Opini

Shalat Tarawih; Shalat Malam Penguat Iman

6
×

Shalat Tarawih; Shalat Malam Penguat Iman

Share this article
IMG 20260304 WA0001 1
Foto : Istimewa/GM

 

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”

 

PADA Sabtu 28 Februari 2026 Masjid Maslicha mengadakan rangkaian shalat tarawih dihadiri oleh ratusan jamaah. Pada momentum ini, kuliah tujuh menit atau kultum disampaikan oleh Bapak Drs. H. M. Subhi Ali. Pada kesempatan ini beliau menyampaikan materi berjudul “Tarawih; Sahalat Malam Penguat Iman”.

Mengawali ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah. “Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah sampai dengan detik ini, kita masih senantiasa bersama dengan bimbingan tauhid dan hidayah dalam kucuran karunia nikmat Iman, Islam serta nikmat sehat, sehingga di malam yang indah ini kita bisa bersama berada di rumah Allah yang sangat kita cintai dan yang indah ini, untuk sama-sama mendirikan malam Ramadan,” ungkapnya.

Menurut beliau, ibadah Ramadan yang kita laksanakan itu bukan sekadar menahan lapar dan haus, shaum bukan sekadar menahan lapar dan haus. Karena iru, bulan Ramadan kita harus mengisinya dengan full ibadah. Ini adalah bbulan yang amat agung, bulan yang amat mulia, bulan yang penuh dengan berkahdan bulan yang penuh dengan ampunan Allah. Kita harus mampu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Penceramah pun mengingatkan, tidak sedikit yang pada Ramadan lalu masih bertemu dengan kita, pada Ramadan tahun ini tidak bertemu lagi. Meeka sudah pulang bertemu ajal kematiannya. “Alhamdulillah kita masih senantiasa diberikan umur, diberikan sehat, dapat melaksanakan ibadah sahum dapat tadarus, dan ibadah-ibadah lain di bulan Ramadan. Mudah-mudahan seluruh ibadah kita di bulan ramadan, tadarus tarawih dan ibadah lainnya diterima Allah,” ungkapnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Baca Juga :  Pesan dan Komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk MUI dan Umat Islam Indonesia

Pesan hadits tersebut, kita dianjurkan untuk mendirikan shalat tarawih, yang kita tunaikan semata-mata dan penuh keikhlasan karena Allah. Bila kita menjalankan semuanya karena iman dan ikhlas mencari ridha dan pahala dari Allah, maka insyaa Allah segala dosa kita aka Allah ampuni.

“Kalau kita diampuni dosa-dosanya, berarti imam kita subur imam kita makmur, karena yang namanya iman itu, bertambah dan berkuang,” ujarnya.

Berkaitan dengan apa yang disampaikan penceramah tersebut, kita tentu ingat apa yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah, “Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat berkurang dan bertambah.” (Jami’ al-Masa’il)

Dalam penjelasan Kitab “At-Thohawiyah” karya Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi dijelaskan bahwa dalil tentang bertambah dan berkurangnya iman adalah al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat salaf yang sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah, “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS. al-Anfal: 2)
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. al-Mudatsir: 31)

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. al-Fath: 4)

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka, perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.’” (QS. Ali ‘Imran: 173)

Penceramah melanjutkan, jadikan iman itu selalu bertambah dan meningkat. Iman itu subur diantaranya dengan mendirikan shalat malam. Bila dalam Ramadan disebut shalat tarawih, sementara di luar Ramadan disebut shalat tahajud.

Baca Juga :  Eksistensi MUI: Refleksi dan Rekomendasi

Secara khusus, shalat tahajut adalah shalat sunah yang sangat dianjurkan. Ia dapat mengangkat derajat kita ke tingkat yang lebih tinggi.

“Kita harus terbiasa menjalankan shalat tahajut setelah Ramadan, supaya derajat kita diangkat ke level yang lebih tinggi. Bila iman kita meningkat maka ini salah satu tanda orang ahli surga, diampuni dosa-dosanya,” jelasnya.

Allah berirman, “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra’: 79)

Karena itu, jangan tengok kanan-kira, kita harus teguh pendirian, harus berangkat dan mengisi malam ramadan dengan tarawih sebulan penuh. Insya Allah tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan ramadan.

Iman itu bukan sekadar hiasan atau sekadar kata-kata “aku beriman”, tapi iman yang di dalam hati mesti dibuktikan dengan amal perbuatan.

Kita percaya bahwa Ramadan adalah bulan yang agung, karena itu mari mengisinya dengan amal nyata. Mari mengisi Ramadan ini dengan perbanyak sedekah, tarawih istiqomah, tadarus berbasis target, misalnya, pada Ramadan ini kita khatam sekali, dua kali dan seterusnya sesuai kemampuan masing-masing.

Membaca al-Quran akan berdampak pada pola sekaligus perilaku hidup kita di dunia, bahkan kelak di akhirat memberi syafa’at bagi kita. Karena itu, jadilah sahabat al-Qur’an, insyaa Allah ia memandu kehidupan kita di dunia dan kelak di akhirat ia menolong kita.

“Al-Qur’an adalah Kalamullah, ucapan-ucapan Allah, bukan sekadar bacaan. Setelah kita membaca, menghayati, dipelajari maknanya, tafsirnya. Kemudian kita tarawih. Hal itu membuat iman kita semakin meningkat,” tegasnya.

Membaca al-Qur’an adalah ibadah. Karena itu, jangan malas membacanya. Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an. Mudah mudahan kita selalu dalam tauhid kepada Allah berdasarkan bimbingan atau panduan al-Qur’an yang kita baca! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *