Opini

Kakek Abdul Karim: Guru Ngaji yang Berjasa Besar di Tanah Naga

23
×

Kakek Abdul Karim: Guru Ngaji yang Berjasa Besar di Tanah Naga

Share this article
IMG 20260914 WA0022
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia”

NAMANYA Abdul Karim. Kami memanggilnya Kakek Abdul Karim. Lahir di awal tahun 1925, di tanah Naga, Mata Wae, Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT. Sejak 1940-an beliau menjadi guru ngaji, imam, dan penuntun hati. Hingga wafat di tahun 2011, namanya tetap jadi rujukan iman warga. Di tengah keterbatasan, beliau memilih menjadi pelita yang tak padam. Dan pelita itu kini menerangi jalan kami, meski beliau sudah tiada.

Menengok Jejak

Setelah tamat di SDK Cereng sekira tahun 1944, Kakek Abdul Karim mengaji di Lenteng. Sekitar tahun 1945 hingga 1949, sekira empat tahun lamanya. “Bersama Imam Hamente Matawae, yang tamat ngaji. Gurunya orang Bima, tinggal di Lenteng. Makanya dialeg Bimanya fasih, sefasih tutur Manggarai yang ia bawa pulang,” ungkap Bapak Abdul Mispaki, salah satu anak kandungnya yang kini berdomisli di Solo, Jawa Tengah.

Kala itu, Dalu Musa mengundang. Semua biaya ditanggung, karena ilmu tak boleh berhenti di ambang pintu. Beliau menegur jika bacaan al-Quran warga keliru, dan semua manut padanya. Sebab suaranya pelan, tapi wibawanya mengetuk dada. Jujur dalam laku, dermawan dalam diam. Satu dua kalimat saja, lalu ia memilih hening.

Hampir semua tetua di zamannya pernah duduk di majelisnya. Dari mengeja alif-ba-ta, hingga menuntaskan 30 juz dalam dada. Dari surat pendek Juz ‘Amma, hingga makna di balik setiap ayat. Beliau mengajar bukan sekadar huruf, tapi cahaya. Karena di tangannya, al-Qur’an turun menjadi akhlak. Dan akhlak itu hidup di cara kami berbicara hingga hari ini. Sampai kini, jika ada yang bertutur lembut di kampung, orang bilang: “Itu didikan Kakek Abdul Karim.”

Zaman itu Indonesia masih dicekam penjajah. Di daerah seberang, bedil dan adu domba bertebaran di kampung-kampung. Tapi imam seperti beliau tak pernah gentar. Di rumah dan serambi masjid, beliau menanamkan Islam dengan tenang. Sehingga iman warga tak goyah oleh hasutan. Keyakinan menjadi benteng yang lebih kuat dari senjata. Karena beliau percaya, iman yang ditanam dalam damai tidak akan tumbang oleh guncangan.

Sejak tahun 1950-an, Kakek Abdul Karim menjadi imam. Menjadi panutan sampai akhir hayatnya. Semua warga, termasuk kalangan muda era itu, paham betul tabiatnya. Tak banyak kata, tapi hidupnya menjadi kitab. Ia mengajari generasi zaman itu bahwa ilmu adalah sedekah. Dan peradaban berdiri di atas orang-orang yang ruku’ pada kebenaran. Tanpa goyah, tanpa menoleh ke tempat lain.

Baca Juga :  PPKh KMMI Nurul Hakim dan Kenangan dengan Azka Syakira Saat Liburan 

Jika ditelusuri, jasa beliau sangat besar. Naga mengenal Islam lebih dalam, salah satunya, karena lisan beliau. Desa-desa sekitar pun turut meminum dari sumur ilmunya. Banyak murid beliau yang lalu menjadi guru di kampungnya. Api itu menyebar, tanpa pernah padam. Satu cahaya menyalakan seribu cahaya lainnya. Hingga hari ini, rantai kebaikan itu masih bersambung dari satu rumah ke rumah lain.

Rujukan kitab kuning tidak ada. Sumber buku bacaan terbatas. Tapi semangatnya tak terbatas. Beliau rajin mengaji, lalu menerjemahkan dengan bahasa sederhana. Ayat tentang iman, ibadah, muamalah, dan akhlak. Disampaikan dengan ikhlas, tanpa pamrih, tanpa meminta upah. Hanya mengharap ridha Allah sebagai upah. Dan keikhlasan itu membuat ilmunya meresap ke tulang. Maka yang diajarkan beliau bukan sekadar hafalan, melainkan cara hidup.

Muridnya adalah Guru

Ayah saya, Bapak Abdul Hahami, kelahiran Cereng, 1948, adalah salah satu muridnya. Tahun 1967 lulus SMA di Ruteng. Sejak itu sampai tahun 1977 ayah mengajar di SD Naga. Di waktu senggang, ia kembali duduk di hadapan gurunya. Belajar shalat, belajar adab, belajar menjadi manusia. Warisan pertama ayah saya, dimulai dari majelis itu. Dari bangku kayu itulah, masa depan iman kami ditempa. Dan dari tempaan itu, ayah menurunkan iman yang sama kepada kami.

Tahun 1974 atau 1975, takdir mempertemukan dua garis. Ayah saya menikah dengan Ibu Siti Jemami. Ibu adalah anak kandung Kakek Ngempo. Kakek Ngempo adalah adik kandung Kakek Abdul Karim. Saya lahir sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara. Anak dari murid, dan anak dari adik kandung beliau. Seolah garis ilmu dan garis darah bertemu di rumah kami. Maka tak heran jika rumah kami di Cereng era 1980-an dan 1990-an tumbuh dengan suara mengaji sebagai pengantar tidur.

Sejak pernikahan itu, rumah kami ramai al-Qur’an. Setiap sore ayah selalu bersama al-Qur’an. Ayah shalat lima waktu, shaum Ramadhan dan sesekali shaum sunnah. Tahun 1980-an hingga sakit tahun 2007, mushaf tak pernah jauh dari tangannya. Saya tahu, itu bukan kebetulan. Tapi menyaksikan sendiri. Itu adalah warisan terbaik dari Kakek Abdul Karim. Warisan yang tidak bisa diwaris notaris, hanya bisa diwaris hati. Dan warisan hati itu kini kami jaga, agar tidak putus di generasi kami.

Baca Juga :  28 Tahun KAMMI; Bakti KAMMI untuk Indonesia

Menjelang SD, medio 1987-1990, saya sering ke rumah Kakek Abdul Karim di Naga, termasuk rumah yang di kebun. Beliau memiliki kebiasaan yang tak pernah absen. Setiap selesai Magrib, suara tilawahnya mengalun. Setiap selesai Subuh, mushaf kembali terbuka. Malamnya dihidupkan dengan tahajud. Siangnya disegarkan dengan shalat dhuha. Waktunya dibagi untuk Allah, bukan untuk keluh. Hidupnya adalah jadwal ibadah, dan ibadahnya adalah cara ia mencintai dunia.

Beliau bukan penceramah yang berteriak. Beliau hadir di pernikahan, di syukuran, di doa syukuran warga kampung. Ceramahnya pendek, tapi menancap di dada. Karena yang keluar dari lisannya adalah pengalaman iman. Bukan retorika, tapi kesaksian. Dan kesaksian selalu lebih menggetarkan daripada pidato. Orang pulang dari majelisnya bukan membawa catatan, tapi membawa perubahan.

Hal yang unik, beliau hemat bicara. Tapi setiap kata selalu berbobot. Wajahnya mudah senyum, hatinya mudah teduh. Orang segan bukan karena keras, tapi karena wibawa yang lahir dari istiqamah. Senyumnya menjadi dakwah, diamnya menjadi pelajaran. Bahkan dalam diam, beliau mengajari kami arti sabar. “Kakak Abdul Tahami tahu dan paham betul, karena menjadi salah satu murid ngaji yang dekat dengan beliau,” kenang Bapak Abdul Mispaki.

Jika ada yang bertanya, beliau tak langsung menjawab. Beliau awali dengan kisah sahabat Nabi. Dengan Abu Bakar yang lembut. Dengan Umar yang tegas. Dengan Utsman yang dermawan. Dengan Ali yang cerdas dan haus ilmu. Dari cerita itu, penanya menemukan jawabannya sendiri. Dampaknya jauh lebih dalam daripada nasihat. Karena hati lebih mudah tunduk pada teladan daripada perintah. Begitulah beliau menanamkan hikmah: tidak menggurui, tapi menuntun.

Kakek Abdul Karim adalah salah satu guru dari banyak guru. Dari satu majelis kecil, lahir puluhan pengajar. Dari satu mushaf tua, lahir generasi yang hafal, walau pun sekadar surat-surat pendek. Dari satu kampung bernama Naga, cahaya Islam merambat ke lembah-lembah lain. Satu orang bisa mengubah peta iman satu wilayah. Dan peta itu terus melebar, jauh melampaui batas desa tempat beliau tinggal.

Jejaknya tidak tertulis di buku besar. Tidak ada plakat, tidak ada nama jalan. Tapi ada di hafalan anak cucu. Ada di bacaan imam saat shalat tarawih. Ada di akhlak orang-orang yang pernah ia didik. Itulah monumen paling abadi: manusia yang menjadi baik. Karena kebaikan tidak butuh prasasti, cukup hidup di perilaku. Di tindakan, pada laku hidup.

Baca Juga :  NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan

Saya sering berpikir, apa rahasia istiqamah hingga kakek Abdul Karim dikenal begitu teguh? Mungkin karena ia tidak mengejar dunia. Mungkin karena beliau percaya, menanam satu ayat akan dipanen pahalanya sampai hari kiamat. Dan panen itu kini kita rasakan. Kami memetik buahnya, walau kami tak ikut menanam. Maka rasa syukur kami adalah bentuk panen yang kedua.

Keterbatasan tidak pernah jadi alasan. Tidak ada perpustakaan, tidak ada internet. Yang ada hanya mushaf, papan tulis dengan kapur arang bekas kayu bakar, dan kesungguhan. Tapi dari situlah lahir generasi yang kokoh. Karena guru yang ikhlas, lebih kuat dari fasilitas. Kesederhanaan justru membuat ilmu terasa dekat dan hangat. Dan kehangatan itu yang membuat kami rindu untuk terus belajar.

Belakangan, Naga telah berubah. Masjidnya lebih megah, anak-anak rerata bisa membaca al-Quran. Tapi saya yakin, fondasi itu diletakkan oleh para guru, salah satunya beliau. Oleh tangan-tangan tua yang menulis huruf di papan. Oleh suara parau yang mengulang-ulang satu ayat. Kemajuan hari ini berdiri di atas kesabaran masa lalu. Maka setiap batu masjid baru, sesungguhnya bertumpu pada doa para guru, salah satunya beliau.

Kakek Abdul Karim telah pergi. Tubuhnya kembali ke tanah. Tapi ajarannya berjalan di kaki kami. Shalat kami, shaum kami, dan bacaan kami. Semua adalah gema dari suaranya. Dan selama gema itu masih terdengar, beliau belum benar-benar pergi. Karena guru yang baik fisiknya dimakamkan, tapi jariyahnya disambung dalam amal jariyah.

Sepak terjang beliau layak ditiru. Terutama oleh kami, keturunan dan keluarga besar. Jangan biarkan obor itu padam di tangan kami. Mari terus mengaji, terus mengajar, terus meneladani. Karena seorang guru tidak pernah benar-benar mati, selama murid, anak dan keturunannya masih berimana kepada Allah dan membaca Bismillah dengan air mata syukur. Dan air mata syukur itulah saksi bahwa cahaya beliau masih menyala. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *