Opini

Tio Fawaz: Mahasiswa IAI Nurul Hakim Lombok Peraih Emas Panahan Berkuda Internasional di Rusia

2
×

Tio Fawaz: Mahasiswa IAI Nurul Hakim Lombok Peraih Emas Panahan Berkuda Internasional di Rusia

Share this article
IMG 20261001 WA0021
Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia”

KABAR emas itu datang dari Rusia, jauh dari hiruk pikuk media nasional kita yang sibuk sensasi. Tio Fawaz, mahasiswa IAI Nurul Hakim Lombok, berdiri gagah di podium tertinggi dunia dengan bendera Merah Putih. Ia Juara 1 Dunia panahan berkuda di IHAA Greater Asian Championship, mengalahkan delegasi berbagai negara di dunia. Pertanyaannya, mengapa prestasi sedahsyat dan sekelas dunia ini nyaris tak terdengar di negeri sendiri?

Kita sibuk merayakan apa setiap hari di media sosial kita? Kita sibuk merayakan viralitas yang hampa, joget tanpa makna, dan sensasi tanpa isi yang cepat hilang. Sementara seorang mahasiswa dari IAI Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB diam-diam menaklukkan dunia dengan busur dan kuda. Memanah berkuda adalah sunnah Rasulullah, jalan kesatria yang berdebu, sunyi, dan penuh keringat perjuangan. Bukankah ini yang seharusnya kita rayakan bersama dengan penuh kebanggaan nasional?

Pernahkah kita membayangkan betapa sulitnya olahraga panahan berkuda ini sesungguhnya? Kuda berlari sangat kencang, jantung berdegup keras, target bergerak cepat, dan kita harus tetap tenang. Dibutuhkan fisik yang kuat dan terlatih untuk mengendalikan kuda yang berlari dalam kecepatan tinggi. Dibutuhkan hati yang kokoh dan mental baja untuk tetap stabil dalam tekanan kompetisi dunia yang besar.

Dan pernahkah kita bertanya dengan jujur, bagaimana medali emas itu bisa lahir dan tercipta? Emas itu tidak lahir di ruang ber-AC yang nyaman, tidak lahir dari rebahan dan scroll TikTok tanpa henti. Ia lahir dari latihan disiplin setiap hari di bawah terik matahari Lombok yang sangat menyengat kulit. Ia lahir dari luka, dari jatuh bangun, dan dari ribuan doa tulus orang tua serta para kyai di pesantren.

Baca Juga :  Catatan dan Harapan untuk PAN Manggarai Barat

Mari kita lihat dengan mata hati kampusnya, IAI Nurul Hakim Lombok yang sederhana itu. Ini bukan kampus metropolitan dengan anggaran triliunan dan gedung pencakar langit yang megah dan mewah. Ini adalah kampus pesantren yang tumbuh dari keikhlasan dan ketulusan para tuan guru dan tenaga pengajar yang ikhlas. Tapi kampus inilah yang berani memberi ruang luas, tidak memenjarakan mahasiswa hanya di dalam kelas sempit.

Ini adalah tamparan keras dan pelajaran besar bagi dunia pendidikan tinggi kita di Indonesia. Bahwa juara dunia tidak selalu butuh fasilitas mewah dan laboratorium super canggih berharga miliaran. Ia butuh ekosistem yang mendukung, guru yang ikhlas mengabdi, dan tekad baja dari mahasiswa yang bermimpi. IAI Nurul Hakim membuktikan, pendidikan holistik yang memadukan ilmu, iman, dan prestasi itu nyata adanya.

Lalu apa artinya prestasi emas ini bagi Lombok Barat dan NTB secara keseluruhan? Selama ini kita menjual Mandalika, kita menjual pantai, gunung, dan keindahan alam yang mendunia. Hari ini Tio Fawaz memberi kita branding yang jauh lebih mahal dan tidak bisa dibeli dengan uang. Branding sumber daya manusia kelas dunia yang membanggakan dan menginspirasi generasi. Ia adalah duta terbaik yang berkata, Indonesia tidak hanya indah alamnya tapi hebat manusianya.

Pembelajaran

Wahai anak muda Indonesia, dengarkan baik-baik, ini adalah mata kuliah kehidupan untuk kalian semua. Pertama, keberanian bermimpi besar meski berasal dari desa terpencil dan sederhana. Jangan pernah batasi mimpi kita hanya karena kuliah kuliah di kampus daerah dan kecil di pelosok. Dunia tidak peduli kampus kita di mana, dunia hanya peduli seberapa keras kita berusaha mewujudkan mimpi.

Kedua, konsistensi dan kedisiplinan yang membosankan dan melelahkan itu. Tidak ada juara dunia yang lahir dari rebahan, tidak ada emas yang datang dari konten viral sehari yang hampa. Juara lahir dari latihan yang sama setiap hari, tanpa henti, tanpa banyak alasan dan keluhan bosan. Tio mengajarkan kepada kita semua, bahwa keringat hari ini adalah medali emas di masa depan.

Baca Juga :  Agar Shaum Ramadhan Berdampak Ganda

Ketiga, identitas dan jati diri santri yang tidak boleh hilang dan luntur. Tio menjadi juara bukan karena meninggalkan kesantriannya, justru karena ia membawa nilai santri itu ke dunia. Tawadhu, sabar, tawakal, dan kerja keras menjadi senjata rahasia yang tak terkalahkan di arena. Jadilah modern tanpa kebarat-baratan, mendunia tanpa kehilangan akar keislaman dan keindonesiaan kita.

Keempat, kolaborasi, bahwa tidak ada kesuksesan yang diraih sendirian dan egois. Di balik nama Tio Fawaz, ada pelatih yang sabar, ada kuda yang setia menemani latihan setiap hari. Ada rektor, dosen, orang tua, dan jutaan doa masyarakat NTB bahkan Indonesia yang tulus dan ikhlas mendoakan. Kesuksesan selalu kolektif, maka bangunlah lingkungan yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Kini pertanyaan paling penting, saya tujukan kepada negara dan pemerintah dengan serius dan kritis. Apa yang akan kita lakukan setelah tepuk tangan dan postingan viral ini selesai dan sepi kembali? Apakah prestasi ini hanya akan ramai tiga hari lalu hilang ditelan algoritma media sosial yang kejam? Atau negara akan hadir nyata dengan beasiswa S2-S3 untuk Tio, bangun pusat latihan internasional, dan program regenerasi yang jelas?

Untuk Tio Fawaz, tetaplah membumi, tetaplah merunduk dan rendah hati selalu dalam kemenangan. Emas dari Rusia itu bukan garis finish akhir, itu justru garis start baru yang lebih berat dan menantang. Mempertahankan gelar juara dunia jauh lebih sulit daripada sekadar merebutnya pertama kali di Rusia. Teruslah berlatih keras, karena mata dunia kini tertuju pada anak panah kebanggaanmu.

Selamat untuk Tio Fawaz dan IAI Nurul Hakim Lombok, kalian telah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Kampus bangga, Lombok Barat bangga, NTB bangga, dan Indonesia bangga atas prestasi emas bersejarah di kancah internasional Rusia. Dari pesantren sederhana di Kediri, engkau membuktikan kebenaran abadi bahwa tekad baja bisa menaklukkan dunia. Dan anak panahmu telah menembus langit Rusia, semoga ia juga menembus kesadaran anak muda Indonesia untuk terus berprestasi di ajang global. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *