manusianya. Kekayaan alam, budaya, dan pariwisata adalah modal besar. Tapi tanpa SDM berkualitas, semua akan terbatas. Pembangunan harus dimulai dari pendidikan. Pemberdayaan generasi muda, penguatan UMKM, digitalisasi, dan pengelolaan potensi lokal. Sebagai generasi muda, kita tidak cukup bermimpi. Perubahan besar lahir dari kontribusi kecil yang konsisten.
Terima Kasih
Terima kasih ia haturkan kepada orang tua dan guru. Atas doa, pengorbanan, nasihat, dan kesabaran. Endang tahu, ia tak akan mampu membalas semua. Tapi setiap langkahnya hari ini adalah jejak mereka. Jika ia berani bermimpi, itu karena mereka mengajari. Jika ia kuat, itu karena mereka menopang. Semoga Allah membalas dengan pahala berlipat.
Dengan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan.
Untuk Ayah dan Ibu tercinta, terima kasih atas cinta yang tak bersyarat. Atas pengorbanan yang mungkin tak akan terbayar. Di setiap langkah ada doa yang menguatkan. Endang berharap suatu hari keberhasilannya menjadi bentuk terima kasih yang nyata. Semoga setiap lelah menjadi pahala. Dan setiap pengorbanan dibalas kebahagiaan.
Harapannya sederhana dan dalam. Semoga Allah memberi orang tuanya kesehatan. Umur yang penuh berkah dan hati yang tenang. Kesempatan melihat anak-anaknya tumbuh bermanfaat. Jika kelak ia berdiri lebih tinggi, maka merekalah yang pertama ia bahagiakan. Karena di balik semua pencapaian, akan selalu ada dua nama: Ayah dan Ibu.
“Untuk Ayah dan Ibu tercinta, terima kasih atas cinta yang tak pernah menakar. Atas pengorbanan yang diam, yang mungkin tak akan pernah bisa kubayar lunas. Di setiap langkah kecilku, ada doa yang berjalan mendahului. Di setiap jatuhku, ada nama kalian yang disebut langit. Keringat kalian adalah hujan yang menumbuhkan mimpiku. Lelah kalian adalah jembatan yang kupijak untuk sampai sejauh ini. Capaiaku selama ini bukan milikku, ia milik kesabaran kalian. Dan di setiap sujudku, kusandarkan seluruh syukur itu kepada kalian,” ucapnya.
Hidup telah memperlihatkan dua sisi padanya. Ada suka dan duka, ada bahagia dan kecewa. Dari semua itu ia belajar satu hal penting. Tidak semua hal harus dilawan. Tidak semua keadaan harus dipaksakan. Maka ia memilih sabar, ikhlas, dan bersyukur. Hidup bukan tentang mendapatkan semua. Tapi tentang tetap tenang dan menjadi lebih baik. (*)






